Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Monday, 14 October 2019

Jadi Cerdik Jejak Asing Orang-Orang Jadzab


“Jangan hingga kamu sibukkan pikiranmu dengan apa yang dilakukan oleh Syekh Ibnu Arabi dan yang semisalnya, lantaran itu yaitu hal yang sudah keluar dari kebiasaan. Sebagian orang mungkin terjebak menuduhkan hal-hal yang tidak mereka lakukan kepada mereka. Ikutilah cara Imam al-Ghazali dan semisalnya, dengan paham tasawuf, fikih, dan keilmuannya. Karena, inilah ilmu syariat, dan makna yang tersurat dari al-Qur’an dan Sunah. Dengan berpegang teguh kepada itu, engkau akan mendapatkan keselamatan dan keberhasilan. Hindari yang selain itu, lantaran sanggup membingungkan orang lain.”

Inilah pernyataan salah tokoh utama tarekat Bani Alawi, yaitu Imam al-Haddad. Tarekat Alawiyah memang dikenal sebagai tarekat yang sangat teguh dalam memegang syariat dan Sunnah. Mereka hidup wajar, dan tidak ada yang gila dalam suluk mereka. Namun demikian, mereka tetap memaklumi bahwa dalam kondisi tertentu seorang sufi memang sanggup mengalami jazab. Al-Faqih al-Muqaddam, salah satu perumus terpenting manhaj thariqah Alawiyah, konon juga pernah mengalami kondisi jazab selama 100 hari di simpulan hayatnya. Selama masa itu, dia tidak makan, tidak minum dan tidak berdialog dengan orang di sekelilingnya.

Dalam kondisi jazab, seorang waliyullah sanggup melaksanakan apa saja di luar kesadaran mereka, termasuk melaksanakan hal-hal yang secara lahiriah dianggap menyimpang dalam pandangan syariat. Mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban mengenai penyimpangan tersebut, lantaran mereka melakukannya dalam keadaan tidak sadar dan tidak mukalaf. Tapi, kata Syekh Said an-Nursi, tetap ada batas. Dalam penyimpangan tersebut, tidak ada ucapan atau perilaku yang mengesankan menentang hakikat syariat dan kaidah iman. “Kalau dikala dia tidak sadar ada ucapan atau perilaku yang mengesankan pendustaaan atau pengingkaran terhadap banyak sekali hakikat yang kokoh tersebut, maka Na’udzubillâh, itu merupakan menunjukan celaka bagi dia…”.

Syekh Ismail Haqqi menyatakan, bahwa orang jazab tidak terkena khithab hukum syariat, lantaran logika mereka sudah hilang disebabkan pengalaman agung bersama Allah yang mereka alami. Ulama fikih pun juga memaklumi hal itu. Imam as-Suyuthi dalam al-Hâwi lil-Fatâwa menyatakan bahwa, cara paling elegan dalam menyikapi ucapan-ucapan nyeleneh yang muncul dari kalangan sufi semisal “Aku yaitu Allah” yaitu dengan menyatakan bahwa hal itu mereka lakukan dalam keadaan sakar dan karam dalam akalnya yang menghilang. Atau, mereka menyatakan hal itu atas dasar hikâyah (menceritakan firman Allah). Sikap semacam ini perlu diambil kalau ucapan atau tindakan gila itu muncul dari orang yang memang masyhur mempunyai ilmu yang tinggi, amal yang baik, tekun mujahadah, dan patuh terhadap syariat. Lain halnya kalau muncul dari orang udik atau orang-orang yang fasiq.

Namun demikian, perlu juga diketahui bahwa penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang wali tidak semuanya dilakukan dalam keadaan tidak sadar. Ada pula yang melakukannya dalam keadaan sadar. Dengan demikian berarti dia melaksanakan maksiat. Dalam hal ini, terjadinya maksiat dari para wali menyerupai dengan terjadinya maksiat dari para Sahabat Rasulullah Mereka mungkin melaksanakan perbuatan maksiat, tapi hal itu tidak seberapa dibanding kebaikan mereka yang luar biasa besar.

Syekh Zarruq dalam kitab an-Nashîhah al-Kâfiyah menyatakan, “Mengenai perbuatan (orang-orang sufi) yang harus diingkari (secara syariat), maka harus diingkari, tapi dengan tetap meyakini bahwa mereka yaitu orang-orang baik. Sebab, seorang wali tidak tidak mungkin melaksanakan kesalahan. Mereka cuma mahfûzh (dijaga, tapi tidak maksum). Orang mahfûzh masih mungkin melaksanakan maksiat. Konon, pernah ada orang bertanya kepada Imam al-Junaid al-Baghdadi, “Apakah orang yang makrifat sanggup melaksanakan zina?” Beliau menjawab, “Ketetapan Allah niscaya terjadi…”. Beliau mengutip QS al-Ahzab: 38 untuk menyatakan bahwa hal itu mungkin terjadi.

Prinsipnya, mengenai orang-orang yang sudah masyhur akan kebaikannya dalam hal akidah, ilmu dan amal, maka sebisa mungkin dilihat dengan cara pandang yang baik (husnuz-zhann). Maka, tidak perlu diingkari dari mereka kecuali hal-hal yang sudah disepakati oleh ulama akan keharamannya, sebagaimana juga dilarang dimaklumi dari mereka kecuali perbuatan yang masih mempunyai bentuk untuk diperbolehkan. Demikian kata Syekh Zarruq.

Mengenai hal itu, sebagian ulama memang masih mencurigai adanya kondisi jazab yang sanggup menjadikan seseorang terlepas dari taklif hingga melaksanakan perbuatan maksiat. Logikanya, kalau akalnya hilang lantaran karam dalam kebenaran, maka semestinya apa yang ia lakukan kental dengan kebenaran. Tentu, akan lain halnya kalau akalnya hilang lantaran karam dalam bayang-bayang khayalan.

Kondisi jazab yang menjadikan seorang sufi terlepas dari akalnya, berdasarkan Syekh Ismail Haqqi ada tiga tingkat. Yang pertama, pengalaman metafisisnya bersama Allah (al-wârid) jauh lebih tinggi daripada kekuatan yang ada dalam dirinya. Pengalaman itu menguasai dirinya secara penuh, sehingga dia tidak sanggup mengendalikan diri sendiri. Akalnya hilang sama sekali.

Kedua, akalnya masih ada dan perasaan kemanusiaannya masih tersisa. Dia masih makan, minum, dan hidup masuk akal secara lahiriah, tapi tidak disertai tadbîr (perencanaan yang disadarinya secara penuh). Merekalah yang disebut uqalâ’ul-majânîn atau orang-orang waras yang gila, lantaran secara lahiriah dia normal, tapi batinnya sedang terpukau dan terkesima.

Ketiga, pengalaman metafisis itu tidak bertahan usang menguasai dirinya. Jazabnya cuma sebentar. Dia segera kembali normal, hidup wajar, menyadari segala ucapan dan rangsangan di sekelilingnya, disertai dengan tadbîr (perencanaan yang disadari sepenuhnya) menyerupai insan pada umumnya. Di kalangan sufi, ini disebut Shâhibul-Qadam al-Muhammadi atau orang yang menapaki jejak Nabi Muhammad . Pada detik-detik sedang mendapatkan wahyu, Rasulullah. menyerupai terlepas dari kemanusiaannya dengan badan gemetar dan tidak menghiraukan apa yang ada di sekelilingnya. Setelah selesai, dia eksklusif kembali ke dalam keadaan sediakala, memberikan wahyu tersebut kepada para Sahabat menyerupai biasa.

Jazab ada yang menyerupai dengan kondisi itu. Dan, inilah tingkat jazab yang paling sempurna, jazab yang disertai keseimbangan antara rangsangan fisik dan tarikan metafisik.

