Showing posts sorted by relevance for query faktor-penting-yang-mempengaruhi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query faktor-penting-yang-mempengaruhi. Sort by date Show all posts

Monday, 30 September 2019

Jadi Bakir Faktor Penting Yang Mempengaruhi Psikologi Sosial Anak


Faktor Penting Yang Mempengaruhi Psikologi Sosial Anak. Sebagaimana telah dibahas pada artikel sebelumnya wacana Psikologi Anak Dalam Kehidupan Sosial, bahwa ada dua cara mengetahui perkembangan bermain anak dengan teman-temannya, agar lebih gampang memecahkan problem psikologi sosial anak.

Sedangkan salah satu faktor yang menghipnotis perkembangan psikologi anak ialah mengetahui bagaimana cara mereka bermain.

Beberapa faktor yang sanggup menghipnotis hal tersebut. yaitu:


1. Cara orang bau tanah mendidik dan membina anak
Orang bau tanah yang mendidik anak dengan cara sedikit demi sedikit dalam menjelaskan sesuatu hal, dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, biasanya belum dewasa mereka mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mereka akan gampang dalam menyebarkan korelasi sosialnya.

Lain halnya dengan belum dewasa yang tidak mendapat kasih sayang secara penuh dan mereka dididik oleh orang tuanya dengan cara kasar serta mendapat insiden yang menciptakan anak tersebut trauma, maka kita sanggup dengan terang melihat perbedaan yang mencolok, biasanya anak tersebut sulit dikendalikan dan mempunyai masalah, mereka tidak akan gampang membina korelasi sosial dan sulit membina persahabatan dengan anak lainnya.

2. Urutan kelahiran
Urutan kelahiran, menghipnotis juga dalam status sosial anak, alasannya biasanya anak yang paling muda lebih terkenal dan terbiasa dengan negoisasi dari pada saudara-saudaranya.

3. Kecakapan dan keterampilan mengambil peran
Biasanya belum dewasa terkenal mempunyai kecakapan dan keterampilan dalam mengambil apa pun posisi tugas dan posisi tugas tersebut sanggup menjelma lebih baik. Anak-anak terkenal biasanya mempunyai intellegensi/kecerdasan yang baik. Dengan mempunyai ciri-ciri tersebut, belum dewasa terkenal lebih gampang menempatkan dirinya atau mengikuti keadaan dilingkungan yang asing.

4. Nama
Ternyata di lingkungan anak-anak, nama sanggup membawa pengaruh. Nama yang sanggup diasosiasikan dengan sesuatu hal, sanggup membawa dampak negatif terhadap perkembangan sosial psikologi anak. alasannya belum dewasa masih sangat kongkrit dalam menyatakan sesuatu hal, kesannya anak tersebut merasa rendah diri dan tersudut apabila belum dewasa yang lain mencemoohkan alasannya namanya sanggup diasosiasikan dengan sesuatu hal.

5. Daya tarik
Anak-anak yang mempunyai daya tarik tersendiri, biasanya selalu terkenal daripada anak yang kurang mempunyai daya tarik. Anak-anak yang berumur 3 tahun, sudah sanggup membedakan mana belum dewasa yang menarik dan mana belum dewasa yang kurang menarik, reaksi ketertarikkannya hampir sama dengan orang dewasa.

Pada anak usia 3 tahun, anak yang menarik dan anak tidak menarik tidak begitu kelihatan mencolok, tetapi pada anak usia 5 tahun, hal tersebut sanggup terlihat sangat jelas, anak usia 5 tahun yang tidak menarik biasanya lebih kasar dan sering tidak jujur dalam bermain, sedangkan pada anak usia 5 tahun yang mempunyai daya tarik, biasanya mereka sering diberi masukkan-masukkan yang positif dari sekitarnya sehingga tumbuh rasa percaya diri yang lebih tinggi, sabaliknya pada anak usia 5 tahun yang tidak menarik rasa percaya dirinya berkurang alasannya terpengaruh masukkan-masukkan yang negatif dari lingkungannya.

6. Perilaku
Tidak semua anak yang menarik menjadi terkenal alasannya masih banyak faktor lainnya yang sanggup menghipnotis katagori populer. Perilaku yang menciptakan anak populer, antara lain ; ramah tamah, mempunyai rasa simpati, tidak agresif, sanggup berkerja sama, suka menolong, suka memperlihatkan masukkan atau komentar yang positif, dan lain-lain.

Secara umum faktor-faktor di atas terdapat pada belum dewasa yang populer, dan factor-faktor tersebut sanggup memilih status sosial anak, tetapi tidak selamanya anak terkenal pada nantinya sanggup memilih status sosial, sebagian belum dewasa yang tumbuh dari lingkungan yang selalu terjaga pendidikannya, intellegensinya, cakap dan terampil, mempunyai nama yang baik serta menarik tetapi tidak popular, sebagian lagi ada juga belum dewasa yang tumbuh dari lingkungan yang bermasalah, kurang perhatian dari orang tua, mempunyai nama yang kurang bagus, dan tidak mempunyai daya tarik, tetapi sanggup juga menjadi populer.

Lalu bagaimana dengan belum dewasa yang kurang dihargai ibarat ; Anak-anak yang terisolir dan Anak-anak yang terasingkan.

Kelompok belum dewasa tersebut mempunyai nilai yang rendah dari belum dewasa seumurnya, akan tetapi belum dewasa yang terisolir lebih gampang diakui dari pada belum dewasa yang terasingkan, namun usang kelamaan belum dewasa yang terasingkan akan diakui juga. Anak-anak yang terasingkan mempunyai resiko pembiasaan lebih besar dalam usia menjelang dewasa, mereka menjadi terasingkan alasannya ada penyimpangan dari salah satu factor status sosial anak. Jika belum dewasa ini lemah dalam menghadapi ejekkan-ejekkan atau godaan dari belum dewasa lainnya, maka hal tersebut sanggup membentuk sikap dan proses belajarnya akan terganggu.

Beberapa problem pada belum dewasa yang terasingkan, antara lain ;

  • Secara terbuka mereka diasingkan
  • Sering terlibat dalam hal-hal kejadian interaksi yang negatif
  • Mempunyai problem perilaku
  • Sering memperlihatkan sikap agresif
  • Mempunyai status negatif yang stabil
  • Sering bermasalah di sekolah

Secara umum belum dewasa yang terasingkan, bereaksi dengan dua cara :

1. Menarik diri
Biasanya mereka menarik diri dari kontak dengan yang lain, mereka bahwasanya ingin main dengan belum dewasa lainnya, tetapi mereka diacuhkan dan diabaikan keberadaannya, malahan mereka mengejeknya ibarat dengan sebutan “professor” alasannya anak tersebut menggunakan kacamata, maka dari itu mereka selalu menhindar dari belum dewasa lainnya, di rumah biasanya mereka juga pendiam dan selama mungkin tinggal di kamarnya dengan membaca komik atau mendengarkan musik, kepada orang tuanya mereka beralasan tidak suka main di luar.

