Showing posts sorted by relevance for query prinsip-proses-belajar-mengajar. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query prinsip-proses-belajar-mengajar. Sort by date Show all posts

Wednesday, 24 January 2018

Jadi Cerdik Prinsip Proses Mencar Ilmu Mengajar Pada Satuan Pendidikan


Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi akseptor didik untuk berpartisipasi aktif, serta menunjukkan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis akseptor didik.

Untuk itu setiap satuan pendidikan melaksanakan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta evaluasi proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.

Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi maka prinsip pembelajaran yang digunakan:

  1. dari akseptor didik diberi tahu menuju akseptor didik mencari tahu;
  2. dari guru sebagai satu-satunya sumber mencar ilmu menjadi mencar ilmu berbasisaneka sumber belajar;
  3. dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
  4. dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
  5. dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
  6. dari pembelajaran yang menekankan balasan tunggal menuju pembelajaran dengan balasan yang kebenarannya multi dimensi;
  7. dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
  8. peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
  9. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan akseptor didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
  10. pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan menyebarkan kreativitas akseptor didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
  11. pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat;
  12. pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja yaitu guru, siapa saja yaitu akseptor didik, dan di mana saja yaitu kelas;
  13. Pemanfaatan teknologi gosip dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
  14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya akseptor didik.

Terkait dengan prinsip di atas, dikembangkan standar proses yang meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, evaluasi hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.

Jadi Bakir Makna / Arti Dan 3 Prinsip Penting Dalam Proses Pembelajaran


Mengajar dalam konteks standar proses pendidikan bukan hanya sekedar memberikan materi pelajaran akan tetapi juga dimaknai sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar. Makna lain mengajar yang demikian sering diistilahkan dengan pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam proses mencar ilmu mengajar siswa harus dijadikan sebagai sentra dari kegiatan. Hal ini dimaksudkan untuk membentuk watak, peradaban, dan meningkatkan mutu kehidupan akseptor didik. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi akseptor didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Pemberdayaan diarahkan untuk mendorong pencapaian kompetensi dan sikap khusus supaya setiap individu bisa menjadi pebelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar.

Dalam implementasinya, walaupun istilah yang dipakai "pembelajaran", tidak berarti guru harus menghilangkan kiprahnya sebagai pengajar, alasannya ialah secara konseptual intinya dalam istilah mengajar itu juga bermakna membelajarkan siswa. Mengajar-belajar ialah dua istilah yang mempunyai satu makna yang tidak sanggup dipisahkan. Mengajar ialah suatu acara yang sanggup membuat siswa belajar. Keterkaitan antara mengajar dan mencar ilmu diistilahkan Dewey sebagai "menjual dan membeli" Teaching is to Learning as Selling is to Buying. Artinya, seseorang mustahil akan menjual manakala tidak ada orang yang membeli, yang berarti tidak akan ada perbuatan mengajar manakala tidak membuat seseorang belajar. Dengan demikian dalam istilah mengajar, juga terkandung proses mencar ilmu siswa. Inilah makna pembelajaran.

baca: model dan jenis pembelajaran

Dalam konteks pembelajaran, sama sekali tidak berarti memperbesar peranan siswa disatu pihak dan memperkecil peranan guru di pihak lain. Dalam istilah pembelajaran, guru tetap harus berperan secara optimal demikian juga halnya dengan siswa. Perbedaan dominasi dan acara di atas, hanya menerangkan kepada perbedaan tugas-tugas atau perlakuan guru dan siswa terhadap materi dan proses pembelajaran. Sebagai teladan saat guru memilih proses mencar ilmu mengajar dengan memakai metoda buzz group (diskusi kelompok kecil), yang lebih menekankan kepada acara siswa, maka tidak berarti kiprah guru semakin kecil. Ia akan tetap dituntut berperan secara optimal semoga proses pembelajaran dengan buzz group itu berlagsung dengan baik dan optimal. Demikian juga sebaliknya saat guru memakai pendekatan ekspositori (contohnya dengan ceramah) dalam pembelajaran, tidak berarti kiprah siswa menjadi semakin kecil. Mereka harus tetap berperan secara optimal dalam rangka menguasai dan memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Dari uraian tersebut, maka nampak terang bahwa istilah "pembelajaran" (instruction) itu memperlihatkan pada perjuangan siswa mempelajari materi pelajaran sebagai akhir perlakuan guru. Disini jelas, proses pembelajaran yang dilakukan siswa mustahil terjadi tanpa perlakuan guru. Yang membedakannya hanya terletak pada peranannya saja.

Bruce Weil, (1980) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran semacam ini.
Pertama, proses pembelajaran ialah membentuk kreasi lingkungan yang sanggup membentuk atau merubah struktur kognitif siswa. Tujuan pengaturan lingkungan ini dimaksudkan untuk menyediakan pengalaman mencar ilmu yang memberi latihan-latihan penggunaan fakta-fakta. Menurut Piaget, struktur kognitif akan tumbuh manakala siswa mempunyai pengalaman belajar. Oleh lantaran itu proses pembelajaran menuntut acara siswa secara penuh untuk mencari dan menemukan sendiri.

Kedua, bekerjasama dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari. Ada tiga tipe pengetahuan yang masing-masing memerlukan situasi yang berbeda dalam mempelajarinya. Pengetahuan tersebut ialah pengetahuan fisik, sosial dan logika. Pengetahuan fisis ialah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau insiden menyerupai bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Pengetahuan fisis diperoleh melalui pengalaman indra secara langsung. Misalkan anak memegang kain sutra yang terasa halus, atau memegang logam yang bersifat keras dan lain sebagainya. Dari tindakantindakan eksklusif itulah anak membentuk struktur kognitif perihal sutra dan logam.

Pengetahuan sosial bekerjasama dengan sikap individu dalam suatu sistem sosial atau korelasi antara insan yang sanggup mempengaruhi interaksi sosial. Contoh pengetahuan perihal aturan, hukum, moral, nilai, bahasa dan lain sebagainya. Pengetahuan perihal hal di atas, muncul dalam budaya tertentu sehingga sanggup berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain. Pengetahuan sosial tidak sanggup dibuat dari suatu tindakan seseorang terhadap suatu objek, tetapi dibuat dari interaksi seseorang dengan orang lain. Ketika anak melaksanakan interaksi dengan temannya, maka kesempatan untuk membangun pengetahuan sosial sanggup berkembang (Wadsworth, 1989)

Pengetahuan budi bekerjasama dengan berpikir matematis, yaitu pengetahuan yang dibuat menurut pengalaman dengan suatu objek dan insiden tertentu. Pengetahuan ini didapatkan dari abstraksi menurut koordinasi korelasi atau penggunaan objek. Pengetahuan logis hanya akan berkembang manakala anak bekerjasama dan bertindak dengan suatu objek, walaupun objek yang dipelajarinya tidak menawarkan isu atau tidak membuat pengetahuan matematis.

Pengetahuan ini diciptakan dan dibuat oleh pikiran individu itu sendiri, sedangkan objek yang dipelajarinya hanya bertindak sebagai media saja. Misalkan pengetahuan perihal bilangan, anak sanggup bermain dengan himpunan kelereng atau apa saja yang sanggup dikondisikan. Dalam konteks ini anak tidak mempelajari kelereng sebagai sumber pengetahuan, akan tetapi kelereng merupakan alat untuk memahami bilangan matematis. Jenis-jenis pengetahuan itu mempunyai karakteristik tersendiri, oleh lantaran itu pengalaman mencar ilmu yang harus dimiliki oleh siswa mestinya berbeda.

baca: cara meningkatkan motivasi mencar ilmu siswa

Ketiga, dalam proses pembelajaran harus melibatkan kiprah lingkungan sosial. Anak akan lebih baik mempelajari pengetahuan budi dan sosial dari temannya sendiri. Melalui pergaulan dan korelasi sosial, anak akan mencar ilmu lebih efektif dibandingkan dengan mencar ilmu yang menjauhkan dari korelasi sosial. Oleh karena, melalui korelasi sosial itulah anak berinteraksi dan berkomunikasi, membuatkan pengalaman dan lain sebagainya, yang memungkinkan mereka berkembang secara wajar.

Selama menjalani proses kehidupannya, dari mulai lahir hingga dengan final hayatnya insan tidak akan terlepas dari duduk kasus atau masalah. Selama kehidupannya insan mempunyai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut insan akan dihadapkan pada banyak sekali rintangan. Manakala ia berhasil mencapai rintangan itu, selanjutnya ia akan dihadapkan pada tujuan gres yang semakin berat, manakala ia berhasil mengatasi rintangan itu, maka segera akan muncul tujuan yang lain, demikianlah kehidupan manusia. Manusia yang berkualitas dan sukses, ialah insan yang bisa menembus setiap tantangan yang muncul. Dan insan gagal ialah insan yang tidak bisa mengatasi setiap kendala sehingga ia akan tergusur oleh perubahan zaman yang sangat cepat berubah.

Atas dasar uraian di atas, maka proses pembelajaran harus diarahkan semoga siswa bisa mengatasi setiap tantangan dan rintangan dalam kehidupan yang cepat berubah, melalui sejumlah kompetensi yang harus dimiliki, yang meliputi, kompetensi akademik, kompetensi okupasional, kompetensi kultural dan kompetensi temporal. Itulah sebabnya, makna mencar ilmu bukan hanya mendorong anak semoga bisa menguasai sejumlah materi pelajaran akan tetapi bagaimana semoga anak itu mempunyai sejumlah kompetensi untuk bisa menghadapi rintangan yang muncul sesuai dengan perubahan pola kehidupan masyarakat.

Sunday, 3 February 2019

Jadi Cerdik Bagaimana Cara Menyusun Rpp Yang Benar Dan Baik? Yuk Intip Disini


Bagaimana Cara Menyusun RPP Yang Benar dan Baik?. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yaitu planning yang menggambarkan mekanisme dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP merupakan persiapan yang harus dilakukan guru sebelum mengajar. Persiapan di sini sanggup diartikan persiapan tertulis maupun persiapan mental, situasi emosional yang ingin dibangun, lingkungan mencar ilmu yang produktif termasuk meyakinkan pembelajar untuk mau terlibat secara penuh. [Menurut Kunandar (2011: 263)]

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Rencana pembelajaran perlu dilakukan untuk mengkoordinasikan komponen-komponen pembelajaran, yakni: kompetensi dasar, bahan pokok, indikator, dan evaluasi berbasis kelas. [Menurut Wahyuni dan Ibrahim (2012: 69)]

RPP merupakan komponen penting dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang dalam pengembangannya harus dilakukan secara Profesional. Dari pendapat tersebut, sanggup disimpulkan bahwa RPP yaitu planning pembelajaran yang dibentuk oleh guru untuk memperkirakan tindakan dalam pembelajaran. [Menurut Mulyasa (2007: 212)]

A. Tujuan dan Fungsi RPP


Tujuan RPP berdasarkan Kunandar (2011: 264) yaitu untuk: (1) mempermudah, memperlancar dan meningkatkan hasil proses mencar ilmu mengajar; (2) dengan menyusun RPP secara profesional, sistematis dan berdaya guna, maka guru akan bisa melihat, mengamati, menganalisis, dan memprediksi acara pembelajaran sebagai kerangka kerja yang logis dan terencana.