Referensi : https://www.sidogiri.net/

Tuesday, 1 October 2019

Jadi Arif Puasa Tingkat Pemula Sekedar Mengekang Biologis


Jika melihat puasa dengan kacamata fikih, ibadah puasa bukanlah hal yang terlalu berat. Artinya dapat dilakukan oleh siapa saja termasuk anak-anak yang masih dibawah umur.

Puasa lahiriah berada dibatas minimal sebuah kewajiban syariat, ketentuan yang harus dilakukan bersifat kongkrit dan dapat dirasakan secara jasmaniah, sebatas pengekangan biologi biar tidak melaksanakan hal-hal yang dihentikan dalam puasa. Simak juga puasa 4 madzhab

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menyatakan kewajiban puasa dalam pandangan fikih ada lima:

  1. Meneliti awal bulan
  2. Niat melaksanakan puasa semenjak malam hari
  3. Menghindari masuknya sesuatu ke dalam badan dengan sengaja dalam keadaan ingat bahwa dirinya berpuasa
  4. Menghindari hal-hal yang menyebabkan hadats besar
  5. Menghindari muntah yang disengaja

Menurut Imam Ghazali ketentuan fikih diatas masih jauh dari batas ideal sebuah ibadah puasa, ketentuan fikih dibentuk biar sebuah anutan (puasa) dapat diterapkan untuk kalangan awam yang lalai dari Tuhan dan terpengaruhi oleh kepentingan duniawi.

Jadi Arif Puasa Tingkat Menengah Mesin Ampuh Ketajaman Moral


Melihat ibadah puasa dengan kacamata tasawuf-akhlak. Rasulullah SAW bersabda: “banyak orang yang berpuasa, yang ia dapatkan hanyalah lapar dan haus”. Sabda Rasulullah ini menegaskan bahwa rata-rata orang puasa masih belum sanggup menyentuh batin dari puasa itu sendiri. Seringkali hanya sebatas urusan kulit, yang penting tidak makan, minum dan lain-lain sebagaimana klarifikasi pada artikel sebelumnya
Puasa Tingkat Pemula Sekedar Mengekang Biologis

Jika puasa hanya berlandaskan jasmaniah saja, maka sangat minim buah moral dan spiritual dari ketabahan kita menahan lapar dan haus itu. Puasa ialah separuh dari kesabaran, sebab inti dari puasa ialah menahan nafsu. Jika dipahami lebih luas, nafsu yang ditahan itu tidak sekedar makan dan minum, tapi juga nafsu lain yang mempunyai imbas negative tidak kalah ‘seram’

Terkait: Puasa versi 4 madzhab

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali merumuskan puasa tingkat menengah dengan enam pokok diluar kewajiban puasa yang ditetapkan oleh ulama fikih. Puasa tingkat menengah ini ialah puasa orang-orang shalih:

  1. Menjaga pandangan dari hal-hal yang menyebabkan ia lupa kepada Allah
  2. Menjaga pengecap dari ucapan yang tidak mempunyai kegunaan yang dihentikan Allah
  3. Menjaga indera pendengaran semoga tidak mendengarkan apa yang tidak disukai Allah, kata yang haram diucapkan juga haram didengar
  4. Menjaga kaki, tangan, dan potongan badan yang lain dari perbuatan dosa, dan perbuatan yang tidak disukai Allah
  5. Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi masakan (tentunya masakan yang halal) hingga perutnya penuh
  6. Setelah berbuka, hati menjadi gelisah sebab khawatir puasanya tidak diterima

Puasa yang sudah memenuhi syarat-syarat diatas akan membuahkan banyak hasil bagi kualitas moral dan keimanan. Maka tidak heran Imam Ghazali menegaskan bahwa puasa mewakili 25 persen dari keimanan kita. Rumusan puasa ini menurut paradigm tasawuf yang menyentuh ibdah tidak hanya pada bentuk luar, tapi juga membawa ibadah ke dalam potongan yang lebih prinsipil, yaitu untuk apa ibadah itu?

Dalam bahasa Imam Ghazali, tasawuf berbeda dengan fikih dalam mengartikan kata sah. Bagi tasawuf arti sah berarti diterima, sedangkan diterima berarti mencapai tujuan. Tujuan puasa ialah sebisa mungkin menggandakan malaikat,, mereka tidak mempunyai nafsu, dan insan sebisa mungkin menahan nafsu mereka semoga sanggup berkumpul dengan para makhluk suci itu

Dengan demikian berarti arti dari kata “menahan” sebagai makna puasa, tidak hanya menahan makan-minum dan lainnya, tapi juga menahan seluruh nafsu itu sendiri.

Jadi Pintar Puasa Tingkat Tinggi Gerak Hati Dan Pikiran


Puasa tingkat pemula yakni puasa lahiriah, puasa tingkat menengah yakni seluruh anggota tubuh, sedangkan puasa tingkat tinggi yakni puasa hati. Dihati tidak ada daerah untuk selain Allah. Hati terlepas dari bayangan-bayangan rendah dan pikiran duniawi, total berisi Allah.

Imam Ghazali menyatakan bahwa rumusan puasa hati tidaklah panjang lebar, tidak perlu pemilahan yang jelimet. Yang panjang lebar, berliku yakni upaya mewujudkannya dalam bentuk amal. Sebab puasa hati yakni menghadap dengan semangat yang murni kepada Allah dan menghilangkan semua selain Allah.

Terkait: Puasa versi 4 madzhab

Dengan memikirkan sesuatu selain Allah, memikirkan bahan atau apapun yang ada di dunia ini, maka puasanya batal kecuali duniawi yang menjadi bekal akhirat.

Ulama yang menyelami puasa hati menyatakan bahwa orang yang masih mempunyai impian bekerja di siang hari untuk mendapat makanan untuk berbuka, maka itu sebuah kesalahan. Keinginan semacam itu timbul alasannya dia kurang mantap terhadap anugerah Allah dan tidak meyakini keniscayaan yang telah dijanjikan oleh Allah.

Puasa semacam ini yakni puasanya para nabi, orang-orang yang mempunyai kemantapan doktrin yang luar biasa, dan orang-orang yang betul-betul bersahabat dengan Allah.

Jadi, puasa tingkat tinggi sudah melampaui batas tubuh, menjadi semacam kesunyian total. Buah yang dipetik tidak sekedar kepatuhan atau keshahihan tapi juga kedekatan. Seluruh detik dari puasanya tertaut dengan hati, dengan memakai dua arah sekaligus, yaitu menghindar dan mendekap. Menghindari dan menghilangkan penyakit-penyakit yang tersembunyi di dalam hati, menghindari arus duniawi, kemudian fokus total kepada Allah Al-Wahid Al-Ahad.

Monday, 30 September 2019

Jadi Cendekia Hikmah Dogma Kepada Qadha Dan Qadar


Hikmah Iman Kepada Qadha dan Qadar. Menurut bahasa Qadha mempunyai beberapa pengertian yaitu: hukum, ketetapan, pemerintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan. Menurut istilah Islam, Qadha ialah ketetapan Allah semenjak zaman Azali (sebelum membuat apapun) sesuai dengan iradah-Nya perihal segala sesuatu yang berkenan dengan makhluk. Sedangkan Qadar berdasarkan bahasa adalah: kepastian, peraturan, ukuran. baca : Kenapa harus kitab kuning

Qadar ialah perwujudan atau kenyataan ketetapan Allah terhadap semua makhluk dalam kadar dan berbentuk tertentu sesuai dengan iradah-Nya. Allah berfirman :

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan ia telah membuat segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS .Al-Furqan, 2)

Macam-macam takdir


Takdir mua’llaq: yaitu takdir yang dekat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Contoh seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia mencar ilmu dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi insinyur pertanian.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

Bagi insan ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang sanggup menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S Ar-Ra’d ayat 11)

Takdir mubram; yaitu takdir yang terjadi pada diri insan dan tidak sanggup diusahakan atau tidak sanggup di tawar-tawar lagi oleh manusia. Contoh; Ada orang yang dilahirkan dengan mata sipit , atau dilahirkan dengan kulit gelap sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan sebagainya.