2. Perilaku anti sosial
Biasanya mereka sulit untuk diatur, padahal belum dewasa lainnya tidak suka dengan perilakunya, misalnya: Pada dikala belum dewasa yang lain bermain bola, kemudian tiba anak yang terasingkan, tetapi tidak untuk ikut bermain dengan belum dewasa lainnya, anak tersebut tiba hanya sekedar untuk mengganggu saja dengan mengambil bolanya, dan apabila ikut bermain bola pun anak itu akan tampil dengan kasar sehingga menciptakan belum dewasa lainnya berhenti bermain, anak yang terasing itu akan marah-marah sampai akhirnya belum dewasa yang lain terpaksa menyerah dan bermain bola kembali dengan aturan-aturan yang dikehendaki oleh anak yang terasing tadi.

Untuk belum dewasa yang terasing ini di negara-negara yang sudah maju, ibarat di Belanda, para orang bau tanah dari anak tersebut akan mendapat laporan dari pengajar atau guru, kemudian mereka diberikan penyuluhan dan konsultasi dari Psikolog Anak yang ada di bawah Departemen Urusan Anak-anak Bermasalah, kemudian akan dikirim ke Departemen Kesehatan untuk gangguan jiwa yang tidak stabil untuk diberi pengarahan dan keterampilan sosial dalam cara menyesuaikan diri atau cara mengikuti keadaan di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah.

Untuk orang yang lebih dewasa, mereka diajarkan semacam therapy untuk mengikuti keadaan dalam lingkungan masyarakat agar akhirnya mereka sanggup mandiri.

Tuesday, 26 February 2019

Jadi Berilmu Prinsip Dan Faktor Yang Mensugesti Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak


Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berbeda dengan prinsip-prinsip perkembangan fase kanak-kanak final dan seterusnya. Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini (Siti Aisyah dkk., 2007 : 1.17 – 1.23) yakni sebagai berikut:

  1. Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kognitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
  2. Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relative sanggup diramalkan.
  3. Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.
  4. Pengalaman awal anak mempunyai efek kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.
  5. Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.
  6. Perkembangan dan cara berguru anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks social budaya yang majemuk.
  7. Anak yakni pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya perihal lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, sosial, dan pengetahuan yang diperolehnya.
  8. Perkembangan dan berguru merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
  9. Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.
  10. Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan aneka macam keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.
  11. Anak mempunyai modalitas bermacam-macam (ada tipe visual, auditif, kinestetik, atau adonan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga sanggup berguru hal yang berbeda pula dalam menunjukkan hal-hal yang diketahuinya.
  12. Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan berguru yakni dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan kondusif secara fisik dan fisiologis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

Salisu Shehu (1999) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan antara lain faktor hereditas dan faktor lingkungan. Dalam perspektif Islam ada faktor yang penting untuk diingat, bahwa faktor ketentuan Allah merupakan hal yang juga memengaruhi proses perkembangan dan pertumbuhan. Dengan demikian dalam Islam, faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan mencakup faktor hereditas, lingkungan dan ketentuan Allah.Selain itu, insan sebagai khalifah Allah di muka bumi, juga dianugerahkan kebebasan berkehendak yang terbatas kalau dibandingkan dengan kekuasaan Allah.

Al-Qur’an menjelaskan efek herediter dan kekuatan lingkungan pada keseluruhan perkembangan individu.Namun, perlu ditekankan bahwa efek herediter dan lingkungan pada perkembangan seseorang merupakan hal yang ditentukan oleh kehendak Allah.

  1. Intenal /hereditas :
    • Faktor bawaan yang normal dan patologik
    • Proses selama kehamilan (nutrisi, penyakit, obat, polusi, dll)

    Contoh Faktor internal/ hereditas:
    a. Genetik: ras, suku bangsa, warna kulit, jenis rambut dll
    b. Proses selama kehamilan: nutrisi yang didapat dari ibu, penyakit yang diderita, obat-obatan yang dimakan, lingkungan dll

  2. Eksternal/ lingkungan:
    • Asupan gizi penyakit  yang diderita
    • Kualitas
    • Pengasuhan
    • Dan kondisi lingkungan

    Contoh Faktor eksternal/ lingkungan :
    a. Nutrisi yang diberikan, penyakit yang diderita, kebersihan lingkungan sekitar, acara fisik yang dilakukan.
    b. Gizi yang didapat, penyakit yang diderita, kualitas keluarga/pengasuh, teman, dan sekolah.

Psikologi Islami tidak melihat insan hanya sebagai subjek dari faktor herediter dan kekuatan alam (dalam hal ini terjadi secara kebetulan).Islam melihat manusia, menyerupai juga yang lainnya, merupakan sesuatu yang diatur, dijaga, diarahkan dan dikontrol oleh kekuatan dan kehendak Allah yang tidak terbatas. Herediter dan kekuatan alam yang memengaruhi insan merupakan hal kedua. Oleh sebab itu, herediter dan kekuatan akan merupakan medium di mana Allah menunjukkan kehendaknya pada pertumbuhan dan perkembangan insan secara keseluruhan.

Monday, 18 November 2019

Lebih Cendekia Cara Dan Pentingnya Tugas Orang Renta / Keluarga Dalam Membentuk Abjad Dan Mutu Anak Bangsa

Sahabat Edukasi yang berbahagia... Buah jatuh tak jauh dari pohonnnya, tampaknya peribahasa ini tidak absurd lagi bagi kita selaku orang renta yang  dalam upaya membina dan mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik atau lebih tepatnya menjadi bawah umur yang soleh soleha. Penanaman karakter semenjak dini hendaknya dimulai dari lingkungan keluarga. Baik buruknya anak tergantung dari bagaimana para orang renta memperlakukan anak-anaknya.

Menurut pandangan Islam ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan oleh para calon orang renta yang mendambakan bawah umur soleh soleha. Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut: “Seseorang perempuan itu dinikahi lantaran empat perkara: lantaran hartanya, lantaran kedudukannya, lantaran kecantikannya dan lantaran agamanya. Pilihlah perempuan yang beragama, maka engkau akan beruntung – Hadis riwayat al-Bukhari. Makara dengan kata lain hal pertama yang harus dilakukan oleh para calon orang renta yakni memilihkan calon ibu atau calon bapak yang baik dan taqwa untuk calon anaknya kelak.

Kedua, hendaklah membaca doa sebelum melaksanakan relasi tubuh biar terhindar daripada gangguan syaitan. Rasulullah SAW telah mengajar kepada kita ibarat dalam satu hadis Beliau bersabda: “Sekiranya seseorang di antara kau ketika hendak mendatangi isterinya, maka hendaklah ia membaca: “Bismillah, Allahumma jannibnas Syaitana wajannibis syaitana ma razaktana.” Maksudnya: Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah syaitan daripada kami dan jauhkanlah syaitan daripada apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Jika Allah takdirkan (dengan relasi tersebut lahir) seorang anak, maka syaitan dihentikan memudaratkannya.” – Riwayat al-Bukhari.