Kunandar (2011: 264) menyampaikan bahwa fungsi RPP yaitu sebagai pola bagi guru untuk melaksanakan kegiatan mencar ilmu mengajar (kegiatan pembelajaran) biar lebih terarah dan berjalan secara efektif dan efisien. Dengan kata lain RPP berperan sebagai skenario proses pembelajaran. Oleh sebab itu, RPP hendaknya bersifat luwes (fleksibel) dan memberi kemungkinan bagi guru untuk menyesuaikannya dengan respons siswa dalam proses pembelajaran sesungguhnya.

B. Unsur-unsur yang Perlu Diperhatikan dalam Penyusunan RPP


Menurut Kunandar (2011: 265), unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPP adalah:

  1. mengacu pada kompetensi dan kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa, serta bahan dan submateri pembelajaran, pengalaman mencar ilmu yang telah dikembangkan di dalam silabus;
  2. menggunakan banyak sekali pendekatan yang sesuai dengan bahan yang memperlihatkan kecakapan hidup (life skill ) sesuai dengan permasalahan dan lingkungan sehari-hari;
  3. menggunakan metode dan media sesuai, yang mendekatkan siswa dengan pengalaman langsung;
  4. penilaian dengan sistem pengujian meny eluruh dan berkelanjutan didasarkan pada sistem pengujian yang dikembangkan selaras dengan pengembangan silabus.

C. Komponen-komponen RPP


Komponen-komponen RPP berdasarkan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 wacana Standar Proses yaitu sebagai berikut.

1) Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran meliputi; sa tuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran, jumlah pertemuan.

2) Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal penerima didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang dibutuhkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.

3) Kompetensi dasar
Kompetensi dasar yaitu sejumlah kemampuan yang harus dikuasai penerima didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai tumpuan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.

4) Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi yaitu sikap yang sanggup diukur dan/atau diobservasi untuk memperlihatkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi pola evaluasi mata pelajaran. Indikator pe ncapaian kompetensi dirumuskan dengan memakai kata kerja operasional yang sanggup diamati dan diukur, yang meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

5) Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil mencar ilmu yang dibutuhkan dicapai oleh penerima didik sesuai dengan kompetensi dasar.

6) Materi ajar
Materi latih memuat fakta, konsep, prinsip, dan mekanisme yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.

7) Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar.

8) Metode pembelajaran
Metode pembelajaran dipakai oleh guru untuk mewujudkan suasana mencar ilmu dan proses pembelajaran biar penerima didik mencapai kompetensi dasar suasana mencar ilmu dan proses pembelajaran biar penerima didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran diadaptasi dengan situasi dan kondisi penerima didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

9) Kegiatan pembelajaran

(1) Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditunjukkan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian penerima didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan pendahuluan, guru: menyiapkan penerima didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan bahan yang akan dipelajari, menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, dan memberikan bahan dan klarifikasi uraian kegiatan sesuai silabus.

(2) Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi penerima didik untuk berpartisipasi aktif, serta memperlihatkan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis pesert a didik. Kegiatan inti ini dilakukan secara sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Dalam kegiatan eksplorasi, guru: melibatkan penerima didik mencari informasi yang luas dan dalam wacana topik / tema materi yang akan dipelajari dengan mencar ilmu dari aneka sumber; memakai bermacam-macam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber mencar ilmu lain; memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara penerima didik dengan guru, lingkungan, dan sumber mencar ilmu lainnya; melibatkan penerima didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan memfasilitasi penerima didik melaksanakan percobaan di laboratorium, studio, dan lapangan.

Dalam kegiatan elaborasi, guru: membiasakan penerima didik membaca dan menulis yang bermacam-macam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; memfasilitasi penerima didik melalui derma tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan gres baik secara verbal dan tert ulis; memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menuntaskan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut; memfasilitasi penerima didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; memfasilitasi penerima didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar, memfasilitasi penerima didik menciptakan laporan eksplorasi yang dilakukan baik verbal maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; memfasilitasi penerima didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok; memfasilitasi penerima didik melaksanakan pameran, turnamen, ekspo serta produk yang dihasilkan; dan memfasilitasi pe serta didik melaksanakan kegiatan yang menumbuhkan pujian dan rasa percaya diri penerima didik.

Dalam kegiatan konfirmasi, guru memperlihatkan umpan balik faktual dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan penerima didik, memperlihatkan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan klarifikasi terperinci penerima didik melalui banyak sekali sumber; memfasilitasi penerima didik melaksanakan refleksi untuk memperoleh pengalaman mencar ilmu yang telah dilakukan; dan memfasilitasi penerima didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar.

(3) Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran yang sanggup dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, evaluasi dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut. Dalam kegiatan penutup, guru: bahu-membahu dengan penerima didik dan/atau sendiri menciptakan rangkuman/simpulan pelajaran; melaksanakan evaluasi dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram; dan memperlihatkan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, acara pengayaan, layanan konseling dan/atau memperlihatkan kiprah baik kiprah individual maupun kelompok sesuai dengan hasil mencar ilmu pe serta didik; dan memberikan planning pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

10) Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen evaluasi proses dan hasil mencar ilmu diadaptasi dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.

11) Sumber belajar
Penentuan sumber mencar ilmu didasark an pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta bahan ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

D. Prinsip-prinsip Penyusunan RPP


Prinsip-prinsip penyusunan RPP berdasarkan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 wacana Standar Proses yaitu sebagai berikut.

1) Memerhatikan perbedaan individu penerima didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khu sus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan penerima didik.

2) Mendorong partisipasi aktif penerima didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada penerima didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.

3) Mengembangakan budaya membaca dan menulis
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangakan kegemaran membaca, pemahaman bermacam-macam bacaan, dan berekspresi dalam banyak sekali bentuk tulisan.

4) Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
RPP memuat rancangan acara derma umpan balik positif, penguatan remedi dan pengayaan.

5) Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memerlihatkan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, bahan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, pencapaian kompetensi, dan sumber mencar ilmu dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pemb elajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

6) Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangakan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

E. Langkah-langkah Penyusunan RPP


Menurut Kunandar (2011: 271), langkah-langkah menyusun suatu RPP meliputi beberapa hal berikut.
1) Identitas mata pelajaran
Menuliskan nama mata pelajaran, kelas, semester, dan alokasi waktu (jam pertemuan).
2) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Menuliskan standar kompetensi dan kompetensi dasar sesuai standar isi.

3) Indikator
Pengembangan indikator dilakukan dengan beberapa pertimbangan berikut.
(1) Setiap KD dikembangakan menjadi beberapa indikator (lebih dari dua).
(2) Indikator memakai kata kerja operasional yang sanggup diukur dan/atau diobservasi.
(3) Tingkat kata kerja dalam indikator lebih rendah atau setara dengan kata kerja dalam KD maupun SK.
(4) Prinsip pengembangan indikator yaitu urgensi, kuntinuitas, relevansi, dan kontekstual.

(5) Keseluruhan indikator dalam satu KD merupakan kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten.

4) Materi Pembelajaran

Mencantumkan bahan pembelajaran dan melengkapi dengan uraian-uraiannya yang telah dikembangkan dala m silabus, pengalaman mencar ilmu yang bagaimana yang ingin diciptakan dalam proses pembelajaran yang didukung oleh uraian bahan untuk mencapai kompetensi tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan yaitu kemanfaatan, alokasi waktu, kesesuaian, ketetapan, situasi dan kondisi lingkungan masyarakat, kemampuan guru, tingkat perkembangan penerima didik, dan fasilitas.

5) Tujuan Pembelajaran
Dalam tujuan pembelajaran dijelaskan apa tujuan dari pembelajaran tersebut. Tujuan pembelajaran diambil dari indikator.

6) Strategi atau Skenario Pembelajaran

Strategi atau skenario pembelajaran yaitu taktik atau skenario apa dan bagaimana dalam memberikan bahan pembelajaran kepada siswa secara terarah, aktif, dan efektif, bermakna, dan menyenangkan. Strategi atau skenario pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh guru secara beruntun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penentuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi materi-materi yang memerlukan prasyarat tertentu.

7) Sarana dan Sumber Pembelajaran

Dalam proses mencar ilmu mengajar, sarana pembelajaran sangat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Yang dimaksud dengan sarana pembelajaran dalam uraian ini lebih ditekankan pada sarana dalam arti media/alat peraga. Sarana berfungsi memudahkan terjadinya proses pembelajaran. Sementara itu, sumber mencar ilmu yaitu segala sesuatu yang sanggup dijadikan sumber dalam proses mencar ilmu mengajar.

8) Penilaian dan Tindak Lanjut

Sistem evaluasi dan mekanisme yang dipakai untuk menilai pencapaian mencar ilmu siswa berdasarkan evaluasi ya ng telah dikembengkan selaras dengan pengembangan silabus. Penilaian merupakan serangakaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data wacana proses dan hasil mencar ilmu penerima didik yang dilakukan secara sist ematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Penilaian dilakukan dengan memakai tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, dan pe nilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan evaluasi diri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih evaluasi yaitu sebagai
berikut.
- Untuk mengatur pencapaian kompetensi penerima didik, yang dilakukan berdasarkan indikator
- Menggunakan pola kriteria
- Menggunakan sistem evaluasi berkelanjutan
- Hasil evaluasi dianalisis untuk memilih tindak lanjut
- Sesuai dengan pengalaman mencar ilmu yang ditempuh dalam kegiatan pembelajaran

Friday, 13 September 2019

Jadi Berilmu Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning


Pengertian Model Pembelajaran CTL. Menurut Trianto (2009:107), model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) ialah konsep mencar ilmu yang membantu guru mengaitkan antara bahan yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat korelasi antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari dengan melibatkan tujuh komponen pembelajaran kontekstual, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning),inkuiri ( inquiry), masyarakat mencar ilmu (learning community), pemodelan (modelling), dan penilaian autentik (autenthic assessment).