Hikmah Beriman kepada Qada dan qadar


1. Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan jikalau ditimpa oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kau meminta pertolongan. ”( QS. An-Nahl ayat 53).

2. Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa

يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah gosip perihal Yusuf dan saudaranya dan jangan kau berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS.Yusuf ayat 87)

3. Memupuk sifat optimis dan ulet bekerja

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kau melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat sepakat (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kau berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al- Qashas ayat 77)

4. Menenangkan jiwa

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ , ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً , فَادْخُلِي فِي عِبَادِي , وَادْخُلِي جَنَّتِي

Hai jiwa yang tenang... Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. al-Fajr, 27-30).

Jadi Bakir Mengungkap Kembali Definisi Tasawwuf


Mengungkap Kembali Definisi Tasawwuf. Tasawuf dalam islam berdasarkan perkembangannya, Sufi dan Tasawuf beriringan. Beberapa sumber dari kitab-kitab yang berkait dengan sejarah Tasawuf memunculkan banyak sekali definisi. Definisi ini pun juga berkait dengan para tokoh Sufi setiap zaman, disamping pertumbuhan perguruan Islam saat itu. Namun Reinold Nicholson, salah satu guru para orientalis, menciptakan telaah yang terlalu bergantung pada bukti mengenai Tasawuf atau Sufi ini, sehingga definisinya menjadi sangat historik, dan  terjebak oleh paradigma akademik-filosufis.

Pandangan Nicolson tentu diikuti oleh para pakar berikutnya yang mencoba mengungkap khazanah dalam dunia Islam, menyerupai J Arbery,  atau pun Louis Massignon. Walaupun sejumlah penelitian mereka harus diakui cukup berharga untuk mengungkap sisi lain yang selama ini terpendam. Bahwa dalam sejarah perkembangannya berdasarkan Nicholson, tasawuf yaitu sebagai bentuk ekstrim dari kegiatan keagamaan di masa dinasti Umawy, sehingga para aktivisnya melaksanakan semata hanya demi Allah saja dalam hidupnya. Bahkan lebih radikal lagi Tasawuf muncul tanggapan dari sinkretisme Kristen, Hindu, Buddha dan Neo-Platonisme serta Hellenisme.

Penelitian filosofis ini, tentu sangat menjebak, alasannya fakta-fakta spiritual intinya mempunyai keutuhan otentik semenjak zaman Rasulullah Muhammad Saw, baik secara tekstual maupun historis. Dalam kajian soal Sanad Thariqat, dapat terlihat bagaimana validitas Tasawuf secara praktis, hingga hingga pada alurnya Tasawuf Rasulullah Saw. Fakta itulah yang nantinya dapat membuka cakrawala historis, dan kelak juga besar lengan berkuasa munculnya banyak sekali ordo Thariqat yang kemudian terbagi menjadi Thariqat Mu’tabarah dan Ghairu Mu’tabarah.

Pandangan paling monumental perihal Tasawuf justru muncul dari Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang Ulama sufi era ke 4 hijriyah. Al-Qusyairy bahwasanya lebih menyimpulkan dari seluruh pandangan Ulama Sufi sebelumnya, sekaligus menepis bahwa definisi Tasawuf atau Sufi muncul melalui akar-akar historis, akar bahasa, akar intelektual dan filsafat di luar dunia Islam. Walaupun tidak secara transparan Al-Qusyairy menyebutkan definisinya, tetapi dengan mengangkat sejumlah wacana para tokoh Sufi, mengatakan betapa Sufi dan Tasawuf tidak dapat dikaitkan dengan sejumlah etimologi maupun sebuah tradisi yang  nantinya kembali pada akar Sufi.

Dalam penyusunan buku Ar-Risalatul Qusyairiyah misalnya, ia menegaskan bahwa apa yang ditulis dalam risalah tersebut untuk mengatakan kepada mereka yang salah paham terhadap Tasawuf, semata alasannya kebodohannya terhadap hakikat Tasawuf itu sendiri. Menurutnya Tasawuf merupakan bentuk amaliyah, ruh, rasa dan pekerti dalam Islam itu sendiri.

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglkah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.,” (Q.s. Asy-Syams: 7-8) ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan beliau berdzikir nama Tuhannya kemudian beliau shalat.” (Q.s. Al-A’laa: 14-15) “Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kau termasuk orang-orang yang alpa.” (Q.s. Al-A’raaf: 205) “Dan bertqawalah kepada Allah; dan Allah mengajarimu (memberi ilmu); dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.s. Al-Baqarah : 282)

Sabda Nabi Saw:
“Ihsan yaitu hendaknya engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)

Tasawuf pada prinsipnya bukanlah embel-embel terhadap Al-Qur’an dan hadits, justru Tasawuf yaitu implementasi dari sebuah kerangka agung Islam.

Dari seluruh pandangan para Sufi itulah kesudahannya Al-Qusayiry menyimpulkan bahwa Sufi dan Tasawuf mempunyai terminologi tersendiri, sama sekali tidak berawal dari etimologi, alasannya standar gramatika Arab untuk akar kata tersebut gagal membuktikannya. Tasawuf menerangkan adanya budpekerti relasi antara hamba dengan Allah Swt, dan relasi antara hamba dengan sesamanya. Dengan kata lain, Tasawuf merupakan wujud cinta seorang hamba kepada Allah dan RasulNya, ratifikasi diri akan haknya sebagai hamba dan haknya terhadap sesama di dalam amal kehidupan.

Jadi Cerdik Aturan Menyembunyikan Amal Kebaikan


Hukum Menyembunyikan Amal Kebaikan. Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan menyembunyikan amalan kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab bukan amalan-amalan yang wajib. Berkata Ibnu Hajar: ”At-Thobari dan yang lainnya telah menukil ijma’ bahwa sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.” (Al-Fath 3/365).

Sebagian mereka juga mengecualikan orang-orang yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk bersedekah terang-terangan biar dapat diikuti dengan syarat mereka kondusif dari riya’, dan hal ini tidaklah mungkin kecuali kalau kepercayaan dan keyakinan mereka yang kuat.

Imam Al-Iz bin Abdus Salam telah menjelaskan aturan menyembunyikan amalan kebajikan secara terperinci sebagai berikut. Beliau berkata, “Keta’atan (pada Allah) ada tiga:

  1. Amalan yang disyariatkan secara dengan dinampakan menyerupai adzan, iqomat, bertakbir, membaca Alquran dalam sholat secara jahr, khutbah-kutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, mendirikan sholat jumat dan sholat secara berjamaah, merayakan hari-hari ‘ied, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, maka hal-hal menyerupai ini mustahil disembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut riya, maka hendaknya ia berusaha bersungguh-sungguh untuk menolaknya sampai ia dapat lapang dada lalu ia dapat melaksanakannya dengan ikhlas, sehingga dengan demikian ia akan mendapat pahala amalannya dan juga pahala sebab kesungguhannya menolak riya, sebab amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk orang lain.
  2. Amalan yang kalau diamalkan secara tersembunyi lebih afdhol dari pada kalau dinampakkan. Contohnya menyerupai membaca qiro’ah secara perlahan tatkala sholat (yaitu sholat yang tidak disyari’atkan untuk menjahrkan qiro’ah), dan berdzikir dalam sholat secara perlahan. Maka dengan perlahan lebih baik daripada kalau dijahrkan.
  3. Amalan yang terkadang disembunyikan dan terkadang dinampakkan menyerupai sedekah. Jika ia kawatir tertimpa riya’ atau ia tahu bekerjsama biasanya kalau ia nampakan amalannya ia akan riya’, maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada kalau dinampakkan.

