Showing posts with label PBM. Show all posts
Showing posts with label PBM. Show all posts

Sunday, 27 November 2022

Pasti Dapat Nilai Angka Merah Versus Nilai Tidak Tuntas

Nilai angka merah versus nilai tidak tuntas – Bapak dan Ibu guru yang sudah dua atau tiga puluh tahun mengajar. Pasti masih mengingat ihwal hasil berguru siswa yang tertera di buku rapor. Nilai siswa dinyatakan dengan angka merah (angka 5 ke bawah) dan angka biru atau hitam (nilai 6 ke atas).

Nilai angka merah versus nilai tidak tuntas PASTI BISA Nilai Angka Merah Versus Nilai Tidak Tuntas
Ilustrasi penulisan nilai di rapor siswa (matrapendidikan.com)

Angka bertinta merah (angka 5) menunjukkan siswa yang tidak menguasai bahan pelajaran. Di buku rapor nyata-nyata dituliskan angka 5 itu dengan tinta berwarna merah.

Saat mengisi rapor siswa, rapor semester ganjil atau genap, guru kelas atau guru wali kelas harus menyediakan dua pena atau pulpen. Pena bertinta merah dan pulpen bertinta hitam atau biru.
Jika angka merah hingga tiga atau empat maka siswa dinyatakan tidak naik kelas. Orang tidak lagi akan bertanya kenapa siswa tidak naik kelas. Justru mereka sudah mengira alasannya ialah banyak angka merah di rapor siswa tersebut.

Bagi siswa yang mempunyai nilai rapor bertinta merah, akan besar lengan berkuasa besar terhadap psikologis anak tersebut. Begitu pula bagi orangtua mereka. Nilai merah yang tercantum pada buku rapor  menjadi sesuatu yang angker dan memalukan.

Tidak mengherankan, kalau ada siswa yang sengaja merobek buku rapor alasannya ialah aib banyak mendapat nilai 5 atau kurang yang ditulis dengan tinta warna merah.

Versus nilai tidak tuntas

Bagaimana dengan sistem evaluasi sekarang? Hasil berguru siswa dinyatakan dengan ketuntasan. Siswa dikatakan mengalami ketuntasan kalau telah mencapai hasil minimal syarat ketuntasan berguru minimal pada mata pelajaran tertentu.

Misalnya, syarat ketuntasan berguru suatu mata pelajaran 74. Siswa yang memperoleh nilai minimal 74 ke atas dikatakan anak telah tuntas belajar. Pada kolom deskripsi hasil ditulis dengan kata tuntas (T).
Jika anak hanya mencapai nilai 73 maka dikatakan anak tidak tuntas (TT) berguru dan harus diremedial. Jika hingga 3 atau lebih mata pelajaran mengalami tidak tuntas maka anak tidak akan naik kelas.

Apa pengaruhnya terhadap siswa ihwal deskripsi tuntas dan tidak tuntas? Pengaruh ini tidak sedahsyat kontribusi nilai angka merah (5) pada siswa. Cukup banyak siswa yang tidak terpengaruh oleh hasil berguru yang mereka raih. Kecuali kalau siswa tidak naik kelas jawaban mata pelajaran banyak yang tidak tuntas.

Bahkan banyak juga orangtua yang merasa kebingungan dengan istilah yang tercantum dalam buku rapor. Apa lagi dengan sistem evaluasi Kurikulum 2013 yang terurai dalam buku rapor siswa. Apakah semua orangtua siswa sempat membaca komponen dan isi serta deskripsi yang tertera di buku rapor? Allahuallam bissowaab!
Bagi sekolah yang gres menerapkan Kurikulum 2013 mungkin perlu sosialisasi yang lebih intens kepada siswa maupun orangtua siswa ihwal sistem evaluasi Kurikulum 2013 ini.

Sunday, 20 November 2022

Pasti Dapat 5 Taktik Jitu Pembelajaran Fisika Di Ruang Kelas

5 Strategi jitu pembelajaran fisika di ruang kelas – Konsep pelajaran fisika disajikan bersama biologi dan kimia secara terpadu dalam mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di jenjang SMP/Sederajat.  Di kelas VII, pembelajaran IPA diawali dengan bahan fisika sementara di kelas VIII dan IX dimulai dengan bahan biologi.

 Strategi jitu pembelajaran fisika di ruang kelas PASTI BISA 5 Strategi Jitu Pembelajaran Fisika di Ruang Kelas
Ilustrasi pembelajaran fisika di ruang kelas (pixabay.com)

Materi pelajaran fisika umumnya dianggap sulit oleh sebagaian siswa. Siswa terlanjur berpikir kalau fisika itu sebagai bahan pelajaran rumus. Pemikiran ibarat ini sering berawal dari taktik pembelajaran yang dijalankan guru di ruang kelas.
Berangkat dari problem tersebut, guru perlu menyiasatinya dengan baik sehingga pembelajaran berjalan lancar dan menyenangkan di ruang kelas. Berikut disajikan alternatif taktik cukup jitu dalam pembelajaran IPA Fisika di ruang kelas.