Ketiga, hendaklah mengambil berat bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Perhatian itu sama ada kesehatan bayi yang dikandungnya, maupun sifat-sifat yang akan diturunkan daripada ibu kepada anaknya.

Keempat, seorang ibu hendaklah sadar terhadap apa yang dikerjakan biar tidak melaksanakan masalah buruk yang akan besar lengan berkuasa kepada bayinya nanti.

Kelima, hendaklah mendapatkan dengan senang hati bayi yang dilahirkannya sama ada perempuan atau lelaki. Kerana ada di kalangan pasangan yang tidak suka bila lahir anak perempuan. Sikap ini yakni sifat jahiliah yang perlu dijauhi. Orang Quraisy pada zaman jahiliah apabila lahirnya anak perempuan, maka mereka membunuhnya. Begitu juga adakala Allah SWT menguji ibu dan ayah dengan anak yang kurang tepat ibarat buta, bisu, pekak. Sekiranya ibu bapa itu mendapatkan dengan berlapang dada, maka ia tetap berasa senang. Namun, sekiranya ibu bapa tidak senang menerimanya, ia boleh membawa kepada penceraian atau pembunuhan pada anak tersebut.

Keenam, memberi nama anak yang baik. Sesungguhnya anak berhak untuk diberi nama yang baik dan bagus didengar. Nama itulah yang akan mewakili dirinya untuk kehidupannya kelak. Oleh itu, janganlah tersalah memberi nama. Janganlah diberi nama yang ada unsur menyamai dengan agama lain atau mahir maksiat dan orang yang populer kejahatannya. Berilah nama yang dianjurkan ibarat nama yang memperlihatkan perhambaan kepada Allah, nama Nabi dan orang yang salih.

Ketujuh, memperlihatkan anak itu rasa aman dan tentram dari hal yang seram dan masalah yang merusak akidahnya. Jangan suka menakut-nakuti dengan menyampaikan kepadanya ada hantu kerana bisa jadi hal ini sanggup merusak mental dan agamanya.

Kedelapan, memberi pendidikan agama yang cukup. Kesembilan, menjaga kesucian anak itu dengan menikahkannya sekiranya rasa perlu dan bisa untuknya.


Banyak orang renta sangat mementingkan tingginya IQ bawah umur mereka, sehingga dengan segala cara mereka berusaha merangsang pertumbuhannya pada anak mereka. Pihak sekolah juga mempunyai standard IQ yang mengharuskan bawah umur tingkat dasar mempunyai tingkat IQ tertentu untuk bisa diterima di sekolah. Sebaliknya soal spiritual dan juga karakter sering diabaikan dan dipandang sebelah mata. Karakter hanya dianggap sebagai pemanis semata, bukan prioritas dalam kurikulum yang ada. Padahal karakter sangat penting dalam pembangunan pribadi anak yang tangguh, Akan menjadi sangat disayangkan apabila ada anak yang mempunyai IQ yang tinggi tapi mempunyai karakter yang tercela.

Hasil pencaharian dari internet mengenai ”Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Akademik Anak Dr. Martin Luther King berkata: “Intelligence plus character…that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu yakni tujuan final dari pendidikan sebenarnya).artinya dengan karakter yang baik seorang niscaya akan memperoleh hasil dan mutu yang baik pula.

Daniel Goleman menyebutkan ternyata 80 persen keberhasilan dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (karakter), dan hanya 20 persen ditentukan oleh otak (IQ). Sementara kita tau bahwa didunia pendidikan lebih banyak mengasah kecerdasan otak dengan metode hapalan dan pemahaman terhadap materi yang diajarkan dibanding karakter atau budi pekerti yang baik. Sehingga tolok ukur yang paling utama membuat mutu pendidikan menjadi berkualitas rendah.

Dalam sebuah goresan pena perihal ”Pendidikan Berkarakter Sebuh Solusi Meningkatkan Mutu pendidikan” menyatakan ketidakpahaman semenjak dini perihal pendidikan karakterlah pokok utama permasalahan, mengapa mutu pendidikan semakin pudar dan kualitas seakan-akan menurun.Pernyataan yang menyebutkan pandangan beberapa kelompok mengenai pendidikan. Sebagian kelompok beropini bahwa pendidikan kita ketika ini terlalu menekankan sisi keduniawian. Sehingga banyak menghasilkan manusia-manusia yang egois, tidak memegang nilai-nilai agama, tidak menghargai perbedaan, bermental korup dan lain sebagainya. Kelompok lain beropini bahwa ketika ini pendidikan kita terlalu menekankan sisi kemampuan otak kiri. Akibatnya, banyak manusia-manusia berprestasi secara akademik, dengan gelar yang membuat orang berdecak kagum serta jabatan yang kalau kita mengutip sedikit kata-kata Vicky sanggup meningkatkan taraf  hidup kemakmuran, malah menggunakannya sebagai jembatan untuk melaksanakan hal-hal untuk memperkaya diri sendiri dan menyengsarahkan orang banyak bahkan negara.

Oleh alasannya itu mendidik anak semenjak usia dini sangatlah penting untuk masa depan anak dalam membangun pribadi dengan budi pekerti yang luhur, cerdas dan mempunyai sopan santun yang soleh/soleha.Cara mendidik anak usia dini atau balita yang salah akan menjerumuskan kedua orang tuanya baik di dunia dan akhirat.

Karena dunia daerah kita hidup ketika ini penuh dengan tantangan yang kompleks, dunia sudah berubah, semakin kejam, seram dan rusak. Gaya hidup yang dipertontonkan dunia masa sekarang dipenuhi oleh kekacauan moral, di mana keluarga tradisional sudah menjadi barang langka. Yang marak dan dipertontonkan di masyarakat yakni keluarga yang hancur, ayah dan ibu saling menyakiti sehingga anak jadi korban. Situasi dan kondisi ibarat ini tidak sanggup diatasi hanya dengan rasio atau logika semata, dibutuhkan modal yang berbeda. Dibutuhkan hikmat dan disiplin yang luar biasa untuk membangun bawah umur yang kuat menghadapi ranjau perubahan, arus informasi yang sangat deras, obat-obatan terlarang, dan pergaulan seks bebas. Dibutuhkan karakter yang kuat untuk bertahan dalam kehidupan yang keras, biar bisa mengatasi segala kasus yang dihadapi di masa depan.

