Showing posts sorted by relevance for query mengintegrasikan-literasi-dalam. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query mengintegrasikan-literasi-dalam. Sort by date Show all posts

Wednesday, 19 October 2022

Pasti Dapat Taktik Mengintegrasikan Literasi Dalam Pembelajaran

Strategi mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran – Abad ke- 21 yang lebih erat disebut sebagai abad milenium, kiranya menuntut seseorang untuk banyak membaca dan menulis (literasi). Kegiatan membaca dan menulis diyakini akan meningkatkan keterampilan seseorang  dalam berpikir dan bertindak.

Strategi mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran PASTI BISA Strategi Mengintegrasikan Literasi dalam Pembelajaran
Berkunjung ke perpustakaan merupakan salah satu taktik literasi dalam pembelajaran (Nefrida/matrapendidikan.com)

Oleh lantaran itu himbauan untuk membuatkan budaya literasi di sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat patut menerima perhatian semua orang. Di forum sekolah hal itu ditindaklanjuti dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Dalam pengertian terbatas, literasi dimaknai dengan membaca dan menulis. Akan tetapi dalam konteks yang lebih luas, literasi mengandung makna aktivitas melihat, membaca, menyimak, berbicara dan mencipta.

Pada gilirannya, apa yang dilihat, dibaca, disimak dan dibicarakan akan sanggup menghasilkan sesuatu goresan pena yang disebut dengan aktivitas menulis.

Unsur aktivitas dalam literasi akan menghasilkan seseorang untuk kreatif (creative), berpikir kritis (critical thinking), berkomunikasi (communication) dan bekerja sama (collaboration).

Unsur aktivitas literasi juga akan meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengakses, memahami dan memakai banyak sekali informasi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Literasi dalam pembelajaran

Budaya membaca dan menulis dalam pembelajaran sudah usang diterapkan oleh guru. Hanya saja, implementasinya dalam pembelajaran perlu disempurnakan. Penyempurnaan dimaksud berkaitan dengan unsur dalam aktivitas literasi.

Selain itu, budaya literasi diintegrasikan melalui taktik dan metode mengajar, pengelolaan kelas dan aktivitas evaluasi. Dalam Kurikulum 2013, budaya literasi, sebagaimana halnya pendidikan karakter, tidak menambah atau menyisip materi pelajaran yang sudah ada.

Strategi integrasi budaya literasi dalam pembelajaran dimulai dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Penyusunan RPP mengakomodasi seluruh waktu pembelajaran, baik tahap pendahuluan dan aktivitas inti maupun aktivitas penutup.

Agar pembelajaran bernuansa literatif maka dalam pembelajaran diharapkan banyak sekali sumber dan media belajar.sumber berguru tidak hanya guru, lingkungan sekitar juga menjadi bahan/sumber belajar.

Apa yang terdapat dalam ruang kelas sanggup dimanfaatkan materi dan sumber belajar. Begitu pula buku panduan, buku wajib dan buku penunjang. Jika tidak memadai di ruang kelas, guru sanggup membawa siswa ke ruang perpustakaan atau buku itu sendiri yang di bawa ke ruang kelas.

Sumber dan media berguru sanggup dalam bentuk audio maupun visual. Oleh lantaran itu lieterasi dikelompokkan kedalam literasi audio dan literasi visual. Strategi literasi mengandung makna meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan banyak sekali sumber informasi yang ada di banyak sekali media.

Misalnya media cetak (buku, jurnal, tabloid, surat kabar, majalah, dll). Dalam bentuk digital, taktik literasi menghendaki akseptor didik sanggup mengkases dan memanfaatkan media internet dan digital yang berkembang cukup umur ini.

Bentuk integrasi literasi dalam proses pembelajaran antara lain;

1.mengamati objek media gambar/charta
2.mengamati lingkungan sekitar sekolah berkaitan dengan materi pelajaran
3.membaca sumber berguru menyerupai buku pelajaran, lks, buku catatan, dll.
4.mengumpulkan informasi melalui lembaran observasi
5.menganalisis informasi
6.mendiskusikan secar kelompok
7mempresentasikan hasil diskusi
8.bertanya dan menjawab pertanyaan
9.menyimpulkan
10.menyajikan laporan diskusi secara tertulis
11.memajang laporan diskusi di peprustakaan sekolah.
Dapat disimpulkan bahwa literasi dalam pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca dan menulis. Dalam literaksi terdapat aktivitas pemahaman, analisis, mengkomunikaikan dan sejumlah kemampuan lainnya.