1.Ciptakan suasana nyaman
Suasana nyaman dan menyenangkan yaitu modal awal untuk membelajarkan siswa di ruang kelas. Oleh alasannya itu langkah awal bagi guru sebelum memulai mengajar yaitu mempersiapkan suasana dan kondisi kelas dengan baik..

Suasana nyaman ini berawal dari kondisi ruang kelas yang higienis dan rapi. Namun demikian belum cukup tanpa diiringi suasana psikologis, yaitu komunikasi dan sosial yang menggairahkan antara guru dengan siswa ketika memulai pembelajaran.

Suasana fisik dan psikis di ruang kelas yang menyenangkan cenderung menggiring siswa untuk siap mendapatkan bahan pelajaran dengan antusias, tanpa tekanan dan beban.

2.Mulai dengan konsep faktual
Guru sering terjebak dengan konsep formulasi sehingga memulai lebih cepat pembelajaran dengn rumus sesuai dengan skedul pembelajaran yang tertuang dalam perangkat pembelajaran.

Semestinya skedul tersebut sanggup dimodifikasi sehingga di awal-awal pembelajaran guru mengubahnya menjadi konsep-konsep faktual yang tidak lepas dari rumus bahan pelajaran. Rumus fisika itu kebanyakan berasal dari konsep faktual dari pengalaman sehari-hari kehidupan manusia.

Oleh alasannya itu siasati pembelajaran dengan mengetengahkan konsep faktual yang sesuai dengan struktur kognitif dan pengalaman siswa sehari-hari. Ini akan mempermudah siswa untuk mengarahkan pikirannya untuk mengaitkan bahan pelajaran dengan fakta kehidupan sehari-hari.
3.Sesuaikan dengan kemampuan berpikir siswa
Kadang-kadang bahan tertentu bersifat ajaib dan sulit dicerna oleh pikiran siswa. Strategi guru yaitu menciptakan bahan ajaib tersebut menjadi faktual melalui klarifikasi lisan maupun media pembelajaran.

Penyampaian bahan pelajaran fisika kepada siswa diadaptasi dengan teladan dan kemampuan berpikir siswa. Bahasa lisan yang dipakai oleh guru tidak terlalu abstralk melainkan sanggup dicerna sesuai kemampuan berpikir siswa.

4.Kesimpulan uraian bahan pelajaran
Kesimpulan bahan pelajaran merupakan intisari dari uraian bahan pelajaran. Hal ini sangat penting diberikan oleh guru di selesai pembelajaran. Jika ada bahan yang mempunyai  rumus perlu disampaikan di selesai pembelajaran sebagai kesimpulan dari uraian bahan pelajaran.

5.Seimbangkan santunan tugas
Jika memerlukan tugas, guru perlu menunjukkan kiprah tersebut secara proporsional. Soal kiprah dimulai dari soal mudah, sedang dan rumit. Tugas ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan.
Demikianlah 5 alternatif taktik dianggap jitu dalam memberikan bahan pembelajaran fisika di ruang kelas. Semoga bermanfaat terutama bagi guru yang mengalami kendala dalam pembelajaran fisika.

Saturday, 12 November 2022

Pasti Dapat Ruang Lingkup Evaluasi Hasil Berguru Penerima Didik (1)

Ruang lingkup evaluasi hasil berguru akseptor didik (1) – Proses pendidikan di forum sekolah, khususnya jenjang pendidikan dasar dan menengah merupakan serangkaian aktivitas terstruktur dan berkelanjutan. Rangkaian proses aktivitas tersebut dimulai dengan tahap perencanaan, pelaksanaan dan diakhiri dengan evaluasi yang lazim disebut sebagai sistem evaluasi dalam pendidikan.

Ruang lingkup evaluasi hasil berguru akseptor didik  PASTI BISA Ruang Lingkup Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik (1)

Berkaitan dengan sistem evaluasi dalam pendidikan, pembahasan dalam artikel pendidikan ini akan diterbitkan secara berseri. Pada seri pertama sistem evaluasi dalam pendidikan dimulai dari Ruang Lingkup Penilaian Hasil Belajar Peserta didik.

Sistem evaluasi dalam pendidikan di forum sekolah telah diatur dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 wacana Standar Penilaian Pendidikan. Penilaian yaitu proses pengumpulan dan pengolahan gosip untuk mengukur pencapaian hasil berguru peserta.
Sistem evaluasi didasarkan pada kriteria tertentu yang dikenal dengan standar evaluasi pendidikan. Standar evaluasi sebagaimana dimaksud Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 memuat antara lain; ruang lingkup penilaian, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen evaluasi hasil berguru akseptor didik.

Ruang lingkup evaluasi hasil berguru akseptor didik

Penilaian hasil berguru akseptor didik di forum sekolah sanggup dilaksanakan oleh pendidik (guru), satuan pendidikan (sekolah) dan pemerintah. Penilaian hasil berguru oleh guru mencakup lingkup aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan.

1.Penilaian sikap
Penilaian pendidikan dalam ruang lingkup sikap merupakan aktivitas untuk memperoleh gosip deskriptif wacana sikap akseptor didik. Penilaian aspek sikap ini hanya sanggup dilaksanakan oleh para guru.