Sedangkan berdasarkan Rusman (2012:190), model pembelajaran CTL merupakan suatu model pembelajaran yang memperlihatkan akomodasi kegiatan mencar ilmu siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman mencar ilmu yang lebih bersifat nyata (terkait dengan kehidupan nyata) melalui keterlibatan kegiatan siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri.

Berdasarkan kedua pendapat diatas sanggup disimpulkan bahwa model pembelajaran CTL ialah suatu konsep mencar ilmu yang membantu guru untuk mengaitkan antara bahan yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa sehingga memperlihatkan akomodasi mencar ilmu siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman mencar ilmu yang lebih bersifat nyata melalui keterlibatan kegiatan siswa dengan melibatkan tujuh komponen pembelajaran kontekstual (kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian autentik).

Dengan demikian kiprah guru dalam hal ini ialah membantu siswa mencapai tujuannya dengan cara mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang gres bagi anggota kelas (siswa) (Riyanto, 2010:160)

Prinsip Model Pembelajaran CTL


Menurut Suprijono (2011:80), prinsip – prinsip dalam model pembelajaran CTL antara lain

  • Prinsip Saling Ketergantungan

Prinsip saling ketergantungan merumuskan bahwa kehidupan ini merupakan suatu sistem, lingkungan mencar ilmu merupakan sistem yang mengintegrasikan banyak sekali komponen pembelajaran dan komponen tersebut saling menghipnotis secara fungsional. Berdasarkan prinsip itu siswa harus berafiliasi menemukan persoalan, merancang rencana dan mencari pemecahan masalah.Sebab dengan berafiliasi akan membantu siswa mencapai keberhasilan, mengingat setiap siswa memiliki kemampuan berbeda dan unik.

  • Prinsip Diferensiasi

Prinsip diferensiasi merujuk pada entitas-entitas yang beraneka ragam dari realitas kehidupan disekitar siswa. Keanekaragaman tersebut mendorong berpikir kritis siswa untuk menemukan korelasi antara entitas-entitas yang bermacam-macam itu.

  • Prinsip Pengaturan Diri

Prinsip pengaturan diri mendorong pentingnya siswa mengeluarkan seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika siswa menghubungkan bahan akademik dengan konteks keadaan pribadi mereka, siswa terlibat dalam kegiatan yang mengandung prinsip pengaturan diri,siswa mendapatkan tanggung jawab atas keputusan dan sikap mereka sendiri, menentukan alternatif, membuat ,mengembangkan, informasi, dan secara kritis menilai bukti.

Komponen – Komponen Model Pembelajaran CTL


Menurut Riyanto (2010:169), model pembelajaran CTL terdiri dari tujuh komponen yaitu :

  • Konstruktivisme (constructivism)

Konstruktivisme ialah proses membangun atau menyusun pengetahuan gres dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman (sanjaya, 2011:264). Oleh alasannya ialah itu, siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan permasalahan, menemukan sesuatu yang berkhasiat bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Sehingga dalam dalam proses pembelajaran, siswa sanggup membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses mencar ilmu dan mengajar.

  • Menemukan (inquiry)

Dalam pembelajaran kontekstual pengetahuan dan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Langkah – langkah kegiatan menemukan yaitu merumuskan masalah, mengamati atau melaksanakan observasi, menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, tabel, atau karya lainnya dan mengomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, sahabat sekelas guru, atau audiensi yang lain.

  • Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya. Oleh alasannya ialah itu, dalam proses pembelajaran bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa bertanya merupakan penggalan penting dalam melaksanakan pembelajaran.

  • Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep learning community menyarankan biar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil mencar ilmu diperoleh dari sharing antar teman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat mencar ilmu bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah antara dua kelompok atau lebih. Kelompok yang terlibat dalam masyarakat mencar ilmu memberi warta yang diharapkan oleh sahabat bicaranya dan sekaligus meminta warta yang diharapkan dari sahabat belajarnya.

  • Pemodelan (Modelling)

Dalam sebuah pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, teladan karya tulis, cara melafalkan, atau guru memperlihatkan teladan cara mengejakan sesuatu.

  • Refleksi (Reflection)

Refleksi ialah cara berpikir wacana apa yang gres dipelajari atau berpikir ke belakang wacana apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu.
  • Penilaian Sebenarya (Authentic Assessment)

Assessment ialah proses penyampaian banyak sekali data yang memperlihatkan citra perkembangan mencar ilmu siswa. Gambaran wacana perkembangan mencar ilmu diharapkan sepanjang proses pembelajaran, sehingga assessment tidak dilakukan di simpulan periode pembelajaran menyerupai pada kegiatan penilaian hasil mencar ilmu tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran serta data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dilakukan siswa pada ketika proses pembelajaran.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran CTL


Menurut Putra (2013:257) langkah – langkah model pembelajaran CTL yakni:

  1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan mencar ilmu lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri serta mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegitan inkuiri untuk semua topik.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
  4. Ciptakan masyarakat belajar. Hadirkan model sebagai teladan pembelajaran.
  5. Lakukan refleksi di simpulan pertemuan.
  6. Lakukan penilaian yang bekerjsama (anthentic assessment) dengan banyak sekali cara.

Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran CTL


Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Demikian pula dengan model pembelajaran CTL.

  • Kelebihan Model Pembelajaran CTL

Menurut Putra (2013:259) kelebihan model pembelajaran CTL yaitu:

  1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut sanggup menangkap korelasi antara pengalaman mencar ilmu disekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting alasannya ialah dengan mengorelasikan bahan yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa bahan itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi bahan yang dipelajarinya akan tertanam akrab dalam memorinya, sehingga tidak gampang dilupakan.
  2. Pembelajaran lebih produktif dan bisa menumbuhkan penguatan konsep pada siswa, alasannya ialah pembelajaran kontekstual menganut aliran konstruktivisme, yakni siswa dituntut menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis Konstruktivisme siswa diharapkan mencar ilmu melalui “mengalami” bukan “menghafal”.
  3. CTL ialah model pembelajaran yang menekankan pada kegiatan siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
  4. Kelas dalam pembelajaran kontekstual bukan sebagai daerah untuk memperoleh informasi, tetapi sebagai daerah untu menguji data hasil temuan di lapangan.
  5. Materi pelajaran sanggup ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil derma guru.
  • Kelemahan Model Pembelajaran CTL

Menurut Putra (2013:259) kelemahan model pembelajaran CTL yaitu:

  1. Diperlukan waktu yang cukup usang ketika proses pembelajaran CTL berlangsung.
  2. Jika guru tidak sanggup mengendalikan kelas, maka membuat suasana kelas yang kurang kondusif.
  3. Guru lebih intensif dalam membimbing. Sebab, dalam model CTL, guru tidak lagi berperan sebagai sentra informasi. Tugas guru ialah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang berafiliasi untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.
  4. Guru memperlihatkan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide serta mengajak siswa biar memakai strateginya sendiri dalam belajar. Namun, dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa biar tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diterapkan semula.
  • Upaya Mengatasi Kelemahan Model Pembelajaran CTL

Menurut penulis, upaya untuk mengatasi kelemahan model pembelajaran CTL yaitu:

  1. Rencanakan proses pembelajaran CTL dengan baik, biar tujuan pembelajaran bisa tercapai dan waktu yang disediakan bisa dimaksimalkan.
  2. Guru harus bersikap tegas untuk membuat suasana yang aman dalam melaksanakan proses pembelajaran CTL.
  3. Dalam pembentukan tim/kelompok, bentuk kelompok hidrogen(pandai, kurang pandai, cepat dan lambat memberi tanggapan).
  4. Upayakan siswa sudah mengerti bahan yang sedang dipelajari dan paham akan langkah model CTL yang diterapkan.

Referensi/Pustaka :
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung : Alfabeta.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning dan Aplikasi Paikem. Surabaya : Pustaka Pelajar.
Trianto. 2007. Model - Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Tuesday, 1 October 2019

Jadi Pintar Perbandingan Taktik Think-Talk-Write Dengan Ekspositori


Saat ini pemerintah sedang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. KTSP merupakan kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi. Sanjaya, (2008 : 127) menyatakan bahwa tujuan KTSP disini ialah meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif dalam berbagi kurikulum, mengelola dan berbagi sumber daya yang tesedia.

Perubahan KTSP membawa perubahan dalam pembelajaran di kelas. Dalam KTSP proses pembelajaran lebih menekankan pada keaktifan siswa dibandingkan dengan tugas guru. Guru lebih berperan sebagai fasilitator, motivator dan dinamisator, sehingga dalam setiap proses pembelajaran guru diharapkan sanggup membuat pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, yang akan bermuara pada peningkatan prestasi mencar ilmu peserta didik. Menurut Mulyasa, (2007 : 39), terutama prestasi pada pelajaran matematika yang membutuhkan pemikiran yang kuat dalam pemahamannya.

Belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang terjadi pada setiap orang. Proses mencar ilmu biasanya ditandai dengan adanya perubahan tingkah laris pada diri orang itu. Belajar sanggup dilakukan dimana saja dan kapan saja, proses mencar ilmu yang diselenggarakan secara formal biasanya dilakukan disekolah. Di sekolah interaksi antara guru, siswa dan lingkungan sekolah juga sanggup menentukan keberhasilan dalam proses belajar.

Itulah sebabnya kegiatan guru dalam proses pembelajaran harus sanggup membuat proses mencar ilmu mengajar yang berdaya guna, salah satunya ialah kegiatan dalam merencanakan proses mencar ilmu mengajar ibarat menetapkan metode yang sempurna dalam proses mencar ilmu mengajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Dimyati dan Moejiono (1994:3) yang menyampaikan bahwa metode mengajar ialah alat untuk mencapai tujuan. Hal ini tidak lepas dari pentingnya seorang guru sebagai tenaga pendidik dalam menentukan metode mengajar yang sesuai dan penggunaannya harus diubahsuaikan dengan materi yang akan disampaikan, sehingga penggunaannya sanggup dikatakan efektif dan efisien dalam upaya tercapainya tujuan pembelajaran.

Matematika sebagai salah satu pembelajaran yang dianggap sulit bagi sebagian siswa. Kesulitan ini tidak hanya pada materi yang diterima siswa tetapi mungkin penggunaan metode mengajar yang kurang tepat. Untuk itu guru dalam mengajar matematika dituntut untuk memakai metode yang dirasa sempurna atau sesuai. Di samping itu keterlibatan siswa secara aktif dalam berfikir atau kemampuan memecahkan problem yang merupakan tujuan dari pembelajaran.