Saturday, 22 October 2022

Pasti Dapat Pengintegrasian Nilai Abjad Nyata Dalam Kurikulum 2013

Pengintegrasian nilai abjad aktual dalam kurikulum 2013 -  Kurikulum merupakan pola dalam melakukan proses pembelajaran di tingkat satuan pendidikan. Proses berguru dan mengajar tersebut berawal dari perencanaan dan penyusunan perangkat pembelajaran oleh guru sebagai pengelola pembelajaran.

Pengintegrasian nilai abjad aktual dalam kurikulum  PASTI BISA Pengintegrasian Nilai Karakter Positif dalam Kurikulum 2013

Hal itu sudah tidak abnormal lagi bagi para guru. Bahkan membuat perangkat mengajar, boleh dikatakan menjadi ‘santapan’ rutin setiap awal semester.  Namun yang membuat guru sedikit repot lantaran menyita banyak waktu yakni kurikulum yang berlaku.

Kurikulum 2013 sebagai pola dalam pembelajaran terkini sering mengalami perubahan, tepatnya mengalami penyempurnaan. Penyempurnaan yang dilakukan bukan untuk menambah atau menyisip materi yang sudah ada dalam kurikulum tersebut.

Penyempurnaan kurikulum pendidikan berkaitan dengan pengayaan terhadap kurikulum itu sendiri. Ada nilai-nilai yang hendak ditegaskan dan diintegrasikan ke dalam kurikulum 2013. Nilai-nilai itu gotong royong sudah dilaksanakan oleh guru setiap kali mengajar semenjak dulunya

Hanya saja, apa yang sudah dilakukan guru tersebut dalam aktivitas pembelajaran belum ditegaskan secara administratif maupun  yuridis.

Penyempurnaan kurikulum 2013 maupun sistem penilaian akan mendesak guru untuk selalu memperbaharui perangkat mengajar, terutama sekali Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, disingkat RPP.  

Apa saja muatan yang hendak diintegrasikan ke dalam Kurikulum 2013?  Ada 3 unsur penting yang diintegrasikan dalam kurikulum 2013, yaitu Penguatan Pendidikan Karakter, disingkat PPK, Literasi dan Higher Order Thingking Skills, disingkat HOTS.

Ketiga unsur tersebut akan diulas secara berseri, dimulai dengan Pengintegrasian Nilai Karakter Positif dalam Kurikulum 2013. Oleh alasannya yakni itu mari kita mulai dan ikuti pembahasan ini selanjutnya.

#Integrasi pendidikan karakter

Integrasi pendidikan abjad ke dalam kurikulum pendidikan tidak menambah beban materi dalam kurikulum 2013. Hal ini perlu digarisbawahi untuk menghindari pemahamaan keliru dalam menyusun perangkat pembelajaran sehingga kurikulum 2013 terhindar dari kesan sarat akan materi pelajaran.

Integrasi pendidikan karakter, termasuk literasi dan HOTS yakni seni administrasi guru dalam mengajar, mengelola kelas, dan cara berguru siswa. Sebagai seni administrasi mengajar, pendidikan abjad terintegrasi dalam mekanisme dan langkah pembelajaran sebagaimana yang dituangkan dalam RPP.

Pengintegrasian nilai abjad aktual dalam pembelajaran terutama sekali pada aktivitas pendahuluan, aktivitas inti dan aktivitas penutup.

Namun demikian penyebutan terhadap RPP tidak mengalami perubahan. Artinya guru tetap menyebut RPP Kurikulum 2013, bukan RPP PPK.

Proses pembelajaran yang berlangsung pada satuan pendidikan merupakan perpaduan aspek yang melibatkan fisik dan psikis. Kedua aspek tersebut berdampak kepada akumulasi kecerdasan, sikap dan sikap serta kecakapan penerima didik.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)  sebagaimana dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 yakni platform pendidikan nasional untuk membekali penerima didik yang berjiwa Pancasila dan berkarakter aktual dalam menyongsong dinamika perkembangan zaman.

