Showing posts sorted by relevance for query peran-guru-sebagai-evaluator. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query peran-guru-sebagai-evaluator. Sort by date Show all posts

Wednesday, 24 January 2018

Jadi Arif Tugas Guru Sebagai Sumber Belajar, Fasilitator Dan Demonstrastor


Seperti yang telah dijelaskan dimuka, guru dalam proses pembelajaran mempunyai kiprah yang sangat penting. Bagaimanapun hebatnya kemajuan tek-nologi, kiprah guru akan tetap diperlukan. Teknologi yang konon sanggup me-mudahkan insan mencari dan mendapat gosip dan pengetahuan, ti-dak mungkin bisa mengganti kiprah guru.

Lalu apa kiprah guru dalam kondisi demikian? Beberapa kiprah guru khusunya dalam proses pembelajaran di dalam kelas dijelaskan dibawah ini:

a. Guru sebagai Sumber Belajar


Peran guru sebagai sumber belajar, merupakan kiprah yang sangat pen-ting. Peran sebagai sumber mencar ilmu berkaitan akrab dengan penguasaan materi pelajaran. Kita bisa menilai baik atau tidaknya seorang guru hanya dari pengu-asaan materi pelajaran. Dikatakan guru yang baik manakala ia sanggup mengu-asai materi pelajaran dengan baik, sehingga benar-benar ia berperan sebagai sumber mencar ilmu bagi anak didiknya.

Apapun yang ditanyakan siswa sekaitan dengan materi pelajaran yang sedang diajarkannya, ia akan sanggup menjawab dengan penuh keyakinan. Sebaliknya dikatakan guru yang kurang baik mana-kala ia tidak paham wacana materi yang diajarkannya. Ketidak pahaman ten-tang materi pelajaran biasanya ditunjukkan oleh perilaku-perilaku tertentu contohnya teknik penyampaian materi pelajaran yang monoton, ia lebih sering duduk di dingklik sambil membaca, suaranya lemah, tidak berani melaksanakan kontak mata dengan siswa, miskin dengan ilustrasi dan lain sebagainya. Perilaku guru yang demikian sanggup menyebabkan hilangnya kepercayaan pada diri siswa, sehingga guru akan sulit mengendalikan kelas.

Sebagai sumber mencar ilmu dalam proses pembelajaran hendaknya guru melaksanakan hal-hal sebagai berikut:

1. Guru harus mempunyai materi rujukan yang lebih banyak dibandingkan dengan siswa. Hal ini untuk menjaga semoga guru mempunyai pemahaman yang lebih baik wacana materi yang akan dikaji bersama siswa. Dalam perkem-bangan teknologi gosip yang sangat cepat, bisa terjadi siswa lebih ”pintar” dibandingkan guru dalam hal penguasaan informasi. Oleh alasannya ialah itu, untuk menjaga semoga guru tidak ketinggalan informasi, sebaiknya guru mempunyai bahan-bahan reference yang lebih banyak dibandingkan siswa. Misalnya melacak bahan-bahan dari internet, atau dari materi cetak terbit-an terakhir, atau banyak sekali gosip dari media masa.

2. Guru sanggup memperlihatkan sumber mencar ilmu yang sanggup dipelajari oleh siswa yang biasanya mempunyai kecepatan mencar ilmu di atas rata-rata siswa yang lain. Siswa yang demikian perlu diberikan perlakuan khusus, contohnya dengan memperlihatkan materi pengayaan dengan memperlihatkan sumber mencar ilmu yang berkenaan dengan materi pelajaran.

3. Guru perlu melaksanakan pemetaan wacana materi pelajaran, contohnya dengan memilih mana materi inti (core), yang wajib dipelajari siswa, mana materi aksesori mana materi yang harus diingat kembali lantaran pernah di bahas dan lain sebagainya. Malalui pemetaan semacam ini akan memu-dahkan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai sumber belajar.

baca juga:
Peran Guru sebagai Evaluator
Peran Guru sebagai Pengelola Pembelajaran

b. Guru sebagai Fasilitator


Sebagai fasilitator guru berperan dalam memperlihatkan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam acara proses pembelajaran. Sebelum proses pembelajaran dimulai sering guru bertanya: bagaimana caranya semoga ia gampang menyajikan materi pelajaran? Pertanyaan tersebut sekilas memang ada benar-nya. Melalui perjuangan yang sungguh-sungguh guru ingin semoga ia gampang menya-jikan materi pelajaran dengan baik. Namun demikian, pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa proses pembelajaran berorientasi pada guru.

Oleh alasannya ialah itu akan lebih manis manakala pertanyaan tersebut diarahkan pada siswa, mi-salnya apa yang harus dilakukan semoga siswa gampang mempelajari materi pela-jaran sehingga tujuan mencar ilmu tercapai secara optimal. Pertanyaan tersebut me-ngandung makna, kalau tujuan mengajar ialah mempermudah siswa belajar. Inilah hakikat kiprah fasilitator dalam proses pembelajaran.