Keberhasilan proses mencar ilmu mengajar sangat ditentukan oleh taktik pembelajaran yang dipilih oleh seorang guru. Oleh alasannya itu, seorang guru harus menguasai banyak sekali taktik pembelajaran dengan baik. Motif dan gairah mencar ilmu pada peserta didik harus selalu sanggup dibangkitkan, dipupuk dan dikembangkan. Sehingga, dalam mencar ilmu peserta didik tidak jenuh dan sanggup mencicipi pentingnya materi yang disampaikan.

Banyak faktor yang menghipnotis keberhasilan dalam proses mencar ilmu mengajar matematika. Di antaranya ialah tujuan, materi pelajaran, taktik pembelajaran, metode pembelajaran, media dan penilaian (Sanjaya, 2006: 58). Dari beberapa komponen tersebut, ada satu komponen yang sangat menentukan dalam proses mencar ilmu mengajar yaitu metode atau taktik pembelajaran.

Penggunaan taktik yang baik dan benar akan besar lengan berkuasa baik terhadap proses mencar ilmu mengajar dan kemampuan peserta didik dalam memahami mata pelajaran khususnya matematika sehingga memungkinkan tercapainya prestasi mencar ilmu yang gemilang bagi pesereta didik.

Salah satu taktik penbelajaran yang dipakai di sekolah ialah taktik pembelajaran Think-Talk-Write (TTW). Strategi pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) mengajak siswa dalam acara berpikir, berbicara, dan menuliskan materi yang ia pelajari dengan bahasa yang ia konstruk sendiri. Aktivitas berpikir sanggup dilihat dari kegiatan membaca. Wiederhold (dalam Yamin dan Antasari, 2009: 84) menyatakan bahwa kemampuan membaca, dan membaca secara komprehensif (reading comprehension) secara umum dianggap berpikir, mencakup membaca baris-demi baris (reading the lines) atau membaca yang penting saja (reading between the lines). Fase berkomunikasi (talk) pada taktik ini memungkinkan siswa untuk terampil berbicara. Dan fase yang terakhir yakni ”write”, siswa menuliskan hasil dari bacaan dan diskusi sebelumnya. Aktivitas menulis berarti mengkonstruksi ide, lantaran sehabis berdiskusi atau berdialog antar teman dan kemudian mengungkapkannya melalui goresan pena (Yamin dan Antasari, 2009: 84).

Selain TTW, taktik pembelajaran yang biasa dilakukan oleh ialah taktik ekspositori. Strategi pembelajaran ekspositori ialah taktik pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud biar siswa sanggup menguasai materi pelajaran secara optimal (Sanjaya, 2009:179). Keunggulan dalam pembelajaran ekspositori guru sanggup mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, pembelajaran ini juga dianggap paling efektif apabila materi yang harus dikuasai cukup luas, dalam pembelajaran ini siswa selain sanggup mendengar melalui penutur ihwal materi juga sekaligus sanggup melihat/observasi dan taktik pembelajaran ekspositori sanggup dipakai dalam jumlah siswa besar dan ukuran kelas besar.
Dalam mata pelajaran Matematika, pokok bahasan faktorisasi bentuk aljabar merupakan bahasan terapan yang sangat bermanfaat dalam mengolah dan menyajikan suatu isu atau data. Penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari menarik untuk diperluas lagi dengan memahamkan kepada siswa. Siswa sanggup mengaitkannya dengan kehidupan mereka di dalam maupun di luar kelas, sehingga taktik Think-Talk-Write (TTW) sanggup diterapkan dalam pokok bahasan ini.

Dalam taktik think-talk-write (TTW) tidak hanya berbagi kemampuan matematik anak tetapi juga kemampuan komunikasi baik verbal maupun tulisan. Strategi ini menempatkan siswa lebih banyak mencar ilmu sendiri, berbagi kekreatifan dalam memecahkan masalah, siswa betul-betul ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Tugas guru ialah menentukan problem yang perlu dilontarkan kepada siswa untuk dipecahkan. Tugas berikutnya dari guru ialah membimbing mencar ilmu siswa dalam rangka pemecahan masalah.
Berikut ini akan diberikan citra ihwal proses pelaksanaan pembelajaran matematika dengan memakai taktik think-talk-write (TTW) pada sub materi pokok garis singgung komplotan dua bulat yang terdiri dari garis singgung komplotan dalam dua bulat dan garis singgung komplotan luar dua lingkaran.

A. Pendahuluan - Menyiapkan problem yang akan dipecahkan oleh siswa

  • Guru : Pada kegiatan ini guru mengingatkan siswa ihwal materi pelajaran sebelumnya (membahas PR), memotivasi siswa, memberikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan taktik yang akan digunakan, menyiapkan setting kelas dan alat-alat yang dibutuhkan serta membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan heterogen, serta membagikan Lembar Kerja Siswa(LKS) yang akan dipecahkan siswa ihwal garis singgung komplotan dalam dua bulat dan garis singgung komplotan luar dua lingkaran.
  • Siswa : Pada kegiatan ini siswa menjawab pertanyaan guru terkait materi pelajaran sebelumnya, mengamati dan memperhatikan isu atau klarifikasi yang disampaikan oleh guru kemudian berkumpul dengan kelompok sesuai dengan pembagian guru.

B. Kegiatan Inti
Tahap I : Tahap Berpikir (Think)

  • Guru : Pada tahap ini guru menawarkan waktu kepada siswa dalam kelompok untuk membaca acuan dan membuat catatan terkait materi garis singgung komplotan dalam dua bulat dan garis singgung komplotan luar dua bulat serta penyelesaian problem dalam Lomba Kompetensi Siswa yang telah dibagikan.
  • Siswa :Siswa membaca acuan dan membuat catatan terkait dengan materi garis singgung komplotan dalam dua bulat dan garis singgung komplotan luar dua bulat serta menuntaskan problem dalam Lomba Kompetensi Siswa secara berkelompok.

Tahap II : Tahap Berbicara (Talk)

  • Guru : Pada tahap ini guru mengkondisikan kelas untuk setting diskusi baik dalam kelompok dan diskusi antar kelompok, guru menjadi moderator merangkap motivator yang mengatur jalannya diskusi antar kelompok untuk membahas hasil bacaan dan catatan pada tahap sebelumnya serta penyelesaian problem yang ada pada LKS.
  • Siswa : Siswa berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman untuk membahas hasil bacaan dan catatan ihwal materi garis singgung komplotan dalam dua bulat dan garis singgung komplotan luar dua bulat serta mencari penyelesaian permasalahan yang ada di LKS.

Tahap III : Tahap Menulis (Write)

  • Guru : Pada tahap ini guru menawarkan waktu kepada siswa untuk menuliskan materi kembali dan solusi dari permasalahan yang ada di Lomba Kompetensi Siswa sesuai dengan bahasa sendiri secara individual.
  • Siswa : Siswa menulis materi kembali dan solusi dari permasalahan yang ada di Lomba Kompetensi Siswa sesuai dengan bahasa sendiri.

C. Penutup

  • Guru : Pada kegiatan ini guru menawarkan PR dan mengakhiri pelajaran
  • Siswa : Pada kegiatan ini siswa mencatat PR, Berbeda jikalau dibandingkan dengan taktik pembelajaran ekspositori, pada taktik ini proses pembelajaran ditekankan pada komunikasi verbal. Dalam taktik ini guru mempresentasikan materi pelajaran. Siswa mendapat materi jadi bukan dikonstruksi sendiri.

Dalam pembelajaran Matematika Materi Pokok Garis singgung Lingkaran yang dilaksanakan dengan taktik Ekspositori kita sanggup menerapkannya dengan beberapa langkah:

1. Persiapan (Preparation)

  • Guru : Pada kegiatan ini guru mengingatkan siswa ihwal materi pelajaran sebelumnya (membahas PR), memotivasi siswa, serta memberikan tujuan pembelajaran.
  • Siswa : Pada kegiatan ini siswa menjawab pertanyaan guru terkait materi pelajaran sebelumnya, mengamati dan memperhatikan isu atau klarifikasi yang disampaikan oleh guru.

2. Kegiatan Inti
Tahap Penyajian (Presentation)
  • Guru : Guru menawarkan klarifikasi ihwal garis singgung komplotan dalam dua bulat dan garis singgung komplotan luar dua lingkaran.
  • Siswa : Siswa mendengarkan klarifikasi guru ihwal garis singgung komplotan dalam dua bulat dan garis singgung komplotan luar dua lingkaran.

Tahap Menghubungkan (Correlation)

  • Guru : Guru mengaitkan materi garis singgung komplotan dalam dua bulat dan garis singgung komplotan luar dua bulat dengan kehidupan siswa.
  • Siswa : Siswa mendengarkan klarifikasi guru dan menanyakan hal yang tidak dimengerti.

Tahap Menyimpulkan (Generalization)

  • Guru : Pada tahap ini guru menyimpulkan materi dengan menawarkan poin penting dari garis singgung komplotan dalam dua bulat dan garis singgung komplotan luar dua lingkaran
  • Siswa : Siswa mendengarkan klarifikasi guru dan menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti.

Tahap Penerapan (Application)

  • Guru : Guru menawarkan soal terkait materi garis singgung komplotan dua bulat serta menawarkan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan sendiri kemudian dibahas secara klasikal.
  • Siswa : Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru kemudian secara bergantikan membahas soal ke depan kelas.

3. Penutup

  • Guru : Pada kegiatan ini guru menawarkan PR dan mengakhiri pelajaran
  • Siswa : Pada kegiatan ini siswa mencatat PR

Perbandingan Strategi TTW dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori

NoThink-Talk-WriteEkspositori
1.Peserta didik berperan aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari tahap berpikir, berbicara, dan menulisPeserta didik berperan pasif sebagai peserta informasi
2.Prinsip komunikasi verbal diterapkan oleh siswa selaku penyampai pesanPrinsip komunikasi verbal diterapkan guru selaku penyampai pesan
3.Pengetahuan dibangun oleh konstruksi siswa dari hasil bacaan, diskusi, dan tulisanPengetahuan didapat dari guru tanpa konstruksi siswa
4.Kemampuan didasarkan atas hasil bacaan, diskusi, dan tulisanKemampuan diperoleh melalui latihan
5.Tujuan tamat pembelajaran ialah kemampuan pemahaman dan komunikasi matematik siswaTujuan tamat pembelajaran ialah penguasaan materi pelajaran
6.Keberhasilan pembelajaran dilihat mulai dari proses dan hasil mencar ilmu (tes)Keberhasilan pembelajaran dilihat hanya dari hasil tes
7.Interaksi secara umum dikuasai antar siswaInteraksi secara umum dikuasai antara siswa dengan guru

Atas dasar pembahasan komparatif konsepsional (teoritis) diatas maka sanggup peneliti tegaskan bahwa taktik pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) lebih baik dalam memotivasi siswa dalam pembelajaran dibandingkan taktik pembelajaran Ekspositori.