Pada hakikatnya, pendidikan abjad menjadi bab tak terpisahkan dari Kurikulum 2013. Hal ini cukup beralasan mengingat setiap pembelajaran di satuan pendidikan menuntut  integrasi nilai-nilai abjad aktual pada siswa.

Karakter aktual yang diintegrasikan melalui proses pembelajaran yakni abjad religius, mandiri, nasionalis, gotong-royong dan integritas kepribadian.

#Pendekatan abjad berbasis kelas

Implementasi PPK dalam Kurikulum 2013 memakai pendekatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas, Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah dan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat.

Ketiga basis pendekatan ini bersifat utuh dan menyeluruh dalam aktivitas di kelas, di luar kelas dan lingkungan masyarakat. Begitu pula jenis aktivitas intrakurikuler, kokurikuler dan aktivitas ekstrakurikuler di tingkat satuan pendidikan.

Pendidikan Berbasis Kelas merupakan sasaran utama implementasi integrasi pendidikan abjad dalam Kurikulum 2013. Di kelas terjadi interaksi (hubungan timbal balik) secara menyeluruh dan terpadu antara guru dengan siswa dalam rangka memenuhi sasaran minimal  kurikulum atau Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) yang disepakati bersama antar warga sekolah.

Integrasi pendidikan abjad dalam pembelajaran di kelas lebih menitikberatkan bagaimana guru mempersiapkan dan memadukan nilai-nilai abjad aktual melalui seni administrasi dan metode  mengajar, bentuk penilaian dan pengelolaan kelas.

#Langkah dan cara integrasi pendidikan karakter

Bagaimana mengimplementasikan integrasi abjad aktual ke dalam pembelajaran kurikulum 2013? Berikut hanyalah sekadar contoh sederhana bagaimana langkah dan cara memadukan pendidikan abjad dalam aktivitas pembelajaran sekali pertemuan.

Sebelum memulai aktivitas pembelajaran maupun tahap pendahuluan, guru sanggup mengintegrasikan beberapa abjad positif. Misalnya,

-Mengucap salam dikala memasuki ruang kelas  dan siswa menjawab salam
-Memeriksa kebersihan, kerapian dan keindahan kelas
-Mengetahui kehadiran siswa dan menanyakan keadaan siswa
-Mengkondisikan kelas supaya siswa siap mendapatkan pelajaran
-Berdoa sebelum memulai aktivitas belajar
-Mengingatkan siswa semoga tertib dalam belajar, berdiskusi, menghormati pendapat teman.
-Menyampaikan tujuan pembelajaran semoga siswa termotivasi untuk mewujudkan tujuan dimaksud.

Pada aktivitas inti dalam pembelajaran, guru sanggup memperlihatkan dorongan semoga siswa aktif dan berpartisipasi dalam belajar, bertanya dan menjawab pertanyaan, menghormati guru, sahabat yang sedang  berbicara mengemukakan pendapatnya.

Pada aktivitas epilog pembelajaran, guru memperlihatkan umpan balik terhadap penguasaan materi pelajaran. Guru memperlihatkan beberapa soal atau pertanyaan. Dalam hal ini guru mengingatkan semoga siswa tidak mencontek melainkan bekerja mandiri.

Dalam aktivitas penilaian, minimal guru mengadakan penilaian proses dalam sekali pertemuan. Dalam penilaian proses sanggup dipakai instrumen lembaran observasi untuk memperoleh bagaimana perkembangan abjad siswa selama pembelajaran berlangsung.

Melalui lembaran observasi ini guru sanggup mengetahui perkembangan nilai-nilai abjad pada siswa selama pembelajaran. Sekaligus untuk mempersiapkan seni administrasi pendidikan abjad pada  pertemuan dan aktivitas pembelajaran berikutnya.

Menurut ekonomis penulis, integrasi pendidikan abjad dalam aktivitas pembelajaran tidak mesti ke 5 abjad aktual yang diinginkan dalam sekali pertemuan. Artinya, guru tidak mesti memaksakan atau membuat situasi dan kondisi supaya sanggup mengintegrasikan ke 5 abjad aktual ke dalam aktivitas pembelajaran sekali pertemuan.

Justru pengintegrasian pendidikan abjad dalam pembelajaran kurikulum 2013 dibutuhkan berjalan secara alamiah selama aktivitas pembelajaran berlangsung.