Hal ini sanggup dipahami dan cukup beralasan alasannya yaitu guru berinteraksi secara pribadi dengan siswa dalam proses pembelajaran. Bagaimana sikap dan sikap siswa selama berguru diamati oleh guru secara melalui observasi dalam pembelajaran..

2.Penilaian pengetahuan
Pembelajaran menyajikan sejumlah ilmu dan pengetahuan kepada siswa. Penilaian terhadap hasil berguru siswa bertujuan untuk mengetahui penguasaan pengetahuan oleh siswa.

3.Penilaian keterampilan
Penilaian dalam aspek keterampilan dilaksanakan bertujuan untuk memperoleh gosip wacana kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan yang dikuasai dengan melaksanakan kiprah tertentu.

Pendidik, satuan pendidikan dan, atau pemerintah sanggup melaksanakan pengukuran pencapaian hasil berguru siswa dalam aspek pengetahuan dan keterampilan ini. Hal ini terwujud melalui aktivitas evaluasi harian (PH), evaluasi tengah semester (PTS), evaluasi simpulan semester (PAS) dan evaluasi simpulan tahun (PAT).
Demikianlah pembahasan wacana ruang lingkup evaluasi dalam pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sampai jumpa pada bahasan berikutnya.

Thursday, 10 November 2022

Pasti Dapat Tujuan Dan Prinsip Evaluasi Hasil Berguru Siswa (2)

Tujuan dan prinsip penilaian hasil berguru Siswa (2) – Sistem penilaian pendidikan di jenjang pendidikan dasar dan menengah mempunyai tujuan dan prinsip dalam penilaian hasil berguru siswa. Pada artikel sebelumnya sudah diterbitkan topik sistem penilaian dalam pendidikan dengan materi kajian ruang lingkup penilaian hasil berguru siswa.

Tujuan dan prinsip penilaian hasil berguru Siswa  PASTI BISA Tujuan dan Prinsip Penilaian Hasil Belajar Siswa (2)

Dan, artikel ini ialah kelanjutan dari artikel terbut dengan topik sama dalam bahsan tujuan dan prinsip penilaian hasil berguru siswa. Jika anda belum membaca artikel tersebut, sebaiknya anda:

Tujuan dan prinsip penilaian

Penilaian hasil berguru siswa dalam pendidikan di forum sekolah bertujuan untuk:

1.Memantau dan mengevaluasi
Pantauan dan penilaian dilakukan terhadap proses, kemajuan berguru dan perbaikan hasil berguru penerima didik secara berkelanjutan.

2.Menilai pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
Semua mata pelajaran di forum sekolah mempunyai SKL tertentu. Penilaian dilakukan bertujuan untuk memilih pencapaian pada SKL mata pelajaran bersangkutan.

3.Menilai pencapaian SKL secara nasional
Penilaian juga bertujuan untuk menilai pencapaian SKL pada mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Untuk jenjang SMP/Sederajat, penilaian dilakukan terhadap 4 mata pelajaran yang di-UN-kan, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika dan IPA.

Prinsip penilaian pendidikan di forum sekolah bertolak dari 9 prinsip berikut ini;

1.Sahih
Penilaian hasil berguru siswa dikatakan sahih apabila didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur pada penerima didik. Penilaian sanggup mengukur apa yang hendak diukur pada penerima didik.

2.Objektif
Penilaian pendidikan tidak sanggup melalui terkaan atau asumsi semata melainkan memakai mekanisme dan kriteria penilaian yang jelas. Bukan berdasar pada unsur subjektivitas pelaksana penilaian.

3.Adil
Prinsip penilaian adil berarti penilaian hasil berguru penerima didik tidak meguntungkan atau merugikan penerima didik alasannya ialah perbedaan latar belakang sosial, budaya ataupun alasannya ialah berkebutuhan khusus.

4.Terpadu
Penilaian oleh guru dilakukan secara terpadu dalam acara pembelajaran yang mencakup aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan.

5.Terbuka
Prinsip penilaian hasil beserta didik didasarkan pada prinsip terbuka. Sistem penilaian, baik prosedur, kriteria maupun dasar pengambilan keputusan sanggup diketahui secara transparan oleh semua pihak yang berkepentingan dengan penilaian hasil berguru siswa.

6.Menyeluruh
Penilaian hasil hasil berguru siswa dilakukan secara menyeluruh dalam aneka macam aspek kompetensi untuk mengetahui perkembangan penerima didik melalui aneka macam teknik penilaian.

7.Berkesinambungan
Penilaian terhadap penerima didik dilakukan secara berkelanjutan.sehingga sanggup memantau kemampuan perkembangan siswa.

8.Sistematis
Sistem penilaian terhadap hasil berguru siswa dilakukan secara berencana dan sedikit demi sedikit dengan mengikuti mekanisme dan tahap-tahap yang sudah ditetapkan dalam kurikulum.

9.Acuan
Penilaian dilakukan menurut kriteria dan pola pada ukuran pencapaian kompetensi dasar yang ditetapkan dalam kurikulum.

10..Akuntabel
Prinsip penilaian hasil berguru siswa yang terakhir ialah akuntabel. Akuntabel artinya penilaian hasil berguru siswa  sanggup dipertanggungjawabkan baik dari segi teknik, mekanisme penilaian maupun hasil penilaian.
Dengan berpedoman pada prinsip-prinsip penilaian hasil berguru penerima didik tersebut maka tujuan penilaian dalam pendidikan di forum sekolah sanggup tercapai secara optimal.