Fakta ini akan menjadi sangat memprihatiankan apabila kita selaku orang renta bersifat masa ndeso dengan pertumbuhan karakter buah hati kita. Dan yang niscaya peningkatan mutu bagi bawah umur bangsa hingga kapanpun tidak akan pernah terwujud. Berdasarkan penguraian diatas maka penulis mangangkat sebuah goresan pena yang berjudul ”Karakter Untuk Buah Hati Peningkatan Mutu bagi Anak Bangsa”  Di sini penulis mengamanatkan membangunan karakter anak sangat ditentukan olehpola asuh semenjak dini dalam keluarga. Karena itu perlu dibangun keluarga yang kokoh untuk sanggup melahirkan generasi-generasi penerus yang berkualitas ,berkarakter kuat yang bermanfaat besar dalam masyarakat. Yang harus berperan bukan hanya ibu, tetapi juga ayah. Bahkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dimasa kecil hingga usia remaja sangat menentukan pembentukan karakter anak. Keluarga yang harmonis, dimana ayah dan ibu saling berinteraksi dengan kasih sayang akan memperlihatkan suatu lingkungan yang aman bagi pembentukan karakter anak. Menurut Erikson, kesuksesan orang renta membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak.

Hakikat Karakter

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karakter mempunyai arti: 1). Sifat-sifat kejiwaan, sopan santun atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. 2).Karakter juga bisa bermakna "huruf".

Menurut (Ditjen Mandikdasmen - Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter yakni cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,  bangsa  dan  negara.  Individu  yang  berkarakter  baik  adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap jawaban dari keputusan yang ia buat.

W.B. Saunders, (1977: 126) menjelaskan bahwa karakter yakni sifat kasatmata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang sanggup diamati pada individu. Gulo W, (1982: 29) menjabarkan bahwa karakter yakni kepribadian ditinjau  dari titik  tolak etis  atau  moral,  misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. Kamisa, (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter yakni sifat-sifat kejiwaan, sopan santun atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.

Wyne mengungkapkan bahwa kata karakter berasal dari bahasa Yunani “karasso” yang berarti “to mark” yaitu menandai atau mengukir, yang memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh alasannya itu seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berprilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Makara istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang.

Alwisol menjelaskan pengertian karakter sebagai penggambaran tingkah laris dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian kerena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter berwujud tingkah laris yang ditujukan kelingkungan sosial, keduanya relatif permanen serta menuntun, mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu.

Adapun karakter bangsa Indonesia yang dimiliki warga negara Indonesia dan berupaya diterapkan di sekolah-sekolah  antara lain.

1. Relijius

Kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada anutan agama dan kepercayaannya. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai relijius merupakan pendidikan karakter bangsa yang utama. Melihat nilai relijius yang semakin memudar dalam perkembanggan zaman, maka harus diterapkan semenjak dini dalam proses pendidikan baik formal ataupun tidak. Berdo’a sebelum dan sehabis belajar, berbuat baik kepada sesama, mengormati dan patuh kepada kedua orang renta dan sebagainya merupakan bentuk aplikatifnya. Jika sudah menyatu dan menjadi suatu kebutuhan maka akan melahirkan generasi bangsa yang berkualitas, sehingga mutu pendidikan sanggup ditingkatkan.

2. Jujur

Karakter bangsa yang sekarang menjadi sorotan pada aneka macam aspek kehidupan yakni kejujuran. Sekarang, nilai kejujuran diumpamakan sebagai barang berharga yang sangat mahal. Lemahnya nilai kejujuran di sekolah, seperti, budaya menyontek, berbohong kepada guru akan berdampak terhadap proses pendidikan dan hasil yang akan diperoleh. Nilai kejujuran sanggup dikembangkan melalui kantin kejujuran, sehingga materi atau pokok bahasan dalam mata pelajaran sanggup eksklusif dipraktekkan. Kantin kejujuran merupakan salah satu taktik yang tepat biar siswa berguru dan berlatih mengimplementasikan nilai-nilai antikorupsi dan sebagai wadah bagi pendidikan kader calon pemimpin bangsa yang berwatak antikorupsi6.

3. Toleransi

Toleransi yakni sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap orang lain yang berbeda dari dirinya. Berbagai kerusuhan (tawuran) dan kekerasan (perusakan sarana umum) diminimalisasikan dengan saling bertoleransi. Rasa toleransi harus selalu tertanam dan dipahami biar generasi muda terlepas dari permasalahan. Tidak mungkin ada toleransi bila kelakuan moral tidak diperkenalkan secara baik melalui pendidikan karakter. Permasalahan timbul lantaran adanya perbedaan, lantaran itulah kita membutuhkan toleransi dalam proses pendidikan supaya tercipta suasana yang aman dan damai. Seperti menghargai guru, menghargai pendapat teman, saling membantu menuju kesuksesan.

4. Disiplin

Kedisiplinan membuat pelajar senantiasa memakai waktu dengan sebaiknya, dalam arti tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Dalam lingkup nilai disiplin, Indonesia masih jauh tertinggal dari bangsa lain yang sukses menerapkan nilai kedisiplinan. Kenyataan dilapangan, kebiasaan ibarat terlambat masuk kelas/ menghadiri rapat, sering tidak hadir, (baik pengajar atau penerima didik), mengakhiri pelajaran sebelum waktunya masih sangat gampang ditemukan. Apabila dunia pendidikan gagal menanamkan sikap disiplin terhadap penerima didik, berarti para guru dan dosen siap mengantarkan bangsa di negeri ini kelapisan bawah dari bangsa-bangsa dunia yang telah maju peradabannya.

5. Kerja Keras      

Keberhasilan diperoleh melalui usaha. Kerja keras yang dilakukan mencakup rajin belajar, membuat kiprah dengan sungguh-sungguh, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan. Suksesnya penerapan kerja keras dalam melaksanakan hak dan kewajiban, akan melahirkan penerima didik yang mau berusaha, tanpa mengenal putus asa. Hal ini membuat siswa mau bekerja keras dalam mencapai tujuan final pendidikannya.

6. Kreatif

Alternatif lain yang dipakai untuk mengatasi permasalahan yaitu dengan pemikiran yang kreatif. Siswa yang kreatif sangat diidamkan, lantaran bisa menghasilkan karya-karya yang gres ibarat karya sastra, karya seni, tidak terbebani terhadap satu solusi serta jauh dari jiwa imitasi. Kreatifitas sanggup menyeimbangkan otok kiri dengan otak kanan. Sehingga hasil karya anak bangsa ibarat penciptaan robot sebagai tekhnologi sanggup mengangkat pendidikan Indonesia dimata dunia.

7. Mandiri

Siswa sanggup berdiri diatas kaki sendiri akan terlepas dari ketergantungan terhadap pemberian yang diberikan oleh orang lain. Kemandirian sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran, ibarat mengerjakan kiprah sendiri, dan melengkapi materi pembelajaran. Kemandirian melatih siswa untuk terbiasa memakai kemampuan yang dimilikinya. Jadi, generasi muda harus sanggup berdiri diatas kaki sendiri dalam mengerjakan kewajiban yang telah diberikan.