Tuesday, 22 January 2019

Pasti Dapat Penerapam Agenda Literasi Berbasis Kelas

Penerapan kegiatan literasi berbasis kelas – Ruang kelas menjadi basis terselenggaranya proses pendidikan di forum sekolah. Di ruang kelas terjadi proses mencar ilmu dan mengajar secara ril. Proses ini diatur dalam alokasi waktu tertentu berdasarkan mata pelajaran sesuai kurikulum yang berlaku.

Penerapan kegiatan literasi berbasis kelas PASTI BISA Penerapam Program Literasi Berbasis Kelas
Mading kelas VIII.B, salah satu Mading Kelas di SMPN 2 Lintau Buo (matrapendidikan.com)

Selain itu, pembelajaran diterapkan melalui banyak sekali taktik dan metode yang sudah diperhitungkan oleh guru. Artinya dipertimbangkan berdasar abjad mata pelajaran, kondisi sekoalh dan penerima didik.

Program literasi yaitu upaya pendekatan pengembangan minat membaca dan menulis di kalangan penerima didik. Program ini dikembangkan secara terpadu melalui literasi sekolah dan literasi berbasis kelas.

Program literasi berbasis kelas ternyata cukup strategis mengingat bakteri pendidikan di sekolah yaitu ruang kelas. Penerapan kegiatan literasi berbasis kelas akan mencapai sasaran yang lebih efektif.

Berbagai upaya diterapkan untuk membuatkan kegiatan berbasis kelas. Guru mata pelajaran, wali kelas/guru kelas serta paguyuban kelas/komite kelas berpelung untuk saling berpacu membuatkan kegiatan literasi ini.

Wali kelas dan komite kelas berupaya membuat ruangan kelas yang nyaman. Namun penuh dengan nuansa yang mendorong siswa untuk membaca. Media mencar ilmu dan kata-kata wangsit dan motivasi dipajang di dinding kelas.

Sementara guru mata pelajaran menerapkan budaya baca melalui penyediaan waktu bagi siswa untuk membaca, kemudian menulis. Misalnya kegiatan membaca buku sumber dan merangkumnya sendiri.
Selain itu, wali kelas sanggup mendorong siswa untuk berkarya melalui membaca dan menulis. Salah satu upaya tersebut yaitu membuat buletin kelas atau majalah dinding (Mading) kelas.

Penerapan kegiatan literasi berbasis kelas juga sanggup dilakukan dengan menyediakan pustaka kelas. Kegiatan ini perlu kolaborasi dengan komite kelas untuk memfasilitasi isi pustaka kelas tersebut.
Untuk mendukung pengembangan Mading kelas, pihak sekolah berpeluang untuk mengadakan Lomba Mading Antar kelas. Lomba ini akan menggairahkan setiap kelas untuk berkreasi melalui Mading kelas.

Dengan demikian sanggup ditarik benah merah bahwa sebuah kelas menjadi dasar dalam pengembangan kegiatan literasi di sekolah.


Sunday, 16 October 2022

Pasti Dapat Perpustakaan Sebagai Kunci Gerakan Literasi Sekolah

Perpustakaan sebagai kunci gerakan literasi sekolah – Gerakan Literasi Sekolah (GLS)  merupakan agenda pemasyarakatan kegemaran membaca dan menulis di kalangan komunitas sekolah. Gerakan ini didasarkan atas Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Perpustakaan sebagai kunci gerakan literasi sekolah PASTI BISA Perpustakaan Sebagai Kunci Gerakan Literasi Sekolah
Perpustakaan sebagai kunci gerakan literasi di sekolah (Nefrida/matrapendidikan.com)

Bagi guru, budaya membaca dan menulis bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasan berkaitan dengan mata pelajaran yang diampu. Sedangkan bagi siswa, kegemaran membaca dan menulis bermanfaat untuk meningkatkan proses dan hasil berguru siswa.

Atau dengan kata lain, budaya membaca dan menulis akan berdampak pada proses pembelajaran sehingga meningkatkan prestasi berguru siswa.
GLS bahu-membahu tidak hanya berkaitan dengan acara membaca dan menulis. Sebagaimana amat Kurikulum 2013, literasi meliputi kemampuan melihat, mengamati, memahami, membaca dan menulis.

Salah satu basis GLS yaitu perpustakaan sekolah. Banyak orang bilang bila perpustakaan yaitu jantungnya sebuah sekolah. Hal ini cukup beralasan sebab unit perpustakan menjadi daerah disediakannya banyak sekali macam sumber dan media belajar.