Wednesday, 9 November 2022

Pasti Dapat Bentuk Dan Kegunaan Evaluasi Hasil Berguru Siswa (3)

Bentuk dan kegunaan evaluasi hasil mencar ilmu Siswa (3) – Secara operasional evaluasi hasil mencar ilmu siswa sebetulnya dipegang oleh guru. Ada dua alasan penting untuk membenarkan pernyataan ini. Pertama, pembelajaarn dilaksanakan oleh guru secara pribadi melalui kegiatan tatap muka.

Bentuk dan kegunaan evaluasi hasil mencar ilmu Siswa  PASTI BISA Bentuk dan Kegunaan Penilaian Hasil Belajar Siswa (3)

Guru berinteraksi pribadi dengan siswa melalui pembelajaran. Dan evaluasi yakni salah satu kiprah pokok guru dalam melakukan pembelajaran. Kedua, oleh lantaran guru berinteraksi pribadi dengan siswa dalam pembelajaran maka guru sanggup melakukan evaluasi hasil mencar ilmu siswa dalam banyak sekali bentuk.

Misalnya, ulangan (ujian), pengamatan (observasi), penugasan dan bentuk lainnya yang diharapkan sesuai kompetensi dasar konsep mata pelajaran.

Penilaian hasil mencar ilmu oleh guru mempunyai kegunaan untuk mengukur dan mengetahui sejauhmana ketercapaian suatu kompetensi oleh siswa. Namun yang paling penting kegunaannya yakni sebagai salah satu upaya guru untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Penilaian dalam pendidikan tidak hanya dilakukan oleh guru. Sekolah dan pemerintah juga sanggup melakukan evaluasi hasil mencar ilmu siswa sebagaimana telah diutarakan pada ruang ringkup evaluasi pendidikan.
Selain itu, evaluasi hasil mencar ilmu terhadap siswa mempunyai kegunaan untuk menyiapkan laporan kemajuan mencar ilmu siswa pada evaluasi harian PH), evaluasi tengah semester (PTS), evaluasi selesai semester (PAS), evaluasi selesai tahun (PAT) dan kenaikan kelas siswa.

Penilaian oleh sekolah dilaksanakan dalam bentuk ujian sekolah yang sering dikenal dengan US. Penilaian ini dipakai untuk penentuan kelulusan bagi siswa pada jenjang terakhir suatu sekolah.

Bagi sekolah, evaluasi yang dilakukan oleh guru maupun sekolah dipakai untuk perbaikan atau penjaminan mutu (kualitas) suatu sekolah. Oleh lantaran itu sekolah menetapkan KBM (Ketuntasan Belajar Minimal) atau sebelumnya dikenal dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dan kriteria kenaikan kelas.
Ujian Nasional (UN) merupakan evaluasi hasil mencar ilmu siswa yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Kegunaan UN bagi pemerintah yakni pemetaan kualitas aktivitas suatu sekolah, pertimbangan dalam seleksi melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dan training serta pemberian proteksi kepada sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Monday, 7 November 2022

Pasti Dapat Prosedur Sistem Evaluasi Dalam Pendidikan (4)

Mekanisme sistem evaluasi dalam pendidikan (4) – Pada bab terdahulu sudah pernah diungkapkan bahwa sistem evaluasi hasil berguru siswa berada pada ruang lingkup, tujuan, bentuk, prinsip dan manfaat tertentu. Dan pada kesempatan ini akan dibahas kelanjutannya yaitu prosedur evaluasi hasil berguru siswa.

Mekanisme sistem evaluasi dalam pendidikan  PASTI BISA Mekanisme Sistem Penilaian dalam Pendidikan (4)

Penilaian hasil berguru siswa dilaksanakn oleh guru, sekolah dan pemerintah. Ketiga pihak ini melakukan evaluasi dengan prosedur masing-masing.

1.Mekanisme penialain oleh guru

Sebelum melakukan penilaian, guru terlebih dulu merancang bagaimana taktik evaluasi yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran. Hasil rancangan taktik evaluasi sanggup dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang bersumber pada silabus mata pelajaran.

Penilaian hasil berguru siswa dilakukan terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penilaian aspek perilaku dilaksanakan melalui observasi (pengamatan) eksklusif selama proses pembelajaran.

Mekanisme penialaian aspek pengetahuan dilakukan guru melalui tes dan non tes. Ada yang namanya tes tertulis, tes ekspresi dan ada pula penugasan. Hal ini tergantung pada kompetensi apa yang hendak dinilai.

Sedangkan prosedur evaluasi keterampilan siswa dilakukan oleh guru melalui kerja praktik, kerja proyek, produk, fortofolio dan lain sebagainya. Hal ini juga tergantung pada kompetensi yang akan dinilai pada siswa.
Ketiga aspek yang dinilai pada siswa mempunyai kriteria tertentu yang dikenal dengan Ketuntasan Belajar Minimal (KBM). Penetapan KBM dilakukan melalui rapat majelis guru. Mekanisme bagi siswa yang belum mencapai KBM akan dialksanakan kegiatan remedial/remedi.