Adapun orang yang kondusif dari riya’ maka ada dua keadaannya:

  1. Dia bukanlah termasuk orang yang diikuti, maka lebih baik ia menyembunyikan sedekahnya, sebab dapat jadi ia tertimpa riya’ tatkala menampakkan sedekahnya.
  2. Dia merupakan orang yang dicontohi, maka ia menampakan sedekahnya lebih baik sebab hal itu membantu fakir miskin dan ia akan diikuti. Maka ia telah memberi manfaat kepada fakir miskin dengan sedekahnya dan ia juga menyebabkan orang-orang kaya bersedekah pada fakir miskin sebab mencontohi dia, dan ia juga telah memberi manfaat pada orang-orang kaya tersebut sebab mengikuti ia bersedekah soleh.” Qowa’idul Ahkam 1/125 (Sebagaimana dinukil oleh Sulaiman Al-Asyqor dal kitabnya Al-Ikhlash hal 128-129).

Tentunya kita lebih mengetahui diri kita, kita termasuk orang yang kondusif dari riya atau tidak.

Jadi Terpelajar Mengobati Penyakit Cinta Ketenaran Bab 1


Mengobati Penyakit Cinta Ketenaran Bagian 1. Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta benda hanya alasannya ialah untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penyanyi, ataupun para bintang film. Mereka selalu berusaha tampil beda supaya sanggup menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melaksanakan hal-hal yang asing dan yang diharamkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas bahkan ada yang hingga rela untuk berfoto "setengah-setengah", eh... bukan setengah lagi, tapi 90%, alasannya ialah hanya tersisa beberapa utas benang atau secarik kain yang menutupi tubuhnya, “awas jangan terbayang-bayang!!!” hehe... padahal dia hanya dibayar sangat rendah.

Sebagaimana yang kita saksikan kini ini. Hampir seluruh keanehan-keanehan yang dilakukan oleh insan sesungguhnya dikarenakan cinta popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya berwarna-warni layaknya kemucing, hehe jangan maaaraaah...! ada yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya lagi rambutnya panjang hingga pundak dan dicat hijau, ada yang rambutnya cuma ditengah saja panjang adapun sisanya gundul, ada yang dipotong menyerupai warna macan tutul (botak gundul botak gundul), ada yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada rambutnya, ada yang seluruh kepalanya gundul namun tersisia satu pelintiran yang panjang sekali, dan model-model yang lainnya yang berbagai yang aneh-aneh. Ini, padahal gres problem rambut, belum problem telinga, hiasan leher, apalagi model pakaian.

Yang semua ini hanyalah dilakukan demi ketenaran, saya yakin seandainya mereka itu tinggal di hutan yang tidak ada orang sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia hanya berteman binatang dan pepohonan, dia tidak akan melaksanakan hal-hal asing yang telah dia lakukan, alasannya ialah tidak ada orang yang memperhatikannya. Kalau dia tetap asing juga maka dia akan populer diantara para hewan. Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.

Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti para andal ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang bentuknya berbeda, namun hakekatnya sama ialah cinta popularitas. Ahli ibadah juga pingin kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para andal ibadah yang lain, andal ilmu pun ingin orang lain tahu bergotong-royong dia ialah seorang yang pandai, sehingga hasilnya martabatnya tinggi dihadapan manusia. Penyakit inilah yang dalam kamus agama disebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang) dan sum’ah (pingin didengar orang).

Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan hingga ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapat kehormatan dimata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil apapun kebaikan itu, jangan hingga ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin supaya yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah.

Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45). Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 6500 dia berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang senang (masuk surga)”.

Oleh alasannya ialah itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan alasannya ialah mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar kebanggaan manusia.

Kita lihat bagaimana hati para salafi dalam menjaga niat mereka, untuk sanggup memberikan satu hadits saja (yang mungkin hanya beberapa buah kata) dia memperhatikan niatnya berulang-ulang. Bagaimana dengan kita sekarang? Bukan cuma berpuluh-puluh kata yang kita lontarkan, bahkan beribu-ribu kata (tatkala mengisi pengajian, atau memberi pendapat atau nasehat tatkala diminta, atau yang lainnya…) pernahkah kita mengecek niat kita disela-sela pembicaraan kita??. Terkadang seseorang di awal sedang mengisi pengajian, dia mendapati niatnya ikhlas. Namun tatkala di tengah pengajian, disaat dia memandang bagaimana para pendengarnya terkagum-kagum dengan kefasihannya melontarkan dalil disaat itulah syaitan berperan aktif untuk merubah niatnya. Waspadalah wahai para saudaraku… sesungguhnya hanya sedikit yang selamat dari muslihat syaitan.

Kalau seseorang telah selamat dari muslihat syaitan hingga selesai amalnya, ingatlah…syaitan tidak putus asa. Dia mulai menggelitik hati orang tersebut dan merayu orang tersebut untuk menceritakan amalan solehnya pada manusia, dan syaitan menipunya dengan berkata, ”Ini bukanlah riya…, supaya kau sanggup dicontohi manusia…”. Akhirnya terjebaklah orang tersebut dan diapun mengungkapkan kebaikan-kebaikannya dihadapan orang, maka sanggup jadi diapun menceritakan kabaikan-kebaikannya pada insan alasannya ialah riya’, maka ini merupakan kecelakaan baginya, atau kalau tidak maka minimal pahalanya berkurang. Karena pahala amalan yang sirr (disembunyikan) lebih baik daripada amalan yang diketahui orang lain.

Allah berfirman, yang artinya: “Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu ialah baik sekali. Dan kalau kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqoroh: 271).

Berkata Ibnu Kasir dalam Tafsirnya, ”Asalnya isror (amalan secara tersembunyi tanpa diketahui orang lain) ialah lebih afdol dengan dalil ayat ini dan hadits dalam shohihain (Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh, dia berkata: “Berkata Rasulullah : ”Tujuh golongan yang berada dibawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam yang adil, dan seorang yang beramal kemudian dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya” Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (1423) dan Muslim (2377). Berkata Imam Nawawi: ”Berkata para Ulama bahwanya penyebutan asisten dan kiri menandakan kesungguhan dan sangat dismbunyikannya serta tidak diketuhinya sedekah. Wallahu A’lam.

Jadi Berilmu Mengobati Penyakit Cinta Ketenaran Bab 2


Mengobati Penyakit Cinta Ketenaran Bagian 2. Berkata Abdullah bin Mas’ud, “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian niscaya akan melemparkan tanah di kepalaku, saya sungguh berangan-angan semoga Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan saya dipanggil dengan Abdullah bin Rowtsah”. (Al-Mustadrok 3/357 no. 5382). Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((“Untaian kalimat ini ialah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi sebab tersohornya seseorang mungkin terjadi jikalau orang tersebut mempunyai kelebihan diantara manusia, bahkan sanggup jadi orang-orang mengagungkannya, sanggup jadi orang-orang memujinya, sanggup jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya.

Seseorang jikalau semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh sebab tidaklah suatu hal yang mengherankan jikalau Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada Abu Bakar –padahal ia ialah orang yang terbaik dari umat ini dari para sobat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam - yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam-pen), yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah berkata tentangnya, “Jika ditimbang keyakinan Abu Bakar dibanding dengan keyakinan umat maka akan lebih berat keyakinan Abu Bakar”, namun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkannya untuk berdo’a di final sholatnya, “Robku, sesungguhnya saya telah banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau maka ampunilah saya dengan pengampunanMu”.

Yang mewasiatkan ialah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan yang diwasiatkan ialah Abu Bakar As-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Robnya maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia diagungkan diantara manusia, khawatir diangkat-angkat diantara manusia, sebab ia mengetahui hak-hak Allah sehingga beliau mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.