8. Demokrasi

Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 serpihan III pasal 4 ayat 1 dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Pendidikan yang demokratis akan menghasilkan lulusan yang bisa berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan bisa mempengaruhi pengambilan keputusan kebijakan publik. Demokrasi sanggup berupa saling bertukar pendapat dalam lembaga diskusi, mengajukan pemikiran dalam musyawarah, menentukan pemimpin kelas/ sekolah dan sebagainya.

9. Rasa Ingin Tahu

Minat dalam proses berguru yakni rasa ingin tahu terhadap materi yang disampaikan. Jika rasa ingin tahu selalu menjadi hal yang selalu dibiasakan, maka mendapatkan materi akan gampang dirasakan. Rasa ingin tahu membuat siswa selalu menggali ilmu, mencari informasi, melaksanakan suatu hal yang baru.

10. Semangat Kebangsaan

Patriotisme menjadi modal awal dalam keinginan memajukan bangsa negara Indonesia. Dengan semangat kebangsaan, rasa saling berafiliasi akan tetap terasa dalam mengisi hari kemerdekaan. Siswa yang patriotisme akan hikmat mengikuti upacara dan aktif dalam aneka macam kegiatan kebangsaan ibarat PMI.

11. Cinta Tanah Air

Dari nilai cinta tanah air, kepedulian terhadap bangsa dan Negara Indonesia yang sangat menonjol dalam kepribadian. Dalam segi aplikatif cinta tanah air sanggup diwujudkan dengan kesetiaan, kepedulian terhadap bahasa dan lingkungan, membeli produk anak bangsa dan dalam aneka macam aspeknya.

12. Menghargai Prestasi

Prestasi yang diperoleh harus dihargai sebagai buah usaha yang telah dipetik. Dengan aneka macam sarana yaitu menyebarkan ilmu terhadap sesama, dan selalu menggali potensi diri.

13. Bersahabat dan Komunikasi

Dalam aspek pendidikan keberhasilan sesalu diraih dengan saling bekerja sama lantaran perasaan senang telah tercipta dan komunikasi yang berjalan dengan baik ( membentuk kelompok diskusi) akan meningkatkan proses berguru menjadi lebih efisien.

14. Cinta Damai

Kemampuan membuat suasana yang dekat dan bernuansa damai, sehingga keadaan yang aman dalam proses pembelajaran sanggup diwujudkan. Permasalan diselesaikan dengan cara tenang dan adil. Sikap mendapatkan kekukurangan dan menghargai kelebihan dengan terbuka dan saling pengertian.

15. Gemar Membaca

Dengan gemar membaca, pelajar sanggup membuka cakrawala yang luas. Pepatah menyampaikan “Membaca Buku Berarti Membuka Jendela Dunia”. Informasi yang diperoleh mengakibatkan penerima didik mempunyai potensi awal yang sangat baik, sehingga sanggup mengaitkan aneka macam ilmu yang dikuasai.

16. Peduli Lingkungan

Upaya yang dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap kerusakan lingkungan. Implementasinya disekolah ibarat membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan, kenyamanan lingkungan sekolah. Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi proses pembelajaran, ibarat lingkungan berguru yang higienis akan membuat suasana senang sehingga pikiran lebih terbuka untuk mendapatkan materi.

17. Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang berjiwa sosial dengan saling membantu untuk mewujudkan kerukunan dan lingkungan yang tenang serta sejahtera dalam dunia pendidikan. Apabila ada kemalangan dari warga sekolah diwujudkan dengan rasa empati, mengumpulkan dana bantuan.

18. Bertanggung Jawab

Bertanggung jawab berarti berani mengambil resiko terhadap tindakan yang telah diperbuat. Peserta didik sangat dituntut untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya, baik terhadap diri sendiri, lingkungan masyarakat dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hakikat Mutu

Menurut Crosby (dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85) mutu ialah conformance to requirement, yaitu sesuai yang diisyaratkan atau distandarkan. Suatu produk mempunyai mutu apabila sesuai dengan standar yang telah ditentukan, standar mutu tersebut mencakup materi baku, proses produksi, dan produk jadi (Crosby, dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85). Menurut Deming (dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85) mutu ialah kesesuain dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Mutu ialah suatu kondisi dinamik yang berafiliasi dengan produk, tenaga kerja, proses dan kiprah serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi impian pelanggan. Dengan perubahan mutu tersebut, diharapkan peningkatan atau perubahan keterampilan tenaga kerja, proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan biar produk sanggup memenuhi dan melebihi impian konsumen (Garvi dan Davis, dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:86).

Dalam pandangan Zamroni ( 2007:2 ) dikatakan bahwa peningkatan mutu sekolah yakni suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses berguru mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan biar menjadi sasaran sekolah sanggup dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Jelaslah bahwa untuk menyiapkan masa depan yang gemilang bagi anak, setiap orang renta punya andil besar untuk mempersiapkannya bahkan semenjak anak masih dalam kandungan. Bukan hanya kemudahan yang lengkap, tapi kasih sayang dan penanaman nilai-nilai karakter yang baik Insyaallah akan membuat generasi-generasi yang tidak hanya cerdas tapi juga mempunyai kwalitas diri yang membanggakan oleh negeri ini.

Pengirim : SRY DEWIYANA KOLLY (Guru Sekolah Menengah kejuruan Muhammadiyah Bitung Kecamatan Girian Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara).

Daftar Pustaka :

1.   Cara mendidik anak usia dini balita biar cerdaspintar dan soleh http://www.Islamituindah.my/8-tips-lahirkan-anak-soleh
2.   Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Akademi Anak http://.www.pondokibu.com
3.   Pendidikan berkarakter meningkatkan mutu pendidikan /search?q=10/pendidikan-berkarakter-sebuah-solusi-meningkatkan-mutu-pendidikan/
4.   Pengertian karakter http://pustaka.pandani.web.id/2013/03/pengertian-karakter
5.   Pengertian Mutu http://dwicitranurhariyanti.wordpress.com/landasan-dan-problematika-dalam-pendidikan/peningkatan-mutu-pendidikan/

Lebih Cendekia Cara Dan Pentingnya Tugas Orang Renta / Keluarga Dalam Membentuk Abjad Dan Mutu Anak Bangsa

Sahabat Edukasi yang berbahagia... Buah jatuh tak jauh dari pohonnnya, tampaknya peribahasa ini tidak absurd lagi bagi kita selaku orang renta yang  dalam upaya membina dan mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik atau lebih tepatnya menjadi bawah umur yang soleh soleha. Penanaman karakter semenjak dini hendaknya dimulai dari lingkungan keluarga. Baik buruknya anak tergantung dari bagaimana para orang renta memperlakukan anak-anaknya.