Di perpustakaan terdapat aneka buku pelajaran wajib maupun penunjang. Di perpustakaan juga tersedia media audio dan visual sebagai media pembelajaran. Buku pelajaran wajib merupakan buku pegangan guru dan siswa untuk setiap mata pelajaran.

Selain itu juga terdapat buku penunjang sebagai acuan bagi guru maupun siswa dalam mendukung acara belajar. Media berguru di perpustakaan sekolah antara lain perangkat elektronik dan digital dalam bentuk audio dan visual.

Agar GLS mencapai sasarannya, buku-buku di perpustakaan hendaknya buku yang sanggup menumbuhkan akal pekerti. Sebagaimana dikutip dari situs kemdikbud.go.id, buku yang dijadikan pola sebagai literasi di sekolah di antaranya buku dongeng atau dongeng lokal.

Selain itu juga disediakan buku-buku yang menginspirasi, menyerupai buku biografi tokoh lokal dan biografi anak berprestasi, buku-buku sejarah yang membentuk semangat kebangsaan atau cinta tanah air.
Dengan demikian sanggup dikatakan bahwa perpustakaan sekolah akan menjadi salah satu kunci kesuksesan gerakan literasi di sekolah.

Wednesday, 30 January 2019

Jadi Bakir Silabus Tematik Terpadu Sd Mi Kurikulum 2013 Revisi 2018


Model Silabus Tematik Terpadu SD MI Kurikulum 2013 Revisi 2018. Pembelajaran dengan pendekatan tematik ini meliputi kompetensi mata pelajaran PPKn, bahasa indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya, dan prakarya, dan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Sedangkan mata pelajaran pendidikan agama dan kebijaksanaan pekerti tidak termasuk mapel tematik. Tematik dilaksanakan di semua kelas di SD MI baik kelas rendah (I-III) maupun kelas tinggi (IV-VI).

Di kelas rendah belum ada mata pelajaran IPA IPS yang bangun sendiri namun muatan IPA IPS diintegrasikan ke dalam mata pelajaran bahasa indonesia. Untuk mata pelajran matematika dan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dilakukan secara tematik hanya hingga kelas III, untuk selanjutnya diajarkan sebagai mata pelajaran yang bangun sendiri.

Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan banyak sekali kompetensi dari banyak sekali mata pelajaran ke dalam satu tema. Penentuan tema yang dijadikan sebagai ilham besar dari pembelajaran yang menghubungkan konsep dan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa.

baca juga:
RPP Silabus Promes MI Kelas 4 K13
RPP Silabus Prota Promes Kelas 6 SD MI K13
RPP Silabus Prota Promes Ekonomi MA Sekolah Menengan Atas Kelas X K13

Pendekatan ini dimaksudkan biar siswa tidak berguru secara parsial sehingga pembelajaran sanggup menawarkan makna yang utuh pada siswa menyerupai yang tercermin pada banyak sekali tema yang tersedia. Oleh alasannya yaitu itu, pendidikan perlu dipersiapkan para penerima didik biar sanggup hidup di masa depan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terus berubah melalui berfikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaborasi.

Selain itu penerima didik juga dipersiapkan dengan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan sebagai suatu keterampilan dalam kehidupan sehari-hari sebagai aplikasi dari kemampuan baca tulis, berhitung, literasi sains, literasi isu teknologi dan komunikasi, literasi keuangan, dan literasi budaya dan kewarganegaraan.

Silabus tematik yang dikembangkan oleh sentra kurikulum merupakan suatu model satuan pendidikan sanggup membuatkan silabus tematik dengan mengambil tema yang diadaptasi dengan karakteristik satuan pendidikan. Satuan pendidikan juga sanggup eksklusif memakai model silabus ini atau sanggup juga dengan mengadaptasi sesuai karakteristik satuan pendidikan.

Download Silabus Tematik Terpadu SD MI Kurikulum 2013 Revisi 2018


Selengkapnya bisa anda download pada link berikut ini:
Download

Demikian dari saya admin Blog NomIfrod perihal model silabus tematik terpadu revisi 2018 kurikulum 2013, semoga bisa menawarkan manfaat untuk pendidikan di seluruh Indonesia.