Diantara insan ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan tersohor sebab keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Diantara insan ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.

Diantara mereka ada yang menjadi da’i yang populer dengan pengorbanannya dan perjuangannya dalam berdakwah maka orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya sebab Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaranya. Demikian juga ada yang populer dengan sikapnya yang selalu menunaikan amanah, ada yang tersohor dengan sikapnya yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan demikianlah… Posisi terkenalnya seseorang merupakan posisi yang sangat gampang menggelincirkan seseorang, oleh sebab itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya sendiri dengan menjelaskan keadaan dirinya (yang penuh dengan dosa), dan menjelaskan apa yang wajib bagi setiap orang yang mempunyai pengikut…

Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya diantara insan dan menampakkan hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan insan namun semoga semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua kembali kepada keikhlasan, sebab diantara insan ada yang merendahkan dirinya di hadapan insan namun semoga tersohor dan ini ialah termasuk (tipuan) syaitan.

Dan diantara insan ada yang merendahkan dirinya di hadapan insan dan Allah mengetahui hatinya bekerjsama ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan dengan Allah, ia takut hari di mana dibalas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada disimpan di hati-hati, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak sanggup menyembunyikan pembicaraan mereka di hadapan Allah.

Ini ialah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang diikutinya itu dihentikan diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya berupa syari’at Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat, sebab yang diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Adapun insan yang lain maka jikalau mereka baik maka bagi mereka rasa cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut, rendah, dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan bangun di hadapan Allah, ingat bekerjsama ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang di belakangnya.

Oleh sebab itu tatkala Abu Bakar dipuji di hadapan insan maka ia berkutbah sehabis itu dan riwayat ini shahih sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata: “Ya Allah jadikanlah saya lebih baik dari apa yang mereka persangkakan dan ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak ketahui”, ia mengucapkan doa ini dengan keras untuk mengingatkan insan bekerjsama ia mempunyai dosa sehingga mereka tidak berlebih-lebihan kepadanya.

Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat pada kenyataan dimana orang yang diagungkan semakin menjadi-jadi semoga diagungkan dirinya??, orang yang mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang diikutinya?? Ini bukanlah jalan para sobat radhiallahu ‘anhum, Umar terkadang ujub dengan dirinya -dan beliau ialah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan masuk nirwana sehabis Abu Bakar-, maka ia pun memikul suatu barang di tengah pasar untuk merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa dirinya besar.

Diantara kesalahan-kesalahan ialah sifat ujub (takjub dengan diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya waw (hebat). Ada diantara salafus shalih yang jikalau hendak memberikan suatu (mau’idzoh) dan jikalau ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut, kenapa?, sebab keselamatan jiwanya lebih utama dibandingkan keselamatan jiwa orang lain, sebab ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari bahwa dirinya mulai mencicipi bahwa dirinya bahagia sebab kehadiran mereka, yang pada membisu memperhatikannya, dan memperhatikannya, maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akhir hal tersebut, Namun yang paling penting ialah keselamatan jiwa dan hatinya dihadapan Allah. Dan keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan hati orang lain…”)). (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud).
Riya itu samar

Sungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bekerjsama riya itu samar sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melaksanakan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bekerjsama ada seseorang yang selalu sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa aib kepada jama’ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bekerjsama selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama ialah sebab pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).

Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri kemudian mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya saya sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”, kemudian Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan hingga majelis kita ini ialah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah menentukan perkataanmu yang terbaik kemudian engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah menentukan perkataanku yang terbaik kemudian saya sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk saya dan saya pun telah berhias untukmu”, kemudian Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan saya semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).

Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari final zaman menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan (jelaslah) bagi mereka akhir buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48). “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfy: 104).

Sunday, 29 September 2019

Jadi Arif Antara Tulus Dan Riya? Mana Yang Kita Pilih?


Antara Ikhlas dan Riya? Mana Yang Kita Pilih?. Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu menurut niatnya dan bergotong-royong bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya yakni kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya alasannya yakni untuk menggapai dunia atau perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).
Berkata Abdurrahman bin Mahdi, “Kalau seandainya saya menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka saya akan mengakibatkan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum 1/8).

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini yakni sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).
Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu menurut niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang gres dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal terang dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).

Sesungguhnya pembahasan wacana tulus yakni pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid yakni inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah mendapatkan kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, “Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).

Maka kasus apa saja yang merupakan kasus agama Allah jikalau hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jikalau diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, alasannya yakni Allah tidak mendapatkan amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang kholis (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang beliau syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:

Allah berfirman “Aku yakni yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang berzakat suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang beliau syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia yakni hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan beliau dan ksyirikannya”).

Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, “Lafal ‘amalan’ disini yakni nakiroh dalam konteks kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga meliputi seluruh jenis amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun amalan yang mengandung amalan tubuh dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”. (At-Tamhid hal. 401).

Jadi Bakir Antara Nuzulul Quran Dan Lailatul Qadar


Antara Nuzulul Alquran dan Lailatul Qadar. Lailatul Qadar ialah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi perihal keistimewaan malam ini sanggup dijumpai pada Surat Al-Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.

Menurut Prof. Dr. HM. Quraish Shihab, MA, kata Qadar (قﺩﺭ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur'an sanggup mempunyai tiga arti yakni:

  1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan sanggup dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sebetulnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami
  2. Kemuliaan. Malam tersebut ialah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia lantaran terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan sanggup dijumpai pada surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara perihal kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat
  3. Sempit. Malam tersebut ialah malam yang sempit, lantaran banyaknya malaikat yang turun ke bumi, ibarat yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan sanggup dijumpai pada surat Ar-Ra'd ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)

Lailatul Qadar sanggup juga kita artikan sebagai malam pelimpahan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada umat islam yang berkehendak untuk mendapat bab dari pelimpahan keutamaan itu. Keutamaan ini menurut nilai Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Keistimewaan

Dalam Al Qur'an, tepatnya Surat Al Qadar malam ini dikatakan mempunyai nilai lebih baik dari seribu, bulan .97:1 Pada malam ini juga dikisahkan Al Qur'an diturunkan, ibarat dikisahkan pada surat Ad Dukhan ayat 3-6. 44:3

Terdapat pendapat yang menyampaikan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan, hal ini menurut hadits dari Aisyah yang menyampaikan : " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan bulan berkat dan dia bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon" " (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Lailatul Qadar kemungkinan akan "diwujudkan" oleh Allah pada malam ganjil, tetapi mengingat umat islam memulai awal puasa pada hari atau tanggal yang berbeda, maka umat islam yang menghendaki untuk mendapat keutamaan Lailatul Qadar sanggup "mencarinya" setiap malam. Agar kita yang menghendaki "mendapatkan" Lailatul Qadar, maka berbuka puasalah "sekedarnya" saja semoga tubuh tidak "menjadi berat" dan malas serta menjadi alasannya ialah ngantuk dan gampang tertidur, sehingga yang kita inginkan untuk mendapat Lailatul Qadar tidak membuahkan hasil.