Menurut pandangan Islam ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan oleh para calon orang renta yang mendambakan bawah umur soleh soleha. Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut: “Seseorang perempuan itu dinikahi lantaran empat perkara: lantaran hartanya, lantaran kedudukannya, lantaran kecantikannya dan lantaran agamanya. Pilihlah perempuan yang beragama, maka engkau akan beruntung – Hadis riwayat al-Bukhari. Makara dengan kata lain hal pertama yang harus dilakukan oleh para calon orang renta yakni memilihkan calon ibu atau calon bapak yang baik dan taqwa untuk calon anaknya kelak.

Kedua, hendaklah membaca doa sebelum melaksanakan relasi tubuh biar terhindar daripada gangguan syaitan. Rasulullah SAW telah mengajar kepada kita ibarat dalam satu hadis Beliau bersabda: “Sekiranya seseorang di antara kau ketika hendak mendatangi isterinya, maka hendaklah ia membaca: “Bismillah, Allahumma jannibnas Syaitana wajannibis syaitana ma razaktana.” Maksudnya: Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah syaitan daripada kami dan jauhkanlah syaitan daripada apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Jika Allah takdirkan (dengan relasi tersebut lahir) seorang anak, maka syaitan dihentikan memudaratkannya.” – Riwayat al-Bukhari.

Ketiga, hendaklah mengambil berat bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Perhatian itu sama ada kesehatan bayi yang dikandungnya, maupun sifat-sifat yang akan diturunkan daripada ibu kepada anaknya.

Keempat, seorang ibu hendaklah sadar terhadap apa yang dikerjakan biar tidak melaksanakan masalah buruk yang akan besar lengan berkuasa kepada bayinya nanti.

Kelima, hendaklah mendapatkan dengan senang hati bayi yang dilahirkannya sama ada perempuan atau lelaki. Kerana ada di kalangan pasangan yang tidak suka bila lahir anak perempuan. Sikap ini yakni sifat jahiliah yang perlu dijauhi. Orang Quraisy pada zaman jahiliah apabila lahirnya anak perempuan, maka mereka membunuhnya. Begitu juga adakala Allah SWT menguji ibu dan ayah dengan anak yang kurang tepat ibarat buta, bisu, pekak. Sekiranya ibu bapa itu mendapatkan dengan berlapang dada, maka ia tetap berasa senang. Namun, sekiranya ibu bapa tidak senang menerimanya, ia boleh membawa kepada penceraian atau pembunuhan pada anak tersebut.

Keenam, memberi nama anak yang baik. Sesungguhnya anak berhak untuk diberi nama yang baik dan bagus didengar. Nama itulah yang akan mewakili dirinya untuk kehidupannya kelak. Oleh itu, janganlah tersalah memberi nama. Janganlah diberi nama yang ada unsur menyamai dengan agama lain atau mahir maksiat dan orang yang populer kejahatannya. Berilah nama yang dianjurkan ibarat nama yang memperlihatkan perhambaan kepada Allah, nama Nabi dan orang yang salih.

Ketujuh, memperlihatkan anak itu rasa aman dan tentram dari hal yang seram dan masalah yang merusak akidahnya. Jangan suka menakut-nakuti dengan menyampaikan kepadanya ada hantu kerana bisa jadi hal ini sanggup merusak mental dan agamanya.

Kedelapan, memberi pendidikan agama yang cukup. Kesembilan, menjaga kesucian anak itu dengan menikahkannya sekiranya rasa perlu dan bisa untuknya.


Banyak orang renta sangat mementingkan tingginya IQ bawah umur mereka, sehingga dengan segala cara mereka berusaha merangsang pertumbuhannya pada anak mereka. Pihak sekolah juga mempunyai standard IQ yang mengharuskan bawah umur tingkat dasar mempunyai tingkat IQ tertentu untuk bisa diterima di sekolah. Sebaliknya soal spiritual dan juga karakter sering diabaikan dan dipandang sebelah mata. Karakter hanya dianggap sebagai pemanis semata, bukan prioritas dalam kurikulum yang ada. Padahal karakter sangat penting dalam pembangunan pribadi anak yang tangguh, Akan menjadi sangat disayangkan apabila ada anak yang mempunyai IQ yang tinggi tapi mempunyai karakter yang tercela.

Hasil pencaharian dari internet mengenai ”Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Akademik Anak Dr. Martin Luther King berkata: “Intelligence plus character…that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu yakni tujuan final dari pendidikan sebenarnya).artinya dengan karakter yang baik seorang niscaya akan memperoleh hasil dan mutu yang baik pula.

Daniel Goleman menyebutkan ternyata 80 persen keberhasilan dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (karakter), dan hanya 20 persen ditentukan oleh otak (IQ). Sementara kita tau bahwa didunia pendidikan lebih banyak mengasah kecerdasan otak dengan metode hapalan dan pemahaman terhadap materi yang diajarkan dibanding karakter atau budi pekerti yang baik. Sehingga tolok ukur yang paling utama membuat mutu pendidikan menjadi berkualitas rendah.

Dalam sebuah goresan pena perihal ”Pendidikan Berkarakter Sebuh Solusi Meningkatkan Mutu pendidikan” menyatakan ketidakpahaman semenjak dini perihal pendidikan karakterlah pokok utama permasalahan, mengapa mutu pendidikan semakin pudar dan kualitas seakan-akan menurun.Pernyataan yang menyebutkan pandangan beberapa kelompok mengenai pendidikan. Sebagian kelompok beropini bahwa pendidikan kita ketika ini terlalu menekankan sisi keduniawian. Sehingga banyak menghasilkan manusia-manusia yang egois, tidak memegang nilai-nilai agama, tidak menghargai perbedaan, bermental korup dan lain sebagainya. Kelompok lain beropini bahwa ketika ini pendidikan kita terlalu menekankan sisi kemampuan otak kiri. Akibatnya, banyak manusia-manusia berprestasi secara akademik, dengan gelar yang membuat orang berdecak kagum serta jabatan yang kalau kita mengutip sedikit kata-kata Vicky sanggup meningkatkan taraf  hidup kemakmuran, malah menggunakannya sebagai jembatan untuk melaksanakan hal-hal untuk memperkaya diri sendiri dan menyengsarahkan orang banyak bahkan negara.

Oleh alasannya itu mendidik anak semenjak usia dini sangatlah penting untuk masa depan anak dalam membangun pribadi dengan budi pekerti yang luhur, cerdas dan mempunyai sopan santun yang soleh/soleha.Cara mendidik anak usia dini atau balita yang salah akan menjerumuskan kedua orang tuanya baik di dunia dan akhirat.