2.Mekanisme penialain oleh sekolah

Penilaian hasil berguru siswa oleh sekolah meliputi semua mata pelajaran dalam matra sikap, pengetahuan dan matra keterampilan. Mekanisme ini terlihat dengan adanya ujian sekolah (US) untuk memilih kelulusan siswa di suatu sekolah
Mekanisme evaluasi oleh sekolah selain ujian sekolah yaitu evaluasi final semester PAS) dan evaluasi final tahun (PAT). Meskipun penyelenggaranya pihak sekoalh namun guru tetap berperan aktif dalam kedua jenis evaluasi ini.
Pada final semester atau final tahun, majelis guru akan mengadakan rapat hasil evaluasi termasuk rapat untuk kenaikan kelas.

3.Mekanisme evaluasi oleh pemerintah

Penilaian hasil berguru siswa oleh pemerintah dilakukan secara nasional. Penilaian dilaksanakan pada mata pelajaran tertentu saja, menyerupai di jenjang SMP/Sederajat pada mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika dan IPA.
Bentuk ujian yang diselenggarakan oleh pemerintah yaitu Ujian Nasional. Saat ini ada ujian nasional berbasis komputer (UNBK) dan ujian nasional kertas dan pensil (UNKP). Bagi pemerintah, UN diselenggarakan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan
Penilaian hasil berguru siswa oleh pemerintah, dalam hal ini BNSP (Badan Standar Nasional Pendidikan)  bekerja sama dengan instansi terkait, bertujuan untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan forum sekolah.
Bentuk ujian yang dilaksanakan oleh pemerintah tidak hanya UN melainkan juga melalui survey, sensus dan bentuk lainnya yang ditentukan oleh menteri pendidikan.

Wednesday, 2 November 2022

Pasti Dapat 5 Istilah Terkenal Dalam Evaluasi Kurikulum 2013

5 Istilah terkenal dalam evaluasi kurikulum 2013 – Sebelum memulai kiprah mengajar untuk Tahun Pembelajaran 2018/2019 ada baiknya diingat kembali istilah yang dipakai dalam evaluasi Kurikulum 2013 (Kurtilas/K.13). Pembahasan pada artikel pendidikan ini hanya sekadar untuk menyeragamkan penggunaan istilah dalam evaluasi oleh guru di sekolah.

 Istilah terkenal dalam evaluasi kurikulum  PASTI BISA 5 Istilah Populer dalam Penilaian Kurikulum 2013

Seperti diketahui evaluasi yaitu serangkaian proses untuk mengukur ketercapaian kompetensi siswa. Proses tersebut dilaksanakan secara berkesinambungan dalam proses belajar. Tujuannya untuk memantau kemajuan maupun perbaikan hasil berguru siswa.

Merujuk pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Revisi Kurikulum 2013, ada beberapa istilah yang sering dipakai dalam acara evaluasi oleh guru di sekolah:

1.Ketuntasan Belajar Minimal(KBM)

KBM yaitu kriteria pencapaian ketuntasan minimal pada satu atau dua kompetensi dasar. Sebagai contoh, ketuntasan mata pelajaran IPA pada kompetensi dasar 1 yaitu 65.

Setelah diadakan ulangan pada kompetensi dasar tersebut, siswa memperoleh nilai 65 atau menguasai bahan pada kompetensi dasar tersebut 65%. Siswa tersebut sudah memenuhi ketunasan berguru minimal.

Sebelumnya dipakai istilah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang tertuang dalam permendikbud Nomor 53 Tahun 2015. Jika Anda ingat, istilah ini sudah pernah dipakai sebelumnya menyerupai pada KTSP (Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan) atau kurikulum 2006.. Ada juga yang memakai istilah SKBM (Syarat Ketuntasan Belajar Minimal).

2.Penilaian Harian(PH)

Kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi siswa secara bersiklus sesudah menuntaskan satu atau lebih kompetensi dasar. Penilaian harian lebih kompleks dan tidak hanya sebagai ujian.

Sebelumnya dikenal dengan istilah UH (Ulangan Harian). Semacam acara yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa dan dijadikan pola sebagai prestasi belajar.

3.Penilaian Tengah Semester(PTS)

Kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi siswa sesudah melakukan beberapa ahad acara pembelajaran. Penilaian meliputi seluruh indikator pada KD tersebut.  Sebelumnya UTS (Ujian Tengah semester)

4.Penilaian Akhir Semester(PAS)

Kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi siswa di selesai semester ganjil/gasal atau semester genap. Mencakup seluruh indikator pada semua KD. Sebelumnya dipakai istilah UAS (Ujian Akhir Semester). PAS untuk semester gasal/ganjil dan semester genap

5.Penilaian Akhir Tahun (PAT)

Sebelum PAT dipakai istilah UKK (Ujian Kenaikan Kelas). PAT terdiri dari bahan soal pada semester ganjil (25%) dan semester genap (75%). Kenaikan kelas ditentukan oleh PAT
Simak juga : Mekanisme Sistem Penilaian dalam Pendidikan 
Demikian 5 istilah evaluasi yang dilakukan oleh guru dalam kurikulum 2013.