  1. Al Qur’an diturunkan ke langit dunia pada malam Lailatul Qodr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw sehabis dia diutus di Mekah dan Madinah. Banyak para ulama yang menyampaikan bahwa pendapat inilah yang paling benar
  2. Al Qur’an diturunkan ke langit dunia pada 20 malam Lailatul Qodr atau 23 atau 20 atau 25, sebagaimana adanya perbedaan pendapat perihal lamanya Rasulullah saw menetap di Mekah sehabis diutus di setiap malam lailatul qodr diturunkan sejumlah tertentu sesuai dengan ketetapan Allah swt setiap tahunnya kemudian turun sehabis itu secara berangsur-angsur di seluruh tahunnya, demikianlah pendapat Fakhrur Rozi dan dia sendiri tidak beropini perihal apakah pendapat ini atau pendapat pertama yang lebih utama.
  3. Al Qur’an diturunkan pertama kali pada malam Lailatul Qodr kemudian diturunkan sehabis itu dengan cara berangsru-angsur pada waktu yang berbeda-beda, demikianlah pendapat Sya’bi.
  4. Al Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfuz sekaligus dan malaikat-malaikat penjaga menurunkannya secara berangsur-angsur kepada jibril selama 20 malam kemudian Jibril menurunkannya secara berangsur-angsur kepada Nabi saw selama 20 tahun. Ini ialah pendapat yang aneh. (Fatawa al Azhar, VII/469)

Adapun yang menjadi dasar kaum muslimin didalam memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan dimungkinkan lantaran pada tanggal itu diturunkannya ayat pertama dari surat al Alaq kepada Nabi Muhammad saw,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir didalam kitabnya ”Al Bidayah wa an Nihayah” menukil dari al Waqidiy dari Abu Ja’far al Baqir yang menyampaikan bahwa awal diturunkannya wahyu kepada Rasulullah saw ialah pada hari senin tanggal 17 Ramadhan akan tetapi ada juga yang menyampaikan tanggal 24 Ramadhan. Wallahu A’lam...

Referensi : Dr. M. Quraish Shihab, M.A. | Tafsir Maudhu'i atas Berbagai Persoalan Umat | Mizan, Bandung

Friday, 13 September 2019

Jadi Pintar Ada Apa Dengan Kita? Kok Menyombongkan Diri


Ada Apa Dengan Kita? Kok Menyombongkan Diri. Saudaraku, ketika kendaraan beroda empat glamor dan mulus yang kita miliki tergores, goresannya bagai menyayat hati kita. Saat kita kehilangan handphone di tengah jalan, separuh badan ini menyerupai hilang bersama barang pujian kita tersebut. Saat orang mengambil secara paksa uang kita, seolah terampas semua harapan.

Tetapi saudaraku, tak sedikitpun keresahan dalam hati ketika kita melaksanakan perbuatan yang melanggar perintah Allah, kita masih merasa hening meski terlalu sering melalaikan sholat, kita masih bangun tegak dan sombong meski tak sedikitpun infak dan shodaqoh tersisihkan dari harta kita, meski disekeliling kita bawah umur yatim menangis menahan lapar. Saudaraku, ada apa dengan kita?

Saudaraku, kata-kata kotor dan dampratan seketika keluar tatkala sebuah kendaraan beroda empat yang melaju kencang menciprati pakaian higienis kita. Enggan dan aib kita memakai pakaian yang terkena noda tinta meski setitik dan kita akan tanggalkan pakaian-pakaian yang robek, bolong dan menggantinya dengan yang baru.

Tetapi saudaraku, kita tak pernah ambil pusing dengan tumpukan dosa yang mengotori badan ini, kita tak pernah merasa aib berjalan meski wajah kita penuh noda kenistaan, kita pun tak pernah tahu bahwa titik-titik hitam terus menyerang hati ini sampai saatnya hati kita begitu pekat, dan kitapun tak pernah mencoba memperbaharuinya. Saudaraku, ada apa dengan kita?
Saudaraku, kita merasa tidak dihormati ketika teguran dan sapaan kita tidak didengarkan, hati ini begitu sakit jikalau orang lain mengindahkan panggilan kita, terkadang kita kecewa ketika orang lain tidak mengenali kita meski kita seorang pejabat, pengusahan, kepala pemerintahan, tokoh masyarakat bahkan orang terpandang, kita sangat khawatir kalau-kalau orang membenci kita, dan berat rasanya ketika orang-orang meninggalkan kita.

Tetapi juga saudaraku, tidak jarang kita abaikan pesan yang tersirat orang, begitu sering kita tak mempedulikan panggilan adzan, tak bergetar hati ini ketika lantunan ayat-ayat Allah terdengar ditelinga. Dengan segala kealpaan dan kekhilafan, kita tak pernah takut jikalau Allah Yang Maha Menguasai segalanya membenci kita dan memalingkan wajah-Nya, kita pun tak pernah mau tahu, Baginda Rasulullah mengenali kita atau tidak di Padang Masyhar nanti. Kita juga, tak peduli melihat diri ini jauh dari kumpulan orang-orang sholeh dan beriman.

Saudaraku, tanyakan dalam hati kita masing-masing, ada apa dengan kita? Wallahu a'lam bishshowaab. (Bayu Gautama)

Jadi Pintar Hakekat Istighatsah Dan Tawassul


Hakekat Istighatsah dan Tawassul. Para ulama menyerupai al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin al-Subki menegaskan bahwa tawassul, istisyfa’, istighatsah, isti’anah, tajawwuh dan tawajjuh, mempunyai makna dan hakekat yang sama. “Memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya ancaman (keburukan) kepada Allah dengan menyebut nama seorang nabi atau wali untuk memuliakan (ikram) keduanya”. (Al-Hafizh al-’Abdari, al-Syarh al-Qawim, hal. 378).

Sebagian kalangan ulama mempunyai persepsi bahwa tawassul yaitu memohon kepada seorang nabi atau wali untuk mendatangkan manfaat dan menjauhkan ancaman dengan keyakinan bahwa nabi atau wali itulah yang mendatangkan manfaat dan menjauhkan ancaman secara hakiki. Persepsi yang keliru perihal tawassul ini kemudian membuat mereka menuduh orang yang ber-tawassul kafir dan musyrik. Padahal hakekat tawassul di kalangan para pelakunya yaitu memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya ancaman (keburukan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut nama seorang nabi atau wali untuk memuliakan keduanya.

Ide dasar dari tawassul ini yaitu sebagai berikut. Allah subhanahu wa ta’ala telah tetapkan bahwa biasanya urusan-urusan di dunia ini terjadi menurut aturan kausalitas; alasannya akibat. Sebagai contoh, Allah subhanahu wa ta’ala bahwasanya Maha Kuasa untuk menunjukkan pahala kepada insan tanpa beramal sekalipun, namun kenyataannya tidak demikian. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan insan untuk beramal dan mencari hal-hal yang mendekatkan diri kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan bahwasanya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”. (QS. al-Baqarah : 45).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman: “Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (Allah)”. (QS. al-Ma’idah : 35).

Ayat ini memerintahkan untuk mencari segala cara yang sanggup mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, carilah sebab-sebab tersebut, kerjakanlah sebab-sebab itu, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mewujudkan akibatnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebabkan tawassul dengan para nabi dan wali sebagai salah satu alasannya dipenuhinya permohonan hamba. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala Maha Kuasa untuk mewujudkan akhir tanpa sebab-sebab tersebut. Oleh lantaran itu, kita diperkenankan ber-tawassul dengan para nabi dan wali dengan impian biar permohonan kita dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Jadi, tawassul yaitu alasannya yang dilegitimasi oleh syara’ sebagai sarana dikabulkannya permohonan seorang hamba. Tawassul dengan para nabi dan wali diperbolehkan baik di dikala mereka masih hidup atau mereka sudah meninggal. Karena seorang mukmin yang ber-tawassul, tetap berkeyakinan bahwa tidak ada yang membuat manfaat dan mendatangkan ancaman secara hakiki kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Para nabi dan para wali tidak lain hanyalah alasannya dikabulkannya permohonan hamba lantaran kemuliaan dan ketinggian derajat mereka.

Ketika seorang nabi atau wali masih hidup, Allah subhanahu wa ta’ala yang mengabulkan permohonan hamba. Demikian pula sehabis mereka meninggal, Allah subhanahu wa ta’ala juga yang mengabulkan permohonan seorang hamba yang ber-tawassul dengan mereka, bukan nabi atau wali itu sendiri.