Referensi :
Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI). Jakarta: Rineka Cipta 2006
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta 2010

Monday, 14 October 2019

Jadi Cendekia Skripsi Metode Guide Note Taking Dan Prediction Guide


Contoh skripsi tantang "metode guide note taking dan prediction guide pada pokok bahasan lingkaran" Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

1. Pengertian Pembelajaran Matematika
Pembelajaran ialah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam mencar ilmu bagaimana mencar ilmu memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap. pembelajaran matematika ialah suatu proses yang diselengarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa guna memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan matematika (Junaidi, 2010: 1).

Pembelajaran ialah upaya untuk membuat iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat dan kebutuhan penerima didik yang bermacam-macam semoga terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa lain. Trianto (2009: 15) menyebutkan bahwa pembelajaran ialah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa bagaimana mencar ilmu memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap. Proses pembelajaran terjadi apabila ada interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa lain. Dengan melaksanakan pembelajaran siswa diperlukan sanggup mengalami perubahan tingkah laris contohnya dari tidak bisa menjadi bisa bahkan sanggup menambah pengetahuan bernalarnya dan kemampuan berpikir kritis.

Matematika mempunyai ciri-ciri penting yaitu mempunyai objek yang abnormal dan mempunyai contoh pikir yang deduktif maksudnya kebenaran suatu konsep matematika atau pernyataan yang diperoleh sebagai jawaban logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antara konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. hakekat matematika ialah ide, struktur dan korelasi yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prisip dan keterampilan.

Pembelajaran matematika di sekolah diadaptasi dengan kekhasan dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan berpikir siswa. Pembelajaran matematika di sekolah mencakup 3 aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. Pengukuran ketiga aspek ini dilakukan secara serempak, terus menerus dan berkesinambungan sehingga siswa menguasai konsep dasar. Hal ini merupakan kiprah dari seorang guru.

Dari uraian-uraian di atas maka, pembelajaran matematika ialah proses interaksi guru dengan siswa serta siswa dengan siswa lain untuk memperoleh dan memperoses pengetahuan, keterampilan dan sikap sehingga sanggup mengalami perubahan sikap dan tingkah laris demi tercapainya hasil mencar ilmu matematika sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

2. Pengertian Hasil Belajar
Hasil Belajar ialah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan (Suprijono, 2012: 5). Menurut pemikiran Gagne (Suprijono,2012: 5), hasil mencar ilmu adalah:

  1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik verbal maupun tertulis. Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsanngan spesifik.
  2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang atau kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan berbagi prinsip-prinsip keilmuan.
  3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan kegiatan kognitifnya sendiri atau kemampuan yang mencakup penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
  4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melaksanakan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
  5. Sikap ialah kemampuan mendapatkan atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut atau kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai sebagai standart perilaku.

Menurut Bloom (Suprijono, 2012: 6), hasil mencar ilmu ialah kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif ialah pengetahuan, pemahaman, menerapkan, menguraikan, merencanakan dan menilai. Afektif ialah sikap menerima, memperlihatkan respons, nilai, organisasi dan karakterisasi. Psikomotor ialah keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial dan intelektual.

Sementara berdasarkan lindgren (Suprijono, 2012: 7). hasil pembelajaran mencakup kecakapan, informasi, pengertian dan sikap. Jadi, hasil mencar ilmu ialah perubahan sikap secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusian saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan sebagaimana diatas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan komprensif.

3. Tujuan Pembelajaran Matematika
Tujuan pembelajaran matematika ialah terbentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistimatis dan mempunyai sifat obyektif, jujur, disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari (Junaidi, 2010: 1).

Sedangkan tujuan mata pelajaran matematika menyerupai yang tertuang dalam Standar Isi (SI) Mata Pelajaran Matematika untuk semua satuan pendidikan Dasar dan Menengah adalah:

  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan sempurna dalam pemecahan masalah.
  2. Menggunakan budi sehat pada contoh dan sifat, melaksanakan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
  3. Memecahkan problem yang mencakup kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menuntaskan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
  4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. (Wardhani, 2008: 8)

4. Komponen Pembelajaran Matematika
Proses mencar ilmu mengajar matematika yang lebih dikenal dengan istilah pembelajaran matematika merupakan suatu sistem kerja yang terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait satu dengan lainnya sehingga tujuan tercapai.

Adapun proses pembelajaran matematika mengandung sejumlah komponen yang meliputi: 1) tujuan, 2) materi pelajaran, 3) kegiatan mencar ilmu mengajar, 4) metode, 5) alat dan sumber, serta 6) penilaian (Djamarah & Zain, 2010: 41)

Penjelasan dari setiap komponen tersebut adalah:
a. Tujuan
Tujuan ialah suatu harapan yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan dalam hal ini ialah tujuan pembelajaran matematika. Tujuan pembelajaran ini ialah komponen yang sanggup menghipnotis komponen pembelajaran lainnya.

b. Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran ialah substansi yang akan disampaikan dalam proses mencar ilmu mengajar. Tanpa materi pelajaran proses pembelajaran tidak akan berjalan. Bahan pelajaran ini terdiri dari materi pelajaran pokok dan materi pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok ialah materi pelajaran yang menyangkut bidang studi atau mata pelajaran yang dipegang oleh guru sesuai dengan disiplin keilmuaannya. Dalam hal ini ialah materi pelajaran matematika. Sedangkan materi pelajaran komplemen ialah wawasan keilmuwan yang menunjang penyampaian materi pelajaran pokok.

c. Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan mencar ilmu mengajar ialah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini akan melibatkan semua komponen pengajaran. Selain itu, proses pembelajaran akan memilih sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan sanggup tercapai.

d. Metode
Metode ialah suatu cara yang diperguanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses pembelajaran, metode dieperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai sehabis proses pembelajaran selesai.

e. Alat
Alat ialah segala sesuatu yang sanggup dipakai dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang sanggup dipakai dalam mencapai tujuan pembelajaran, alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah perjuangan mencapai tujuan, dan alat sebagai tujuan.

f. Sumber Pelajaran
Sumber pelajaran ialah sesuatu yang sanggup dipergunakan sebagai kawasan di mana materi pelajaran berada atau asal untuk mencar ilmu seseorang. Dengan demikian sumber pelajaran itu merupakan materi atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal gres bagi pebelajar.

g. Evaluasi
Evaluasi ialah suatu tindakan atau suatu proses memilih nilai dari sesuatu dalam hal ini ialah hasil mencar ilmu siswa sehabis proses pembelajaran.

Skripsi Metode Guide Note Taking dan Prediction Guide

Catatan: File ini semata-mata saya dapatkan dari teman-teman kuliah, Jika anda merasa pemilik file ini, silahkan hubungi kami melalui kontak yang tersedia!!!

Thursday, 12 September 2019

Jadi Pintar Taktik Dan Prinsip Berguru Anak Ra Tk Paud


Belajar yakni proses perubahan sikap menurut pengalaman dan latihan.Bermain sebagai salah satu cara berguru anak mempunyai ciri-ciri simbolik, bermakna, aktif, menyenangkan, suka rela, ditentukan oleh aturan, dan episodik.

Lingkungan yang diciptakan secara aman akan mengundang anak untuk berguru secara alamiah tanpa paksaan sehingga apa yang dipelajari anak dari lingkungannya yakni hal-hal yang benar-benar bermakna, fungsional, menarik dan bersifat menyeluruh. Prinsip-prinsip berguru merupakan suatu ketentuan yang harus dilakukan anak dikala ia belajar, yaitu :

  1. Anak yakni pebelajar aktif. Ketika bergerak anak mencari stimulasi yang sanggup meningkatkan kesempatan untuk belajar. Anak memakai seluruh tubuhnya sebagai alat untuk belajar. Anak secara energik mencari cara untuk menghasilkan potensi maksimum.
  2. Belajar anak dipengaruhi kematangan. Guru harus memahami bagaimana kematangan anak sanggup dicapai dan apa yang perlu dilakukan untuk memfasilitasi matangan tersebut.
  3. Belajar anak dipengaruhi oleh lingkungan. Tidak hanya lingkungan fisik tetapi juga lingkungan belajar.
  4. Anak berguru melalui kombinasi lingkungan fisik, sosial dan refleksi. Tugas guru bagaimana menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak memperoleh pengalaman fisik, sosial dan bisa merefleksikannya.
  5. Anak berguru dengan gaya yang berbeda. Ada yang tipe visual, tipe auditif dan tipe kinestetik.
  6. Anak berguru melalui bermain. Melalui bermain anak sanggup memahami membuat memanipulasi simbol-simbol dan mentransformasi objek-objek tersebut

Variabel Strategi Pembelajaran


  1. Tujuan; Karakteristik tujuan perlu dipertimbangkan dalam menentukan dan memakai seni administrasi pembelajran, apakah berkaitan dengan, pengembangan kognitif, bahasa, sosial emosi, fisik, moral agama, motorik.
  2. Tema; tema pembelajaran di TK, mencakup 20 tema, masing-masing tema mempunyai karakteristik tersendiri. Dalam menentukan dan memakai seni administrasi pembelajaran karakteristik tema merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan.
  3. Kegiatan; Kegiatan perlu pula dipertimbangakan sebab berguru di Taman Kanak-kanak tidak hanya dilaksanakan di dalam kelas tetapi juga ada kegiatan berguru di luar kelas.
  4. Anak; Anak perlu dipertimbangkan, sebab anak memilki karakteristik dalam perkembangan dan belajarnya anak itu unik dan memilki potensi untuk belajar.
  5. Media dan Sumber belajar. Media dan sumber berguru yang dipilih harus sanggup mendukung terlaksananya proses berguru yang efektif dan relevan dengan seni administrasi pembelajaran yang dipilih guru.
  6. Guru; guru merupakan faktor penentu dalam keberhasilan berguru anak. Kepiawaian guru dalam menentukan dan memakai seni administrasi pembelajaran merupakan faktor yang sangat besar lengan berkuasa terhadap keberhasilan berguru anak.