Saturday, 22 October 2022

Pasti Dapat Pengintegrasian Nilai Abjad Nyata Dalam Kurikulum 2013

Pengintegrasian nilai abjad aktual dalam kurikulum 2013 -  Kurikulum merupakan pola dalam melakukan proses pembelajaran di tingkat satuan pendidikan. Proses berguru dan mengajar tersebut berawal dari perencanaan dan penyusunan perangkat pembelajaran oleh guru sebagai pengelola pembelajaran.

Pengintegrasian nilai abjad aktual dalam kurikulum  PASTI BISA Pengintegrasian Nilai Karakter Positif dalam Kurikulum 2013

Hal itu sudah tidak abnormal lagi bagi para guru. Bahkan membuat perangkat mengajar, boleh dikatakan menjadi ‘santapan’ rutin setiap awal semester.  Namun yang membuat guru sedikit repot lantaran menyita banyak waktu yakni kurikulum yang berlaku.

Kurikulum 2013 sebagai pola dalam pembelajaran terkini sering mengalami perubahan, tepatnya mengalami penyempurnaan. Penyempurnaan yang dilakukan bukan untuk menambah atau menyisip materi yang sudah ada dalam kurikulum tersebut.

Penyempurnaan kurikulum pendidikan berkaitan dengan pengayaan terhadap kurikulum itu sendiri. Ada nilai-nilai yang hendak ditegaskan dan diintegrasikan ke dalam kurikulum 2013. Nilai-nilai itu gotong royong sudah dilaksanakan oleh guru setiap kali mengajar semenjak dulunya

Hanya saja, apa yang sudah dilakukan guru tersebut dalam aktivitas pembelajaran belum ditegaskan secara administratif maupun  yuridis.

Penyempurnaan kurikulum 2013 maupun sistem penilaian akan mendesak guru untuk selalu memperbaharui perangkat mengajar, terutama sekali Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, disingkat RPP.  

Apa saja muatan yang hendak diintegrasikan ke dalam Kurikulum 2013?  Ada 3 unsur penting yang diintegrasikan dalam kurikulum 2013, yaitu Penguatan Pendidikan Karakter, disingkat PPK, Literasi dan Higher Order Thingking Skills, disingkat HOTS.

Ketiga unsur tersebut akan diulas secara berseri, dimulai dengan Pengintegrasian Nilai Karakter Positif dalam Kurikulum 2013. Oleh alasannya yakni itu mari kita mulai dan ikuti pembahasan ini selanjutnya.

#Integrasi pendidikan karakter

Integrasi pendidikan abjad ke dalam kurikulum pendidikan tidak menambah beban materi dalam kurikulum 2013. Hal ini perlu digarisbawahi untuk menghindari pemahamaan keliru dalam menyusun perangkat pembelajaran sehingga kurikulum 2013 terhindar dari kesan sarat akan materi pelajaran.

Integrasi pendidikan karakter, termasuk literasi dan HOTS yakni seni administrasi guru dalam mengajar, mengelola kelas, dan cara berguru siswa. Sebagai seni administrasi mengajar, pendidikan abjad terintegrasi dalam mekanisme dan langkah pembelajaran sebagaimana yang dituangkan dalam RPP.

Pengintegrasian nilai abjad aktual dalam pembelajaran terutama sekali pada aktivitas pendahuluan, aktivitas inti dan aktivitas penutup.

Namun demikian penyebutan terhadap RPP tidak mengalami perubahan. Artinya guru tetap menyebut RPP Kurikulum 2013, bukan RPP PPK.

Proses pembelajaran yang berlangsung pada satuan pendidikan merupakan perpaduan aspek yang melibatkan fisik dan psikis. Kedua aspek tersebut berdampak kepada akumulasi kecerdasan, sikap dan sikap serta kecakapan penerima didik.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)  sebagaimana dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 yakni platform pendidikan nasional untuk membekali penerima didik yang berjiwa Pancasila dan berkarakter aktual dalam menyongsong dinamika perkembangan zaman.

Pada hakikatnya, pendidikan abjad menjadi bab tak terpisahkan dari Kurikulum 2013. Hal ini cukup beralasan mengingat setiap pembelajaran di satuan pendidikan menuntut  integrasi nilai-nilai abjad aktual pada siswa.

Karakter aktual yang diintegrasikan melalui proses pembelajaran yakni abjad religius, mandiri, nasionalis, gotong-royong dan integritas kepribadian.

#Pendekatan abjad berbasis kelas

Implementasi PPK dalam Kurikulum 2013 memakai pendekatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah dan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat.

Ketiga basis pendekatan ini bersifat utuh dan menyeluruh dalam aktivitas di kelas, di luar kelas dan lingkungan masyarakat. Begitu pula jenis aktivitas intrakurikuler, kokurikuler dan aktivitas ekstrakurikuler di tingkat satuan pendidikan.

Pendidikan Berbasis Kelas merupakan sasaran utama implementasi integrasi pendidikan abjad dalam Kurikulum 2013. Di kelas terjadi interaksi (hubungan timbal balik) secara menyeluruh dan terpadu antara guru dengan siswa dalam rangka memenuhi sasaran minimal  kurikulum atau Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) yang disepakati bersama antar warga sekolah.