Sebagaimana orang yang sakit pergi ke dokter dan meminum obat biar diberikan kesembuhan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, meskipun keyakinannya pencipta kesembuhan yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan obat hanyalah alasannya kesembuhan. Jika obat yaitu tumpuan sabab ‘âdi (sebab-sebab alamiah), maka tawassul yaitu sabab syar’i (sebab-sebab yang diperkenankan syara’).

Syaikh Majdi Ghassan Ma’ruf al-Husaini, seorang ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah dari Lebanon bercerita, “Suatu ketika seorang Wahhabi dengan beraninya berkata kepada saya, “Mengapa kalian selalu ber-istighatsah dengan mengucapkan “Ya Muhammad”. Ucapkan saja “Ya Allah”, tanpa perantara!” Saya bertanya, “Kalau Anda terjangkit sakit kepala, apa yang Anda lakukan?” Ia menjawab: “Saya minum dua tablet obat sakit kepada”.

Saya berkata: “Mengapa Anda melaksanakan itu? Bukankah Allah itu Maha Penyembuh? Mengapa Anda tidak eksklusif saja berdoa kepada Allah, “Ya Allah, ya Syafi isyfini (Ya Allah, Dzat Yang Maha Penyembuh, sembuhkanlah aku)”. Mengapa Anda membuat mediator dan alasannya musabab untuk kesembuhan antara anda dengan Allah? Kalau anda minum dua tablet obat tersebut sebagai mediator kesembuhan Anda, maka kami Ahlussunnah Wal-Jama’ah menyebabkan Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai mediator kami, dan beliaulah mediator yang paling agung.” Akhirnya, Wahhabi tersebut tidak sanggup menjawab.

Oleh karenanya, tawassul merupakan hal yang harus kita lakukan. atau sanggup dikatakan tawasul sebagai perantara, menyerupai juga dalan mencari rezeki. Maka juga harus ada mediator (bos/majikan, teman, atau pemberi kerja).

Jadi Bakir Definisi Lapang Dada Berdasarkan Etimologi Atau Bahasa Dan Syara'


Pengertian Ikhlas berdasarkan bahasa yakni sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang sanggup mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” bila sama sekali tidak tercampur dengan adonan dari luar, dan dikatakan “harta ini yakni murni untukmu” maksudnya yakni tidak ada seorangpun yang bersyarikat bersamamu dalam mempunyai harta ini. Hal ini sebagaimana firman Allah ihwal perempuan yang menghadiahkan dirinya untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,

Dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. (QS. Al Ahzaab: 50).

Dan sesungguhnya pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang higienis antara tahi dan darah, yang gampang ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. An Nahl: 66).

Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: “Tidakkah kau ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil kesepakatan dari kau dengan nama Allah dan sebelum itu kau telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu saya tidak akan meninggalkan negeri Mesir, hingga ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia yakni hakim yang sebaik-baiknya”. (QS. Yusuf: 80). Yaitu para saudara Yusuf menyendiri untuk saling berbicara diantara mereka tanpa ada orang lain yang menyertai pembicaraan mereka.

Pengertian Ikhlas Menurut Syara'


Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan nrimo namun hakikat dari definisi-definisi mereka yakni sama. Diantara mereka ada yang mendefenisikan bahwa nrimo yakni “menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah”, yaitu bila engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia.

Ada yang menyampaikan juga bahwa nrimo yakni “membersihkan amalan dari komentar manusia”, yaitu bila engkau sedang melaksanakan suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan insan untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka ihwal perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu sebenarnya engkau nrimo dalam amalanmu itu untukNya.

Dan inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak menyebabkan perhatiannya kepada perkataan insan sehingga aktivitasnya tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia menyebabkan perhatiannya kepada Robb manusia, lantaran yang jadi patokan yakni keridhoan Allah kepadamu (meskipun insan tidak meridhoimu).

Ada juga menyampaikan bahwa nrimo yakni “samanya amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin”, adapun riya’ yaitu dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik daripada batinnya dan nrimo yang benar (dan ini derajat yang lebih tinggi dari nrimo yang pertama) yaitu batin seseoang lebih baik daripada dzohirnya, yaitu engkau menampakkan perilaku baik dihadapan insan yakni lantaran kebaikan hatimu, maka sebagaimana engkau menghiasi amalan dzohirmu dihadapan insan maka hendaknya engkaupun menghiasi hatimu dihadapan Robbmu.

Ada juga yang menyampaikan bahwa nrimo adalah, “melupakan pandangan insan dengan selalu memandang kepada Allah”, yaitu engkau lupa sebenarnya orang-orang memperhatikanmu lantaran engkau selalu memandang kepada Allah, yaitu seolah-olah engkau melihat Allah yaitu sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ihwal ihsan “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan bila engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu”. Barangsiapa yang berhias dihadapan insan dengan apa yang tidak ia miliki (dzohirnya tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh dari pandangan Allah, dan barangsiapa yang jatuh dari pandangan Allah maka apalagi yang bermanfaat baginya?

Oleh lantaran itu hendaknya setiap orang takut jangan hingga ia jatuh dari pandangan Allah lantaran bila engkau jatuh dari pandangan Allah maka Allah tidak akan perduli denganmu dimanakah engkau akan binasa, bila Allah meninggalkan engkau dan menyebabkan engkau bersandar kepada dirimu sendiri atau kepada makhluk maka berarti engkau telah bersandar kepada sesuatu yang lemah, dan terlepas darimu sumbangan Allah, dan tentunya akibat Allah pada hari alam abadi lebih keras dan lebih pedih. (Dari ceramah dia yang berjudul ikhlas. Definisi-definisi ini sebagaimana juga yang disampaikan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya “Tazkiyatun Nufus” hal. 13).

Berkata Syaikh Abdul Malik, “Ikhlas itu bukan hanya terbatas pada urusan amalan-amalan ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja (tetap) diperintahkan oleh Allah untuk nrimo dalam dakwahnya”. Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan saya tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)..

Yaitu dakwah hanyalah kepada Allah bukan kepada yang lainnya, dan dakwah yang membuahkan keberhasilan yakni dakwah yang dibangun lantaran untuk mencari wajah Allah. Aku memperingatkan kalian jangan hingga ada diantara kita dan kalian orang-orang yang bahagia bila dikatakan bahwa kampung mereka yakni kampung sunnah, bahagia bila masjid-masjid mereka disebut dengan masjid-masjid ahlus sunnah, atau masjid mereka yakni masjid yang pertama yang menghidupkan sunnah ini dan sunnah itu, atau masjid pertama yang menghadirkan para masyayikh salafiyyin dalam rangka mengalahkan selain mereka, namun terkadang mereka tidak sadar bahwa amalan mereka hancur dan rusak padahal mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya.

Dan ini yakni petaka yang sangat menyedihkan yaitu syaitan menggelincirkan seseorang sedikit-demi sedikit hingga terjatuh ke dalam jurang sedang ia menyangka bahwa ia sedang berada pada keadaan yang sebaik-baiknya. Betapa banyak masjid yang saya lihat yang Allah menghancurkan amalannya padahal dulu jemaahnya dzohirnya berada di atas sunnah lantaran disebabkan rusaknya batin mereka, dan alasannya yakni berlomba-lombanya mereka untuk dikatakan bahwa jemaah masjid yakni yang pertama kali berada di atas sunnah, hendaknya kalian berhati-hati…”

Monday, 12 August 2019

Jadi Akil Tasawuf Aib Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Tasawuf Malu Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Sifat pemalu yang biasanya sangat lekat dengan wanita membuahkan kekuatan spiritual yang jago dikala bersentuhan dengan penempaan tasawuf. Beberapa sufi wanita semacam Saidah binti Zaid, Lubabah asy-Syamiyah dan Dzakkarah populer dengan “tasawuf malu” dalam menjalani suluk.