Pengertian dan Kriteria Pemilihan Strategi Pembelajaran


  1. Strategi pembelajaran yakni contoh umum perbuatan guru dan murid dalam mewujudkan kegiatan berguru mengajar.
  2. Strategi pembelajaran yakni segala perjuangan guru untuk menerapkan banyak sekali metode pembelajaran dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
  3. Dengan demikian seni administrasi pembelajaran menekankan kepada bagaimana acara guru mengajar dan acara anak belajar.

Terdapat beberapa kriteria yang harus menjadi pertimbangan guru dalam menentukan seni administrasi pembelajaran, yaitu:

  1. karakteristik tujuan pembelajaran apakah untuk pengembangan aspek kognitif, aspek afektif atau psikomotor. Atau apakah pembelajaran itu bertujuan untuk menyebarkan domain fisik-motorik, kognitif, sosial emosi, bahasa, dan estetika;
  2. karakteristik anak sebagai penerima didik baik usianya maupun kemampuannya;
  3. karakteristik daerah yang akan dipakai untuk kegiatan pembelajaran apakah di luar atau di dalam ruangan;
  4. karakteristik tema atau materi didik yang akan disajikan kepada anak; dan
  5. karakteristik contoh kegiatan yang akan dipakai apakah melalui pengarahan langsung, semi kreatif atau kreatif.

Semua kriteria ini menawarkan implikasi bagi guru untuk menentukan stratgei pembelajaran yang paling sempurna dipakai di Taman Kanak-kanak /RA

Karakteristik Cara Belajar Anak


Anak berguru dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa. Beberapa karakteristik cara berguru anak itu antara lain :

  1. anak belajar melalui bermain;
  2. anak berguru dengan cara membangun pengetahuannya;
  3. anak berguru secara alamiah, dan
  4. anak berguru paling baik kalau yang dipelajarinya menyeluruh, bermakna, menarik, dan fungsional.

Tuesday, 1 October 2019

Jadi Akil Kajian Teoritis Pembelajaran Matematika Dan Hasil Belajar


Pengertian Pembelajaran Matematika: Pembelajaran yakni upaya untuk membuat iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat dan kebutuhan akseptor didik yang bermacam-macam biar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa lain. Trianto (2009: 15) menyebutkan bahwa pembelajaran yakni proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa bagaimana berguru memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan melaksanakan pembelajaran siswa diharapkan sanggup mengalami perubahan tingkah laris contohnya dari tidak bisa menjadi bisa bahkan sanggup menambah pengetahuan bernalarnya dan kemampuan berpikir kritis.

Matematika mempunyai ciri-ciri penting yaitu mempunyai objek yang ajaib dan mempunyai referensi pikir yang deduktif maksudnya kebenaran suatu konsep matematika atau pernyataan yang diperoleh sebagai akhir logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antara konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. hakekat matematika yakni ide, struktur dan relasi yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prisip dan keterampilan.
Pembelajaran matematika di sekolah diubahsuaikan dengan kekhasan dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan berpikir siswa. Pembelajaran matematika di sekolah mencakup 3 aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. Pengukuran ketiga aspek ini dilakukan secara serempak, terus menerus dan berkesinambungan sehingga siswa menguasai konsep dasar.

Dari uraian-uraian di atas maka, pembelajaran matematika yakni proses interaksi guru dengan siswa serta siswa dengan siswa lain untuk memperoleh dan memperoses pengetahuan, keterampilan dan sikap sehingga sanggup mengalami perubahan sikap dan tingkah laris demi tercapainya hasil berguru matematika sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pengertian Hasil Belajar


Hasil Belajar yakni pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Menurut pemikiran Gagne hasil berguru yakni :

  1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik verbal maupun tertulis. Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsanngan spesifik.
  2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang atau kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan membuatkan prinsip-prinsip keilmuan.
  3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan kegiatan kognitifnya sendiri atau kemampuan yang mencakup penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
  4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melaksanakan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
  5. Sikap yakni kemampuan mendapatkan atau menolak objek berdasarkan evaluasi terhadap objek tersebut atau kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai sebagai standart perilaku.

Menurut Bloom hasil berguru yakni kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif yakni pengetahuan, pemahaman, menerapkan, menguraikan, merencanakan dan menilai. Afektif yakni sikap menerima, menawarkan respons, nilai, organisasi dan karakterisasi. Psikomotor yakni keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial dan intelektual.

Sementara berdasarkan lindgren hasil pembelajaran mencakup kecakapan, informasi, pengertian dan sikap.

Jadi, hasil berguru yakni perubahan sikap secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusian saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan sebagaimana diatas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan komprensif.

Tujuan Pembelajaran Matematika


Tujuan pembelajaran matematika yakni terbentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistimatis dan mempunyai sifat obyektif, jujur, disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan tujuan mata pelajaran matematika menyerupai yang tertuang dalam Standar Isi (SI) Mata Pelajaran Matematika untuk semua satuan pendidikan Dasar dan Menengah adalah:

  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan sempurna dalam pemecahan masalah.
  2. Menggunakan kebijaksanaan budi pada referensi dan sifat, melaksanakan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
  3. Memecahkan duduk kasus yang mencakup kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menuntaskan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
  4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Komponen Pembelajaran Matematika


Proses berguru mengajar matematika yang lebih dikenal dengan istilah pembelajaran matematika merupakan suatu sistem kerja yang terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait satu dengan lainnya sehingga tujuan tercapai. Adapun proses pembelajaran matematika mengandung sejumlah komponen yang meliputi:

  1. Tujuan; yakni suatu harapan yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan dalam hal ini yakni tujuan pembelajaran matematika. Tujuan pembelajaran ini yakni komponen yang sanggup mensugesti komponen pembelajaran lainnya.
  2. Bahan Pelajaran; yakni substansi yang akan disampaikan dalam proses berguru mengajar. Tanpa materi pelajaran proses pembelajaran tidak akan berjalan. Bahan pelajaran ini terdiri dari materi pelajaran pokok dan materi pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok yakni materi pelajaran yang menyangkut bidang studi atau mata pelajaran yang dipegang oleh guru sesuai dengan disiplin keilmuaannya. Dalam hal ini yakni materi pelajaran matematika. Sedangkan materi pelajaran komplemen yakni wawasan keilmuwan yang menunjang penyampaian materi pelajaran pokok.
  3. Kegiatan berguru mengajar; yakni inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini akan melibatkan semua komponen pengajaran. Selain itu, proses pembelajaran akan memilih sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan sanggup tercapai.
  4. Metode; yakni suatu cara yang diperguanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses pembelajaran, metode diharapkan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai sesudah proses pembelajaran selesai.
  5. Alat; yakni segala sesuatu yang sanggup dipakai dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang sanggup dipakai dalam mencapai tujuan pembelajaran, alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah perjuangan mencapai tujuan, dan alat sebagai tujuan.
  6. Sumber pelajaran; yakni sesuatu yang sanggup dipergunakan sebagai daerah di mana materi pelajaran berada atau asal untuk berguru seseorang. Dengan demikian sumber pelajaran itu merupakan materi atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal gres bagi pembelajar.
  7. Evaluasi; yakni suatu tindakan atau suatu proses memilih nilai dari sesuatu dalam hal ini yakni hasil berguru siswa sesudah proses pembelajaran.

Referensi :
Pengambangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang, 2001
Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012

Monday, 25 February 2019

Jadi Bakir Prinsip Dan Jenis Evaluasi Portofolio Pada Kurikulum 2013


Penilaian portofolio merupakan teknik lain untuk melaksanakan evaluasi terha­dap aspek keterampilan. Tujuan utama dilakukannya portofolio ialah untuk menentukan hasil karya dan proses bagaimana hasil karya tersebut diperoleh sebagai salah satu bukti yang sanggup memperlihatkan pencapaian mencar ilmu penerima didik, yaitu mencapai kompetensi dasar dan indikator yang telah ditetapkan.

Selain berfungsi sebagai daerah penyimpanan hasil pekerjaan penerima didik, portofolio juga berfungsi untuk mengetahui perkembangan kompetensi pe­serta didik.

1. Prinsip Penilaian Portofolio


Ada beberapa prinsip yang harus dijadikan sebagai pedoman dalam penggu­naan evaluasi portofolio. Berikut ialah prinsip-prinsip tersebut.
  • Saling percaya (mutual trust) antara pendidik dan penerima didik; Dalam proses evaluasi portofolio pendidik dan penerima didik harus me­miliki rasa saling mempercayai, saling terbuka dan jujur satu sama lain supaya tercipta hubungan yang masuk akal dan alami untuk berlangsungnya pro­ses pendidikan yang baik.
  • Kerahasiaan bersama (confidentiality) antara pendidik dan penerima didik; Kerahasiaan hasil pengumpulan materi dan hasil penilaiannya perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak lain yang tidak berkepentingan.
  • Milik bersama (joint ownership) antara pendidik dan penerima didik; Pendidik dan penerima didik perlu mempunyai bersama berkas portofolio. De­ngan adanya rasa mempunyai terhadap hasil karyanya, diperlukan akan tum­buh rasa tanggung jawab pada diri penerima didik.
  • Kepuasan (satisfaction); Hasil karya portofolio hendaknya berisi keterangan-keterangan dan / atau bukti-bukti yang memuaskan bagi penerima didik dan pendidik dan meru­pakan bukti prestasi cemerlang penerima didik dan keberhasilan pelatihan pendidik.
  • Kesesuaian (relevance); Hasil karya yang dikumpulkan ialah hasil karya yang berafiliasi dengan tujuan pembelajaran.
  • Penilaian proses dan hasil; Proses mencar ilmu yang dinilai contohnya diperoleh dari catatan sikap harian penerima didik. Penilaian hasil merupakan evaluasi hasil final suatu kiprah yang diberikan oleh pendidik.

2. Jenis Portofolio


Secara umum evaluasi portofolio, berdasarkan Fosters and Masters (1998), sanggup dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu portofolio kerja (working portfolio), portofolio dokumentasi (documentary portfolio), dan portofolio penampilan (show portfolio).

Diharapkan pendidik menciptakan minimal portofolio penam­ pilan (show portfolio) alasannya dalam pelaporan hasil mencar ilmu pendidik dituntut untuk sanggup melaporkan capaian mencar ilmu penerima didik. Portofolio penampilan (show portfolio) tidak diskor lagi dengan angka alasannya penskoran sudah dilakukan melalui evaluasi praktik, produk, dan projek. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi pendidik untuk menciptakan dua jenis portofolio lainnya un­tuk kepentingan-kepentingan yang berbeda. Pendidik sanggup menentukan porto­folio jenis apa saja sesuai dengan kepentingan mereka. Berikut ialah uraian masing-masing jenis portofolio.

a. Portofolio Kerja (Working Portfolio)


Portofolio kerja merupakan pekerjaan penerima didik yang berupa draf, pekerjaan setengah jadi, dan pekerjaan yang telah jadi yang dipakai untuk memantau perkembangan dan menilai cara penerima didik meng­atur atau mengelola mencar ilmu mereka. Hasil pekerjaan penerima didik yang paling baik sanggup menjadi petunjuk apakah penerima didik telah mema­hami materi pembelajaran dan sanggup merupakan materi masukan bagi pendidik untuk mengetahui pencapaian kurikulum maupun sebagai alat evaluasi formatif.