Integrasi pendidikan abjad dalam pembelajaran di kelas lebih menitikberatkan bagaimana guru mempersiapkan dan memadukan nilai-nilai abjad aktual melalui seni administrasi dan metode  mengajar, bentuk penilaian dan pengelolaan kelas.

#Langkah dan cara integrasi pendidikan karakter

Bagaimana mengimplementasikan integrasi abjad aktual ke dalam pembelajaran kurikulum 2013? Berikut hanyalah sekadar contoh sederhana bagaimana langkah dan cara memadukan pendidikan abjad dalam aktivitas pembelajaran sekali pertemuan.

Sebelum memulai aktivitas pembelajaran maupun tahap pendahuluan, guru sanggup mengintegrasikan beberapa abjad positif. Misalnya,

-Mengucap salam dikala memasuki ruang kelas  dan siswa menjawab salam
-Memeriksa kebersihan, kerapian dan keindahan kelas
-Mengetahui kehadiran siswa dan menanyakan keadaan siswa
-Mengkondisikan kelas supaya siswa siap mendapatkan pelajaran
-Berdoa sebelum memulai aktivitas belajar
-Mengingatkan siswa semoga tertib dalam belajar, berdiskusi, menghormati pendapat teman.
-Menyampaikan tujuan pembelajaran semoga siswa termotivasi untuk mewujudkan tujuan dimaksud.

Pada aktivitas inti dalam pembelajaran, guru sanggup memperlihatkan dorongan semoga siswa aktif dan berpartisipasi dalam belajar, bertanya dan menjawab pertanyaan, menghormati guru, sahabat yang sedang  berbicara mengemukakan pendapatnya.

Pada aktivitas epilog pembelajaran, guru memperlihatkan umpan balik terhadap penguasaan materi pelajaran. Guru memperlihatkan beberapa soal atau pertanyaan. Dalam hal ini guru mengingatkan semoga siswa tidak mencontek melainkan bekerja mandiri.

Dalam aktivitas penilaian, minimal guru mengadakan penilaian proses dalam sekali pertemuan. Dalam penilaian proses sanggup dipakai instrumen lembaran observasi untuk memperoleh bagaimana perkembangan abjad siswa selama pembelajaran berlangsung.

Melalui lembaran observasi ini guru sanggup mengetahui perkembangan nilai-nilai abjad pada siswa selama pembelajaran. Sekaligus untuk mempersiapkan seni administrasi pendidikan abjad pada  pertemuan dan aktivitas pembelajaran berikutnya.

Menurut ekonomis penulis, integrasi pendidikan abjad dalam aktivitas pembelajaran tidak mesti ke 5 abjad aktual yang diinginkan dalam sekali pertemuan. Artinya, guru tidak mesti memaksakan atau membuat situasi dan kondisi supaya sanggup mengintegrasikan ke 5 abjad aktual ke dalam aktivitas pembelajaran sekali pertemuan.

Justru pengintegrasian pendidikan abjad dalam pembelajaran kurikulum 2013 dibutuhkan berjalan secara alamiah selama aktivitas pembelajaran berlangsung.

Wednesday, 19 October 2022

Pasti Dapat Taktik Mengintegrasikan Literasi Dalam Pembelajaran

Strategi mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran – Abad ke- 21 yang lebih erat disebut sebagai abad milenium, kiranya menuntut seseorang untuk banyak membaca dan menulis (literasi). Kegiatan membaca dan menulis diyakini akan meningkatkan keterampilan seseorang  dalam berpikir dan bertindak.

Strategi mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran PASTI BISA Strategi Mengintegrasikan Literasi dalam Pembelajaran
Berkunjung ke perpustakaan merupakan salah satu taktik literasi dalam pembelajaran (Nefrida/matrapendidikan.com)

Oleh lantaran itu himbauan untuk membuatkan budaya literasi di sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat patut menerima perhatian semua orang. Di forum sekolah hal itu ditindaklanjuti dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Dalam pengertian terbatas, literasi dimaknai dengan membaca dan menulis. Akan tetapi dalam konteks yang lebih luas, literasi mengandung makna aktivitas melihat, membaca, menyimak, berbicara dan mencipta.

Pada gilirannya, apa yang dilihat, dibaca, disimak dan dibicarakan akan sanggup menghasilkan sesuatu goresan pena yang disebut dengan aktivitas menulis.

Unsur aktivitas dalam literasi akan menghasilkan seseorang untuk kreatif (creative), berpikir kritis (critical thinking), berkomunikasi (communication) dan bekerja sama (collaboration).

Unsur aktivitas literasi juga akan meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengakses, memahami dan memakai banyak sekali informasi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Literasi dalam pembelajaran

Budaya membaca dan menulis dalam pembelajaran sudah usang diterapkan oleh guru. Hanya saja, implementasinya dalam pembelajaran perlu disempurnakan. Penyempurnaan dimaksud berkaitan dengan unsur dalam aktivitas literasi.