Karena dunia daerah kita hidup ketika ini penuh dengan tantangan yang kompleks, dunia sudah berubah, semakin kejam, seram dan rusak. Gaya hidup yang dipertontonkan dunia masa sekarang dipenuhi oleh kekacauan moral, di mana keluarga tradisional sudah menjadi barang langka. Yang marak dan dipertontonkan di masyarakat yakni keluarga yang hancur, ayah dan ibu saling menyakiti sehingga anak jadi korban. Situasi dan kondisi ibarat ini tidak sanggup diatasi hanya dengan rasio atau logika semata, dibutuhkan modal yang berbeda. Dibutuhkan hikmat dan disiplin yang luar biasa untuk membangun bawah umur yang kuat menghadapi ranjau perubahan, arus informasi yang sangat deras, obat-obatan terlarang, dan pergaulan seks bebas. Dibutuhkan karakter yang kuat untuk bertahan dalam kehidupan yang keras, biar bisa mengatasi segala kasus yang dihadapi di masa depan.

Fakta ini akan menjadi sangat memprihatiankan apabila kita selaku orang renta bersifat masa ndeso dengan pertumbuhan karakter buah hati kita. Dan yang niscaya peningkatan mutu bagi bawah umur bangsa hingga kapanpun tidak akan pernah terwujud. Berdasarkan penguraian diatas maka penulis mangangkat sebuah goresan pena yang berjudul ”Karakter Untuk Buah Hati Peningkatan Mutu bagi Anak Bangsa”  Di sini penulis mengamanatkan membangunan karakter anak sangat ditentukan olehpola asuh semenjak dini dalam keluarga. Karena itu perlu dibangun keluarga yang kokoh untuk sanggup melahirkan generasi-generasi penerus yang berkualitas ,berkarakter kuat yang bermanfaat besar dalam masyarakat. Yang harus berperan bukan hanya ibu, tetapi juga ayah. Bahkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dimasa kecil hingga usia remaja sangat menentukan pembentukan karakter anak. Keluarga yang harmonis, dimana ayah dan ibu saling berinteraksi dengan kasih sayang akan memperlihatkan suatu lingkungan yang aman bagi pembentukan karakter anak. Menurut Erikson, kesuksesan orang renta membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak.

Hakikat Karakter

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karakter mempunyai arti: 1). Sifat-sifat kejiwaan, sopan santun atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. 2).Karakter juga bisa bermakna "huruf".

Menurut (Ditjen Mandikdasmen - Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter yakni cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,  bangsa  dan  negara.  Individu  yang  berkarakter  baik  adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap jawaban dari keputusan yang ia buat.

W.B. Saunders, (1977: 126) menjelaskan bahwa karakter yakni sifat kasatmata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang sanggup diamati pada individu. Gulo W, (1982: 29) menjabarkan bahwa karakter yakni kepribadian ditinjau  dari titik  tolak etis  atau  moral,  misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. Kamisa, (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter yakni sifat-sifat kejiwaan, sopan santun atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.

Wyne mengungkapkan bahwa kata karakter berasal dari bahasa Yunani “karasso” yang berarti “to mark” yaitu menandai atau mengukir, yang memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh alasannya itu seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berprilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Makara istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang.

Alwisol menjelaskan pengertian karakter sebagai penggambaran tingkah laris dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian kerena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter berwujud tingkah laris yang ditujukan kelingkungan sosial, keduanya relatif permanen serta menuntun, mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu.

Adapun karakter bangsa Indonesia yang dimiliki warga negara Indonesia dan berupaya diterapkan di sekolah-sekolah  antara lain.

1. Relijius

Kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada anutan agama dan kepercayaannya. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai relijius merupakan pendidikan karakter bangsa yang utama. Melihat nilai relijius yang semakin memudar dalam perkembanggan zaman, maka harus diterapkan semenjak dini dalam proses pendidikan baik formal ataupun tidak. Berdo’a sebelum dan sehabis belajar, berbuat baik kepada sesama, mengormati dan patuh kepada kedua orang renta dan sebagainya merupakan bentuk aplikatifnya. Jika sudah menyatu dan menjadi suatu kebutuhan maka akan melahirkan generasi bangsa yang berkualitas, sehingga mutu pendidikan sanggup ditingkatkan.

2. Jujur

Karakter bangsa yang sekarang menjadi sorotan pada aneka macam aspek kehidupan yakni kejujuran. Sekarang, nilai kejujuran diumpamakan sebagai barang berharga yang sangat mahal. Lemahnya nilai kejujuran di sekolah, seperti, budaya menyontek, berbohong kepada guru akan berdampak terhadap proses pendidikan dan hasil yang akan diperoleh. Nilai kejujuran sanggup dikembangkan melalui kantin kejujuran, sehingga materi atau pokok bahasan dalam mata pelajaran sanggup eksklusif dipraktekkan. Kantin kejujuran merupakan salah satu taktik yang tepat biar siswa berguru dan berlatih mengimplementasikan nilai-nilai antikorupsi dan sebagai wadah bagi pendidikan kader calon pemimpin bangsa yang berwatak antikorupsi6.

3. Toleransi

Toleransi yakni sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap orang lain yang berbeda dari dirinya. Berbagai kerusuhan (tawuran) dan kekerasan (perusakan sarana umum) diminimalisasikan dengan saling bertoleransi. Rasa toleransi harus selalu tertanam dan dipahami biar generasi muda terlepas dari permasalahan. Tidak mungkin ada toleransi bila kelakuan moral tidak diperkenalkan secara baik melalui pendidikan karakter. Permasalahan timbul lantaran adanya perbedaan, lantaran itulah kita membutuhkan toleransi dalam proses pendidikan supaya tercipta suasana yang aman dan damai. Seperti menghargai guru, menghargai pendapat teman, saling membantu menuju kesuksesan.

4. Disiplin

Kedisiplinan membuat pelajar senantiasa memakai waktu dengan sebaiknya, dalam arti tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Dalam lingkup nilai disiplin, Indonesia masih jauh tertinggal dari bangsa lain yang sukses menerapkan nilai kedisiplinan. Kenyataan dilapangan, kebiasaan ibarat terlambat masuk kelas/ menghadiri rapat, sering tidak hadir, (baik pengajar atau penerima didik), mengakhiri pelajaran sebelum waktunya masih sangat gampang ditemukan. Apabila dunia pendidikan gagal menanamkan sikap disiplin terhadap penerima didik, berarti para guru dan dosen siap mengantarkan bangsa di negeri ini kelapisan bawah dari bangsa-bangsa dunia yang telah maju peradabannya.

5. Kerja Keras      

Keberhasilan diperoleh melalui usaha. Kerja keras yang dilakukan mencakup rajin belajar, membuat kiprah dengan sungguh-sungguh, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan. Suksesnya penerapan kerja keras dalam melaksanakan hak dan kewajiban, akan melahirkan penerima didik yang mau berusaha, tanpa mengenal putus asa. Hal ini membuat siswa mau bekerja keras dalam mencapai tujuan final pendidikannya.