Dalam kerangka sufistik mereka, aib kepada Allah, setidaknya diwujudkan dalam tiga hal, yaitu:

  1. malu untuk meminta dikala menyadari kelalaian diri dalam menyukuri nikmat Allah;
  2. malu untuk disibukkan oleh selain Allah dikala dirinya sudah mengenal Allah; dan
  3. malu dilihat Allah jikalau melaksanakan hal-hal yang membuat-Nya tidak suka.

Tiga pengejawantahan religius itu sudah sangat cukup untuk menciptakan seseorang terus menerus beribadah, bersyukur dan menghindari segala bentuk larangan Allah, baik yang haram maupun yang makruh. Inilah mungkin yang menjadi substansi dalam sabda Rasulullah, “Bila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang engkau mau.” (HR al-Bukhari dari Abu Mas’ud).

Sunday, 24 February 2019

Jadi Akil 6 Tips Atau Cara Mengatasi Dan Mengendalikan Emosi Berdasarkan Islam


Sikap Emosional ialah perilaku yang sering kali menciptakan seseorang menjadi salah dalam menetapkan sesuatu didalam problematika kehidupannya. Seseorang yang emosional cenderung akan menjawab segala permasalahan dengan amarahnya. Seolah-olah hanya dengan perilaku emosi semua hal akan sanggup  teratasi dan terselesaikan di dalam menjalani hidup ini. Hal semacam itu ialah merupakan cara yang sangat keliru, lantaran perilaku yang emosional akan menciptakan terhambatnya seseorang untuk mengambil pesan yang tersirat dari proses hidup yang dijalani.

Berikut beberapa tips / cara mengatasi dan mengendalikan saat sedang emosi:

1. Meyakini bahwa setiap kasus ataupun kesulitan yang kita hadapi ialah merupakan bentuk ujian yang diberikan oleh Allah Swt kepada setiap hambaNya untuk memilih siapa yang terbaik amal perbuatannya di antara kita. Sebab intinya insan diciptakan ialah untuk diuji. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman : "Dialah Allahyang menimbulkan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kau yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk : 2)

2. Menyadari bahwa segala hal duduk kasus atau permasalahan yang diselesaikan dengan sikap emosional tidak akan memperlihatkan hasil yang positif. Justu akan memperlihatkan hasil yang negatif yang sering kali memanjakan diri dengan fatwa penuh kebencian, kekesalan, ataupun kemarahan.

3. Bersabar terhadap segala kondisi yang sedang dialami. Karena kesabaran akan menciptakan seseorang sanggup berfikir dengan jernih dan bisa mengambil suatu tindakan yang lebih bijak. Setelahkesabaran telah mendamaikan diri dan sanggup terkendali sepenuhnya, kita pun bisa memikirkan suatu cara yang bisa memperlihatkan solusi.

4. Mempercerdas emosi yang salah satu caranya ialah dengan menyingkirkan amarah ataupun aura-aura sejenisnya yang intinya tidak mendukung dan justru menjerumuskan seseorangkepada hal yang salah.

5. Wajah berseri, pancaran wajah sangatlah penting. Pancaran wajah ialah merupakan cerminan yang bisa terlihat sesuai dengan kondisi yang sedang dialaminya. Sungguh sangatlah berbeda pancaran wajah dari orang yang sedang emosi yang terlihat angker (tidak yummy dipandang) dibandingkan dengan orang yang sedang senang yang terlihat berseri. Oleh lantaran itu, perlihatkanlah pancaran wajah yang berseri lantaran hal itu merupakan salahsatu amalan yang sangat baik.

Sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda : Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : "Sesungguhnya kalian tidak akan cukup memberi insan dengan harta kalian tetapi kalian akan cukup memperlihatkan kepada mereka dengan wajah yang berseri dan budpekerti yang baik." (Riwayat Abu Ya’la. Hadits shahih berdasarkan Hakim).

6. Mencari solusi terbaik dengan penuh pertimbangan yang maksimal dan nantinya sanggup memperlihatkan hasil baik.

Demikian tips atau cara mengatasi emosi berdasarkan syariat islam, biar bermanfaat...

Jadi Cerdik Inilah 7 Cara Paling Efektif Mengendalikan Emosi Dalam Islam


Emosi yaitu ungkapan mulut seseorang terhadap suatu kondisi, peristiwa,atau insiden yang menyangkut perihal dirinya. Dalam hal ini (emosi) merupakan hal yang paling disenangi setan alasannya dengan cara ini setan bisa dengan leluasa mengendalikan manusia, terlebih insan bisa dengan gampang menyampaikan kata-kata yang tidak diinginkan ketika marah. Emosi/marah bisa merusak apa saja yang ada di sekitarnya ibarat mambanting piring, lempar gelas hingga pada tindak pid@na.

Tentu saja, persoalan tidak selesai hingga di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan alasannya marah.

Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat insan untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biar insan tidak gampang terpancing emosi. Berikut inilah 7 Cara paling Efektif Mengendalikan Emosi berdasarkan syariat Islam yang bisa anda coba supaya hidup menjadi lebih baik:

1. Berpikir perihal hadits yang bisa menahan marah


الأول أن يتفكر في الأخبار التي سنوردها في فضل كظم الغيظ والعفو والحلم والاحتمال فيرغب في ثوابه

Bertafakur dengan hadits-hadits perihal kelebihan orang yg bisa menahan amarah, sebagiannya "hai anak adam, ingatlah Aku ketika marah, Aku akan mengingatmu dikala murka maka tidak akan Aku hapus engkau dalam golongan orang-orang yang Aku hapus".

2. Menakuti diri kita sendiri akan siksaan Allah bagi orang pemarah


الثاني أن يخوف نفسه بعقاب الله

3. Mengingat pengaruh permusuhan


الثالث أن يحذر نفسه عاقبة العداوة والانتقام وتشمر العدو لمقابلته والسعي في هدم أغراضه والشماتة بمصائبه وهو لا يخلو عن المصائب فيخوف نفسه بعواقب الغضب في الدنيا إن كان لا يخاف من الآخرة

Mengingatkan dirinya sendiri akan pengaruh permusuhan alasannya bias saja akan berdampak menimbulkan petaka di dunia pada diri sendiri bila ia tidak takut akan dampak marah dikala di alam abadi kelak

4. Melihat jeleknya orang marah


الرابع أن يتفكر في قبح صورته عند الغضب بأن يتذكر صورة غيره في حالة الغضب ويتفكر في قبح الغضب في نفسه

Melihat jeleknya marah, dengan cara mengingat orang lain dikala marah, bararti kitapun jika murka juga jelek.

5. Mengingat hal yang menciptakan marah


الخامس أن يتفكر في السبب الذي يدعوه إلى الانتقام ويمنعه من كظم الغيظ

Mengingat-ingat kembali hal yang menjadikan kita murka dan bisa menghilangkan sabar kita

6. Menyadari kenapa kita marah


السادس أن يعلم أن غضبه من تعجبه من جريان الشيء على وفق مراد الله لا على وفق مراده فكيف يقول مرادي أولى من مراد الله ويوشك أن يكون غضب الله عليه أعظم من غضبه

Mencoba menyadari bahwa murka bergotong-royong yaitu cita-cita biar yang dikehendaki sesuai dengan kehendak Allah, bukankah artinya kita akan memaksakan kehendak kita diatas kehendak Allah ?

7. Membaca ta'awwudz


وأما العمل فأن تقول بلسانك أعوذ بالله من الشيطان الرجيم هكذا أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يقال عند الغيظ

Saat murka cobalah membaca TAAWWUDZ.

Mungkin hanya itu saja dari perihal cara paling ampuh mengendalikan emosi/marah, semoga bermanfaat.

Referensi: Ihya 'Ulumuddin, juz III hal. 173