Selain itu, budaya literasi diintegrasikan melalui taktik dan metode mengajar, pengelolaan kelas dan aktivitas evaluasi. Dalam Kurikulum 2013, budaya literasi, sebagaimana halnya pendidikan karakter, tidak menambah atau menyisip materi pelajaran yang sudah ada.

Strategi integrasi budaya literasi dalam pembelajaran dimulai dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Penyusunan RPP mengakomodasi seluruh waktu pembelajaran, baik tahap pendahuluan dan aktivitas inti maupun aktivitas penutup.

Agar pembelajaran bernuansa literatif maka dalam pembelajaran diharapkan banyak sekali sumber dan media belajar.sumber berguru tidak hanya guru, lingkungan sekitar juga menjadi bahan/sumber belajar.

Apa yang terdapat dalam ruang kelas sanggup dimanfaatkan materi dan sumber belajar. Begitu pula buku panduan, buku wajib dan buku penunjang. Jika tidak memadai di ruang kelas, guru sanggup membawa siswa ke ruang perpustakaan atau buku itu sendiri yang di bawa ke ruang kelas.

Sumber dan media berguru sanggup dalam bentuk audio maupun visual. Oleh lantaran itu lieterasi dikelompokkan kedalam literasi audio dan literasi visual. Strategi literasi mengandung makna meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan banyak sekali sumber informasi yang ada di banyak sekali media.

Misalnya media cetak (buku, jurnal, tabloid, surat kabar, majalah, dll). Dalam bentuk digital, taktik literasi menghendaki akseptor didik sanggup mengkases dan memanfaatkan media internet dan digital yang berkembang cukup umur ini.

Bentuk integrasi literasi dalam proses pembelajaran antara lain;

1.mengamati objek media gambar/charta
2.mengamati lingkungan sekitar sekolah berkaitan dengan materi pelajaran
3.membaca sumber berguru menyerupai buku pelajaran, lks, buku catatan, dll.
4.mengumpulkan informasi melalui lembaran observasi
5.menganalisis informasi
6.mendiskusikan secar kelompok
7mempresentasikan hasil diskusi
8.bertanya dan menjawab pertanyaan
9.menyimpulkan
10.menyajikan laporan diskusi secara tertulis
11.memajang laporan diskusi di peprustakaan sekolah.
Dapat disimpulkan bahwa literasi dalam pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca dan menulis. Dalam literaksi terdapat aktivitas pemahaman, analisis, mengkomunikaikan dan sejumlah kemampuan lainnya.

Thursday, 14 February 2019

Pasti Dapat Jenuh Berguru Di Sekolah, Coba 'Refreshing' Di Alam Terbuka

Jenuh berguru di sekolah, coba refreshing di alam terbuka – Tak sanggup dielakkan lagi, sistem yang berlaku dalam dunia pendidikan di forum sekolah ketika ini menghendaki siswa lebih banyak waktunya berada di lingkungan sekolah. Kegiatan siswa selama di sekolah mencakup intrakurikuler, ko kurikuler dan ekstrakurikuler yang sudah terjadwal.

 sistem yang berlaku dalam dunia pendidikan di forum sekolah ketika ini menghendaki siswa  PASTI BISA Jenuh Belajar di Sekolah, Coba 'Refreshing' di Alam Terbuka
Belajar dan berinteraksi dengan alam dpat kurangi kejenuhan siswa di sekolah (Rahid.S/matrapendidikan.com)

Di sisi lain, kondisi ini menjadikan waktu siswa bersama orangtua di rumah atau bergaul dengan lingkungan masyarakat dan alam sekitarnya akan berkurang. Ini berrati juga, waktu bermain, istirahat dan berinteraksi sosial para siswa juga semakin berkurang.

Pembelajaran yang bersifat rutinitas, berlangsung terus-menerus dan monoton sebab sudah terencana akan menjadikan kejenuhan pada siswa. Bahkan mungkin para guru juga mengalami hal serupa.

Mengantisipasi kejenuhan berguru di lingkungan sekolah maka pembina Osis, guru mata pelajaran dan unsur pimpinan sekolah perlu bekerja sama untuk membuat situasi dan kondisi pembelajaran bervariasi. Memadukan bentuk acara siswa antara di dalam lingkungan sekolah dan di luar lingkungan sekolah.

Mengadakan hiking masal seluruh warga sekolah dalam rentang waktu  sekali sebulan atau triwulan, mungkin cukup bermakna dalam menyegarkan otak siswa. Begitu pula mengadakan acara outbond pada hari tertentu atau hari libur.

Di lingkungan alam terbuka, siswa tidak hanya sekadar mengadakan refreshing (penyegaran) namun dalam acara tersebut berfungsi untuk penanaman nilai huruf dan penerapan teori bahan pelajaran.

Yang sering menjadi duduk kasus dalam acara outbond yaitu pengelolaan siswa. Alasan yang paling umum yaitu kesulitan mengelola siswa dalam jumlah banyak di lingkungan alam.

Namun demikian pengelompokkan siswa menjadi beberapa grup juga menjadi alternatif pemecahan kasus tersebut. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan dibimbing oleh beberapa guru.
Belajar di alam terbuka di luar lingkungan sekolah,  diperkirakan akan sanggup mengatasi kejenuhan siswa dalam menjalani pembelajaran rutin di lingkungan sekolah.