Fungsi Portofolio Kerja

Portofolio kerja berfungsi sebagai sumber info bagi pendidik un­tuk mengetahui kemajuan penerima didik dan memungkinkan pendi­dik untuk membantu penerima didik mengidentifikasi kelemahan, kele­bihan, serta kelayakan dalam merancang dan meningkatkan pembel­ajaran.

Tujuan Portofolio Kerja

Portofolio kerja mempunyai tujuan untuk menyediakan data perihal cara penerima didik mengorganisasikan dan mengelola kerja. Dengan demi­kian, hal-hal yang dinilai berupa draft, pekerjaan yang belum selesai, atau pekerjaan terbaik penerima didik. Hasil kerja ini dipakai dalam diskusi antara penerima didik dan pendidik.

Manfaat Portofolio Kerja

Bagi penerima didik portofolio kerja mempunyai beberapa manfaat, yaitu mengendalikan pekerjaannya, menciptakan penerima didik merasa gembira atas pekerjaannya, merefleksikan seni administrasi belajar, merancang tujuan belajar, dan memantau perkembangan belajar. Bagi pendidik porto­folio kerja memberi kesempatan untuk memikirkan kembali arti su­atu hasil pekerjaan, meningkatkan motivasi mengajar, dan memper­baiki proses pembelajaran.

b. Portofolio Dokumentasi (Documentary Portfolio)


Portofolio dokumentasi ialah koleksi hasil kerja penerima didik yang khusus dipakai untuk penilaian. Berbeda dari portofolio kerja yang pengumpulannya dilakukan dari hari ke hari, dokumentasi portofolio merupakan seleksi hasilkerja terbaik penerima didik yang akan diajukan dalam penilaian. Jadi, portofolio jenis ini ialah koleksi sekumpulan hasil kerja penerima didik selama kurun waktu tertentu.

Tujuan Portofolio Dokumentasi

Tujuan utama dilakukannya portofolio dokumentasi ialah untuk pe­nilaian sehingga pendidik harus bisa menentukan hasil kerja pe­serta didik sebagai salah satu bukti yang sanggup memperlihatkan penca­paian mencar ilmu penerima didik.

c. Portofolio penampilan (Show portfolio)


Portofolio penampilan (show portfolio) merupakan kumpulan sampel karya terbaik dari KD – KD pada KI-4. Portofolio setiap penerima didik disimpan dalam suatu folder (map) dan diberi tanggal pengumpulan oleh pendidik. Portofolio sanggup disimpan dalam bentuk cetak dan/ atau elektronik. Portofolio jenis ini dipakai untuk menentukan hal-hal yang paling baik yang memperlihatkan karya terbaik yang dihasilkan pe­ serta didik. Dengan demikian, portofolio ini hanya berisi karya penerima didik yang telah selesai, dan bukan proses pengerjaan, perbaikan, dan penyempurnaan karya penerima didik.

Fungsi Portofolio penampilan

Portofolio penampilan (show portfolio) berfungsi sebagai sumber in­ deretan bagi pendidik dalam mendeskripsikan capaian kompetensi penerima didik baik dalam aspek pengetahuan atau keterampilan dalam KD tertentu. Bagi penerima didik, portofolio ini berfungsi sebagai sumber info untuk melaksanakan refleksi diri. Bagi orang tua, por­tofolio berfungsi sebagai sumber info perihal capaian mencar ilmu penerima didik.

Tujuan Portofolio penampilan

Portofolio penampilan (show portfolio) sanggup dipakai untuk men­capai beberapa tujuan, yaitu;

  • mendokumentasikan hasil karya atau capaian kompetensi penerima didik,
  • memberi perhatian pada pres­ tasi kerja penerima didik yang terbaik,
  • bertukar info dengan orang tua/wali murid pendidik lain,
  • membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri kasatmata penerima didik,
  • meningkatkan kemampuan penerima didik melaksanakan refleksi diri.

Portofolio penampilan (show portfolio) dirancang untuk menun­jukkan­ karya terbaik penerima didik dalam mengukur kompetensi ter­tentu sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam kurun waktu tertentu. Portofolio­ ini harus menggambarkan hasil karya penerima didik yang asli. Hasil karya yang orisinil merupakan hal yang paling penting. Selain itu, pendidik juga harus mempertimbangkan seberapa anggun karya yang telah diselesaikan tersebut.

Manfaat Portofolio penampilan

Portofolio penampilan (show portfolio) sangat mempunyai kegunaan bagi penerima didik, pendidik, dan orang tua/wali penerima didik. Bagi penerima didik evaluasi portofolio penampilan (show portfolio) sangat mempunyai kegunaan un­tuk mengetahui kemajuan dan kemampuan belajarnya, terutama da­lam hal memberi umpan balik terhadap kemampuan pemahaman dan penguasaan penerima didik perihal kiprah yang diberikan pendidik se­lama kurun waktu tertentu, memperlihatkan umpan balik dalam mem­pertahankan prestasi yang telah dicapai, dan memahami keterbatasan­ kemampuan untuk menguasai materi atau bidang kajian­ tertentu.

Bagi pendidik evaluasi portofolio penampilan (show portfolio) sangat mempunyai kegunaan untuk mengetahui kemajuan dan kemampuan belajar­nya, terutama dalam hal memperlihatkan umpan balik terhadap kemam­puan pemahaman dan penguasaan penerima didik perihal kiprah yang diberikan pendidik selama kurun waktu tertentu, mengetahui bab yang belum diketahui penerima didik, dan memperoleh citra ting­kat pencapaian keberhasilan proses mencar ilmu mengajar yang telah dilak­sanakan penerima didik.

Bagi orang tua/wali penerima didik, evaluasi portofolio penampil­an (show portfolio) sangat mempunyai kegunaan bagi orang tua/wali penerima didik untuk mengetahui kemajuan dan kemampuan mencar ilmu belajar putera-puterinya antara lain dalam hal pemahaman perihal kelebihan dan kelemahan putera-puterinya dalam belajar, peningkatan bimbingan yang hendak dilakukan orang renta penerima didik untuk meraih prestasi putera-puterinya, dan peningkatan komunikasi dengan pihak sekolah dalam mendidik puteri-puterinya.

Monday, 4 February 2019

Jadi Cerdik Rpp Silabus Revisi 2017 Bahasa Arab Mi Kelas 2 Kurikulum 2013


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran serta Silabus Kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa arab untuk madrasah ibtidaiyah kelas 2 yang sudah direvisi tahun 2017 ini merupakan salah satu perangkat pembelajaran yang mempunyai kiprah penting dalam menjalankan acara berguru mengajar yang mengacu pada kurikulum 2013 yang telah ditetapkan.

Pembelajaran atau sering disebut Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan langkah-langkah konkret acara berguru siswa dalam rangka memperoleh, mengaktualisasikan, atau meningkatkan kompetensi yang dikehendaki. KBM merupakan proses aktif bagi siswa dan guru untuk membuatkan potensi siswa sehingga mereka akan "tahu" terhadap pengetahuan dan pada kesannya "mampu" untuk melaksanakan sesuatu.

Prinsip dasar KBM yaitu memberdayakan semua potensi yang dimiliki siswa sehingga mereka akan bisa meningkatkan pemahaman terhadap fakta / konsep / prinsip dalam kajian ilmu yang di pelajarinya yang akan terlihat dalam kemampuannya untuk berpikir logis, kritis, dan kreatif. Prinsip dasar KBM lainnya yaitu berpusat pada siswa, membuatkan kreatifitas siswa, membuat kondisi menyenangkan dan menantang, membuatkan bermacam-macam kemampuan yang bermuatan nilai, menyediakan pengalaman berguru yang bermacam-macam dan berguru melalui berbuat. Prinsip KBM di atas akan mencapai hasil yang maksimal dengan memadukan aneka macam metode dan teknik yang memungkinkan semua indra dipakai sesuai dengan karakteristik masing-masing (Muslich, 2011:71).

Kegiatan pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran merupakan bab penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Perencanaan memegang peranan penting dalam setiap kegiatan, termasuk dalam sebuah pembelajaran. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, yang dimaksud dengan perencanaan pembelajaran yaitu proses penyusunan aneka macam keputusan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam proses acara pembelajaran untuk mencapai kompetensi pelajaran yang akan dila ksanakan dalam proses acara pembelajaran untuk mencapai kompetensi pembelajaran yang telah ditetapkan.

Kegiatan ini merupakan langkah awal yang harus ditempuh guru dalam melaksanakan acara pembelajaran. Guru sebagai tenaga pengajar harus mempunyai kemampuan dan berkemampuan baik sebagai perencana / perancang pembelajaran. Guru sebagai perancang pembelajaran bertugas membuat rancangan agenda pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan (Wahyuni dan Ibrahim, 2012: 11-12).

Download RPP Silabus bahasa arab revisi final 2017


RPP Bahasa Arab MI Kelas 2 Kurikulum 2013
Silabus Bahasa Arab MI Kelas 2 Kurikulum 2013

Tuntutan pada guru berkaitan dengan kemampuan membuatkan perencanaan pembelajaran sanggup dilihat pada PP nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 perihal Standar Proses. PP nomor 19 tahun 2005 yang berkaitan dengan standar proses mengisyaratkan bahwa guru dibutuhkan sanggup membuatkan perencanaan pembelajaran, yang kemudian dipertegas melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 perihal Standar Proses, yang antara lain mengatur perihal perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk membuatkan planning pelaksanaan pembelajaran (RPP), khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah jalur formal, baik yang menerapkan sistem paket maupun sistem kredit semester (SKS) (Wahyuni dan Ibrahim, 2012: 11-12).

Sunday, 3 February 2019

Jadi Arif Karakteristik Perkembangan Dan Cara Berguru Anak Usia Sd Mi


Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah bisa mengontrol badan dan keseimbangannya. Mereka telah sanggup melompat dengan kaki secara bergantian, sanggup mengendarai sepeda roda dua, sanggup menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk sanggup memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah sanggup memperlihatkan keakuannya ihwal jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan sobat sebaya, mempunyai sahabat, telah bisa berbagi, dan mandiri.

Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah sanggup mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah sanggup mengontrol emosi, sudah bisa berpisah dengan orang bau tanah dan telah mulai berguru ihwal benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melaksanakan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, bahagia berbicara, memahami alasannya yaitu tanggapan dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

Cara Anak Belajar


Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak mempunyai cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan mengikuti keadaan dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak mempunyai struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman ihwal objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan fasilitas (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek).

Kedua proses tersebut jikalau berlangsung terus menerus akan menciptakan pengetahuan usang dan pengetahuan gres menjadi seimbang. Dengan cara menyerupai itu secara sedikit demi sedikit anak sanggup membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka sikap berguru anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut mustahil dipisahkan lantaran memang proses berguru terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.

Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai memperlihatkan sikap berguru sebagai berikut:

  1. Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak,
  2. Mulai berpikir secara operasional,
  3. Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda,
  4. Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan alasannya yaitu akibat,
  5. Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.


Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan berguru anak usia sekolah dasar mempunyai tiga ciri, yaitu:

1. Konkrit
Konkrit mengandung makna proses berguru beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang sanggup dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik pengutamaan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil berguru yang lebih bermakna dan bernilai, alasannya yaitu siswa dihadapkan dengan kejadian dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih sanggup dipertanggungjawabkan.

2. Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum bisa memilah-milah konsep dari banyak sekali disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bab demi bagian.

3. Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak berguru berkembang secara sedikit demi sedikit mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .

Belajar dan Pembelajaran Bermakna


Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laris yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Pembelajaran pada hakekatnya yaitu suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber berguru dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jikalau dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memperlihatkan rasa kondusif bagi anak. Proses berguru bersifat individual dan kontekstual, artinya proses berguru terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.

Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya info gres pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan berguru sebagai hasil dari kejadian mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, info atau situasi gres dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses berguru tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan acara menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak gampang dilupakan.

Dengan demikian, supaya terjadi berguru bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara serasi konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan gres yang akan diajarkan. Dengan kata lain, berguru akan lebih bermakna jikalau anak mengalami pribadi apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.

Thursday, 12 September 2019

Jadi Berakal 6 Prinsip Dan Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin


Peran Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran merupakan tindakan yang mengarah pada terciptanya iklim sekolah yang bisa mendorong terjadinya proses pembelajaran yang optimal. Tindakan yang dilakukan (Kepala sekolah) untuk menyebarkan lingkungan kerja yang produktif dan memuaskan bagi guru pada akhirya bisa membuat kondisi mencar ilmu siswa semakin meningkat

Kepemimpinan pembelajaran merupakan tindakan kepala sekolah/madrasah dalam; mempengaruhi, menggerakan, mengarahkan, mengembangkan, memberdayakan guru. Sehingga tercipta kondisi sekolah yang aman sebagai daerah pembelajaran berproses secara optimal.

Peran Kepala Sekolah


  • Merumuskan tujuan pembelajaran
  • Mengalokasikan sumber daya dalam pembelajaran,
  • Mengelola kurikulum
  • Memonitor perencanaan pembelajaran,
  • Mengevaluasi pelaksanaan kiprah guru.

Yang bertujuan untuk Meningkatkan kiprah guru dalam memfasilitasi siswa menyebarkan prestasi , kepuasan belajar, motivasi, keingintahuan, kreativitas, inovasi, jiwa kewirausahaan, dan kesadaran untuk mencar ilmu sepanjang hayat.

Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin


  1. Sebagai penyedia sumber daya, memperlihatkan kemampuan dan administrasi waktu dan sumber daya  secara efektif, memperlihatkan kondisi kelas sebagai master pengubah, dan bisa mengenal dan memotivasi anggota staf sekolah,
  2. Sebagai sumber instruksional’ terlihat dan memajukan kondisi kelas yang efektif untuk menunjang hasil belajar, mendorong staf pengajar untuk memakai banyak sekali macam materi pengajaran dan seni administrasi mencar ilmu mengajar, menawarkan perhatian dan bisa menyebarkan gagasan inovatif.
  3. Sebagai komunikator, memberikan visi sekolah secara jelas, memahami tujuan sekolah serta bisa menerjamahkan, membina hubungan yang efektif dengan stakeholders, terang dalam menyampaian sesuatu baik mulut maupun tulisan. Keempat, kehadirannya bermakna; bisa berinteraksi dan mensugesti seluruh lingkungan sekolah (Guru, staf, siswa dan petugas lainnya.

Semakin berdaya kiprah kepala sekolah dalam mengarahkan, memotivasi, dan mensugesti guru dalam proses mencar ilmu mengajar maka sanggup meningkatkan efektivitas siswa belajar

6 Prinsip Kepala Sekolah


  1. Membangun tujuan bersama
  2. Meningkatkan kreasi dan penemuan dalam menyebarkan kurikulum
  3. Mengembangkan motivasi pendidik dalam menyebarkan kompetensi
  4. Menjamin pelaksanaan mutu proses pembelajaran  melalui pelaksanaan monitoring atau supervisi
  5. Mengembangkan sistem penilaian dalam memantau perkembangan mencar ilmu siswa
  6. Mengambil keputusan berbasis data.

Rencana Tindak Strategis Kepala Sekolah


  1. Memfasilitasi penyusunan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran
  2. Melakukan sosialisasi tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran
  3. Memfasilitasi pembentukan kelompok kerja guru
  4. Menerapkan ekspektasi yang tinggi
  5. Melakukan penilaian kinerja guru dan tindak lanjut pengembangannya
  6. Membentuk kultur sekolah yang aman bagi pembelajaran
  7. Membangun learning person dan learning school
  8. Menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran dan selalu mempunyai waktu untuk guru dan siswanya
  9. Melayani dengan prima kepada guru, siswa, dan orang renta siswa
  10. Melakukan koordinasi terhadap guru, siswa, dan orangtua siswa
  11. Melakukan monitoring dan penilaian terhadap keberhasilan pembelajaran jawaban

Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin


  1. Merumuskan tujuan pembelajaran
  2. Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum
  3. Membimbing pengembangan dan perbaikan proses mencar ilmu mengajar (PBM)
  4. Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangkannya
  5. Membangun komunitas pembelajaran
  6. Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional
  7. Melayani siswa dengan prima
  8. Melakukan perbaikan secara terus menerus
  9. Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif
  10. Membangun Warga Sekolah semoga Pro-perubahan
  11. Membangun teamwork yang kompak
  12. Memberi referensi dan menginspirasi warga sekolah  

PENJELASAN

1. Merumuskan tujuan pembelajaran


Secara bersama-sama, kepala sekolah dan guru merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, menyepakati cara-cara yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran dan melaksanakannya secara konsisten untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2. Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum


Kepala sekolah mengarahkan dan membimbing para guru dalam menyebarkan kurikulum, mulai dari: perumusan visi, misi, dan tujuan sekolah; pengembangan struktur dan muatan kurikulum; dan pembuatan kalender sekolah.

3. Membimbing pengembangan dan perbaikan proses mencar ilmu mengajar (PBM)


Kepala sekolah mempunyai kemampuan dalam membimbing dan memfasilitasi perbaikan proses mencar ilmu mengajar yang mencakup perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran serta pengelolaan kelas.

4. Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya


Secara periodik, kepala sekolah melaksanakan penilaian kinerja guru untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan kinerja guru serta mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan keprofesian guru

5. Membangun komunitas pembelajaran


Komunitas pembelajaran yaitu suatu komunitas (warga sekolah) yang mempunyai kesamaan nilai-nilai pembelajaran yang dianut sebagai sumber penggalangan konformisme sikap dan sikap bagi warga sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran. . Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus mempunyai kemampuan membangun komunitas pembelajaran di sekolahnya

6. Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional


Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus bisa menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional sekaligus. Kepemimpinan visioner yaitu kepemimpinan yang mendasarkan pada visi yang ingin dicapai di masa depan,sedang kepimpinan situasional yaitu kepemimpinan yang mempertimbangkan situasi yang sedang dihadapi. Kombinasi dari kedua jenis kepemimpinan tersebut akan bisa memberi ide dan mendorong terjadinya pembelajaran yang futuristik dan kontekstual sekaligus.

7. Melayani siswa dengan prima


Kepala sekolah harus bisa mengajak guru dan karyawan untuk menawarkan layanan pembelajaran kepada siswa secara prima dan siswa merupakan pelanggan utama sekolah yang harus menjadi fokus perhatian warga sekolah

8. Melakukan perbaikan secara terus menerus


Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan perbaikan secara terus menerus, yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, refleksi, dan revisi terhadap perencanaan berikutnya, dan siklusnya diulang-ulang

9. Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif


Pemimpin pembelajaran harus selalu menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif. Kepala sekolah efektif melaksanakan hal-hal berikut: luwes dalam pengendalian, membangun teamwork di sekolahnya, akad besar lengan berkuasa terhadap pencapaian visi dan misi sekolah, menghargai guru dan karyawan atas dedikasinya, memecahkan persoalan secara kolaboratif, melaksanakan delegasi secara efektif, dan fokus pada proses mencar ilmu mengajar (pembelajaran).

10. Membangun Warga Sekolah semoga Pro-perubahan


Salah satu ciri utama seorang pemimpin pembelajaran yaitu mempunyai visi dan misi yang terang dan mempunyai cara-cara untuk menggerakkan warga sekolahnya untuk mencapainya. Untuk itu, ia harus bisa mengarahkan, membimbing, memotivasi, mempengaruhi, memberi insprirasi, dan mendukung prakarsa-prakarsa baru, kreativitas, inovasi, dan inisiasi dalam pengembangan pembelajaran.

11. Membangun teamwork yang kompak


Pemimpin pembelajaran harus bisa membangun teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah. Pelibatan, partisipasi, dan pengabdian warga sekolah sangat diharapkan dalam rangka membangun teamwork yang dimaksud.

12. Memberi referensi dan menginspirasi warga sekolah


Memberi referensi dalam banyak sekali hal contohnya komitmen,disiplin, nyaman terhadap perubahan, kasih sayang terhadap siswa, semangat kerja, dsb. yaitu merupakan bab penting dari karakteristik seorang pemimpin pembelajaran. Tidak kalah penting, seorang pemimpin pembelajaran selalu memberi ide kepada guru, karyawan, dan terutama siswanya untuk mempelajari dan menikmati hal-hal yang belum diketahui, dan bisa membangun kondisi rasa keingintahuan dari seluruh warga sekolahnya.