Agar sanggup melaksanakan kiprah sebagai fasilitator dalam proses pembe-lajaran, ada beberapa hal yang harus dipahami, khususnya hal-hal yang ber-hubungan dengan pemanfaatan banyak sekali media dan sumber pembelajaran.

  1. Guru perlu memahami banyak sekali jenis media dan sumber mencar ilmu beserta fungsi masing-masing media tersebut. Pemahaman akan fungsi media sa-ngat diperlukan, belum tentu suatu media cocok dipakai untuk menga-jarkan semua materi pelajaran. Setiap media mempunyai karakteristik yang berbeda.
  2. Guru perlu mempunyai keterampilan dalam merancang suatu media. Ke-mampuan merancang media merupakan salah satu kompetensi yang ha-rus dimiliki oleh seorang guru profesional. Dengan perancangan media yang dianggap cocok akan memudahkan proses pembelajaran, sehingga pada gilirannya tujuan pembelajaran akan tercapai secara optimal.
  3. Guru dituntut untuk bisa mengorganisasikan banyak sekali jenis media ser-ta sanggup memanfaatkan banyak sekali sumber belajar. Perkembangan teknolo-gi infomasi menuntut setiap guru untuk sanggup mengikuti perkembangan teknologi mutakhir. Berbagai perkembangan teknologi gosip memung-kinkan setiap guru sanggup memakai banyak sekali pilihan media yang dianggap cocok.
  4. Sebagai fasilitator guru dituntut semoga mempunyai kemampuan dalam berko-munikasi dan berinteraksi dengan siswa. Hal ini sangat penting, kemam-puan berkomunikasi secara efektif sanggup memudahkan siswa menangkap pesan sehingga sanggup meningkatkan motivasi mencar ilmu mereka.

baca juga:
Peran Guru sebagai Pembimbing
Peran Guru sebagai Motivator

c. Guru sebagai Demonstrator


Yang dimaksud dengan kiprah guru sebagai demonstrator ialah kiprah untuk mempertunjukkan kepada siswa segala seuatu yang sanggup menciptakan sis-wa lebih mengerti dan memahami setip pesan yang disampaikan. Ada dua konteks guru sebagai demonstrator.

Pertama sebagai demonstrator berarti guru harus memperlihatkan sikap-sikap yang terpuji. Dalam setiap aspek kehidup-an, guru merupakan sosok ideal bagi setiap siswa. Biasanya apa yang dilaku-kan guru akan menjadi contoh bagi siswa. Dengan demikian dalam konteks ini guru berperan sebagai model dan teladan bagi setiap siswa.

Kedua, sebagai demonstrator guru harus sanggup mennujukkan bagaimana caranya semoga setiap materi pelajaran sanggup lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa. Oleh lantaran itu, sebagai demonstrator akrab kaitannya dengan pengaturan seni administrasi pembelajaran yang lebih efektif.

Jadi Bakir Tugas Guru Sebagai Evaluator Dalam Pembelajaran


Sebagai evaluator guru berperan untuk mengumpulkan data atau gosip wacana keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Terdapat dua fungsi dalam memerankan kiprahnya sebagai evaluator. Pertama, untuk memilih keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan atau memilih keberhasilan siswa dalam menyerap materi kurikulum. Kedua, untuk memilih keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.

1. Evaluasi untuk Menentukan Keberhasilan Siswa
Sebagai kegiatan yang bertujuan untuk menilai keberhasilan siswa, penilaian memegang peranan yang sangat penting. Sebab melalui penilaian guru sanggup memilih apakah siswa yang diajarnya sudah mempunyai kompetensi yang telah ditetapkan, sehingga mereka layak diberikan aktivitas pembelajaran baru, atau malah sebaliknya siswa belum sanggup mencapai standar minimal sehingga mereka perlu diberikan aktivitas remidial.

Sering guru beranggapan bahwa penilaian sama dengan melaksanakan tes, artinya guru telah melaksanakan penilaian manakala ia telah melaksanakan tes. Hal ini tentu kurang tepat, alasannya yakni penilaian yakni suatu proses untuk memilih nilai atau makna tertentu pada sesuatu yang dievaluasi. Dengan demikian tes hanya salah satu cara yang sanggup dilakukan untuk memilih makna tersebut. Misalnya Si 'A' dikatakan menguasai seluruh aktivitas pembelajaran menurut hasil rangkaian penilaian misalnya, menurut hasil tes, ia memperoleh skor yang bagus, menurut hasil observasi ia telah sanggup menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari, menurut hasil wawancara ia benar-benar tidak mengalami kesulitan wacana materi pelajaran yang telah dipelajarinya.