6. Kreatif

Alternatif lain yang dipakai untuk mengatasi permasalahan yaitu dengan pemikiran yang kreatif. Siswa yang kreatif sangat diidamkan, lantaran bisa menghasilkan karya-karya yang gres ibarat karya sastra, karya seni, tidak terbebani terhadap satu solusi serta jauh dari jiwa imitasi. Kreatifitas sanggup menyeimbangkan otok kiri dengan otak kanan. Sehingga hasil karya anak bangsa ibarat penciptaan robot sebagai tekhnologi sanggup mengangkat pendidikan Indonesia dimata dunia.

7. Mandiri

Siswa sanggup berdiri diatas kaki sendiri akan terlepas dari ketergantungan terhadap pemberian yang diberikan oleh orang lain. Kemandirian sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran, ibarat mengerjakan kiprah sendiri, dan melengkapi materi pembelajaran. Kemandirian melatih siswa untuk terbiasa memakai kemampuan yang dimilikinya. Jadi, generasi muda harus sanggup berdiri diatas kaki sendiri dalam mengerjakan kewajiban yang telah diberikan.

8. Demokrasi

Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 serpihan III pasal 4 ayat 1 dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Pendidikan yang demokratis akan menghasilkan lulusan yang bisa berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan bisa mempengaruhi pengambilan keputusan kebijakan publik. Demokrasi sanggup berupa saling bertukar pendapat dalam lembaga diskusi, mengajukan pemikiran dalam musyawarah, menentukan pemimpin kelas/ sekolah dan sebagainya.

9. Rasa Ingin Tahu

Minat dalam proses berguru yakni rasa ingin tahu terhadap materi yang disampaikan. Jika rasa ingin tahu selalu menjadi hal yang selalu dibiasakan, maka mendapatkan materi akan gampang dirasakan. Rasa ingin tahu membuat siswa selalu menggali ilmu, mencari informasi, melaksanakan suatu hal yang baru.

10. Semangat Kebangsaan

Patriotisme menjadi modal awal dalam keinginan memajukan bangsa negara Indonesia. Dengan semangat kebangsaan, rasa saling berafiliasi akan tetap terasa dalam mengisi hari kemerdekaan. Siswa yang patriotisme akan hikmat mengikuti upacara dan aktif dalam aneka macam kegiatan kebangsaan ibarat PMI.

11. Cinta Tanah Air

Dari nilai cinta tanah air, kepedulian terhadap bangsa dan Negara Indonesia yang sangat menonjol dalam kepribadian. Dalam segi aplikatif cinta tanah air sanggup diwujudkan dengan kesetiaan, kepedulian terhadap bahasa dan lingkungan, membeli produk anak bangsa dan dalam aneka macam aspeknya.

12. Menghargai Prestasi

Prestasi yang diperoleh harus dihargai sebagai buah usaha yang telah dipetik. Dengan aneka macam sarana yaitu menyebarkan ilmu terhadap sesama, dan selalu menggali potensi diri.

13. Bersahabat dan Komunikasi

Dalam aspek pendidikan keberhasilan sesalu diraih dengan saling bekerja sama lantaran perasaan senang telah tercipta dan komunikasi yang berjalan dengan baik ( membentuk kelompok diskusi) akan meningkatkan proses berguru menjadi lebih efisien.

14. Cinta Damai

Kemampuan membuat suasana yang dekat dan bernuansa damai, sehingga keadaan yang aman dalam proses pembelajaran sanggup diwujudkan. Permasalan diselesaikan dengan cara tenang dan adil. Sikap mendapatkan kekukurangan dan menghargai kelebihan dengan terbuka dan saling pengertian.

15. Gemar Membaca

Dengan gemar membaca, pelajar sanggup membuka cakrawala yang luas. Pepatah menyampaikan “Membaca Buku Berarti Membuka Jendela Dunia”. Informasi yang diperoleh mengakibatkan penerima didik mempunyai potensi awal yang sangat baik, sehingga sanggup mengaitkan aneka macam ilmu yang dikuasai.

16. Peduli Lingkungan

Upaya yang dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap kerusakan lingkungan. Implementasinya disekolah ibarat membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan, kenyamanan lingkungan sekolah. Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi proses pembelajaran, ibarat lingkungan berguru yang higienis akan membuat suasana senang sehingga pikiran lebih terbuka untuk mendapatkan materi.

17. Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang berjiwa sosial dengan saling membantu untuk mewujudkan kerukunan dan lingkungan yang tenang serta sejahtera dalam dunia pendidikan. Apabila ada kemalangan dari warga sekolah diwujudkan dengan rasa empati, mengumpulkan dana bantuan.

18. Bertanggung Jawab

Bertanggung jawab berarti berani mengambil resiko terhadap tindakan yang telah diperbuat. Peserta didik sangat dituntut untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya, baik terhadap diri sendiri, lingkungan masyarakat dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hakikat Mutu

Menurut Crosby (dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85) mutu ialah conformance to requirement, yaitu sesuai yang diisyaratkan atau distandarkan. Suatu produk mempunyai mutu apabila sesuai dengan standar yang telah ditentukan, standar mutu tersebut mencakup materi baku, proses produksi, dan produk jadi (Crosby, dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85). Menurut Deming (dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85) mutu ialah kesesuain dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Mutu ialah suatu kondisi dinamik yang berafiliasi dengan produk, tenaga kerja, proses dan kiprah serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi impian pelanggan. Dengan perubahan mutu tersebut, diharapkan peningkatan atau perubahan keterampilan tenaga kerja, proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan biar produk sanggup memenuhi dan melebihi impian konsumen (Garvi dan Davis, dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:86).

Dalam pandangan Zamroni ( 2007:2 ) dikatakan bahwa peningkatan mutu sekolah yakni suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses berguru mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan biar menjadi sasaran sekolah sanggup dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Jelaslah bahwa untuk menyiapkan masa depan yang gemilang bagi anak, setiap orang renta punya andil besar untuk mempersiapkannya bahkan semenjak anak masih dalam kandungan. Bukan hanya kemudahan yang lengkap, tapi kasih sayang dan penanaman nilai-nilai karakter yang baik Insyaallah akan membuat generasi-generasi yang tidak hanya cerdas tapi juga mempunyai kwalitas diri yang membanggakan oleh negeri ini.

Pengirim : SRY DEWIYANA KOLLY (Guru Sekolah Menengah kejuruan Muhammadiyah Bitung Kecamatan Girian Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara).

Daftar Pustaka :

1.   Cara mendidik anak usia dini balita biar cerdaspintar dan soleh http://www.Islamituindah.my/8-tips-lahirkan-anak-soleh
2.   Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Akademi Anak http://.www.pondokibu.com
3.   Pendidikan berkarakter meningkatkan mutu pendidikan /search?q=10/pendidikan-berkarakter-sebuah-solusi-meningkatkan-mutu-pendidikan/
4.   Pengertian karakter http://pustaka.pandani.web.id/2013/03/pengertian-karakter
5.   Pengertian Mutu http://dwicitranurhariyanti.wordpress.com/landasan-dan-problematika-dalam-pendidikan/peningkatan-mutu-pendidikan/