Berdasarkan rangkaian proses penilaian akhirnya guru sanggup memilih bahwa Si 'A' pantas diberi aktivitas pembelajaran baru. Sebaliknya, walaupun menurut hasil tes Si 'B' telah sanggup menguasai kompetensi menyerupai yang diharapkan, akan tetapi menurut hasil wawancara dan observasi, ia tidak menawarkan perubahan sikap yang signifikan contohnya dalam kemampuan berpikir, maka sanggup saja guru memilih bahwa proses pembelajaran dianggap belum berhasil.

Kelemahan yang sering terjadi sehubungan dengan pelaksanaan penilaian selama ini yakni guru dalam memilih keberhasilan siswa terbatas pada hasil tes yang biasa dilakukan secara tertulis, akhirnya target pembelajaran hanya terbatas pada kemampuan siswa untuk mengisi soal-soal yang biasa keluar dalam tes.

Di samping itu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penilaian itu juga sebaiknya dilakukan bukan hanya terhadap hasil berguru akan tetapi juga proses belajar. Hal ini sangat penting alasannya yakni penilaian terhadap proses berguru intinya penilaian terhadap keterampilan intelektual secara nyata.

2. Evaluasi untuk Menentukan Keberhasilan Guru
Evaluasi dilakukan bukan hanya untuk siswa akan tetapi sanggup dipakai untuk menilai kinerja guru itu sendiri. Berdasarkan hasil penilaian apakah guru telah melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan atau belum, apa sajakah yang perlu diperbaiki. Evaluasi untuk memilih keberhasilan guru, tentu saja tidak sekomplek untuk menilai keberhasilan siswa baik dilihat dari aspek waktu pelaksanaan maupun dilihat dari aspek pelaksanaan. Biasanya penilaian ini dilakukan sesudah proses pembelajaran berakhir atau yang biasa disebut dengan posttes.

Jadi Cerdik Mengajar Sebagai Proses Memberikan Bahan Pelajaran Dan Mengatur Lingkungan


Sebelum kita bahas pengertian pembelajaran, terlebih dahulu kita bahas konsep wacana mengajar. Mengapa demikian? Sebab proses pembelajaran intinya tidak sanggup dipisahkan dari proses mengajar. Secara umum ada dua konsep mengajar, yakni mengajar sebagai proses memberikan materi pelajaran dan mengajar sebagai proses mengatur lingkungan. Kedua konsep tersebut mempunyai konsekuaensi yang berbeda terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.

1. Mengajar sebagai Proses Menyampaikan Materi Pelajaran


Pertama kali, mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses penyampaian itu sering juga dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Dalam konteks ini, mentransfer tidak diartikan dengan memindahkan, ibarat contohnya mentransfer uang. Sebab, kalau kita analogikan dengan mentransfer uang, maka jumlah uang yang dimiliki oleh seseorang akan menjadi berkurang bahkan hilang sehabis ditransfer pada orang lain.

Apakah mengajar juga demikian? Apakah ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru akan menjadi berkurang sehabis dilakukan proses mentransfer? Tidak bukan? Bahkan mungkin saja ilmu yang dimiliki guru akan semakin bertambah. Karena itu kata mentransfer dalam konteks ini diartikan sebagai proses menyebarluaskan, ibarat menyebarluaskan atau memindahkan api. Ketika api dipindahkan atau disebarluaskan, maka api itu tidaklah menjadi kecil akan tetapi semakin membesar. Untuk proses mengajar, sebagai proses memberikan pengetahuan akan lebih sempurna bila diartikan dengan menanamkan ilmu pengetahuan ibarat yang dikemukakan Smith (1987) bahwa mengajar ialah menanamkan pengetahuan atau keterampilan (teaching is imparting knowledge or skill).

Kalau kita anggap mengajar sebagai proses memberikan materi pelajaran, maka aktivitas mencar ilmu mengajar atau proses pembelajaran akan mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut:

a. Proses Pembelajaran Berorientasi pada Guru (Teacher Centered)


Dalam aktivitas mencar ilmu mengajar, guru memegang tugas yang sangat penting. Guru memilih segalanya. Mau diapakan siswa? Apa yang harus dikuasai siswa? Bagaimana cara melihat keberhasilan belajar? Semuanya tergantung guru. Begitu pentingnya tugas guru, maka biasanya proses pengajaran hanya akan berlangsung manakala ada guru; dan mustahil ada proses pembelajaran tanpa guru.

Sehubungan dengan proses pembelajaran yang berpusat pada guru, maka minimal ada tiga tugas utama yang harus dilakukan guru, yaitu guru sebagai perencana, sebagai penyampai informasi dan guru sebagai evaluator. Sebagai perencana pengajaran, sebelum proses pengajaran guru harus menyiapkan banyak sekali hal yang diperlukan, ibarat contohnya materi pelajaran apa yang harus disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, media apa yang harus dipakai dan lain sebagainya. Dalam melaksanakan kiprahnya sebagai penyampai informasi, sering kali guru memakai metode ceramah sebagai metode utama.

Metode ini merupakan metode yang dianggap ampuh dalam proses pembelajaran. Karena pentingnya metode ini, maka biasanya guru sudah merasa mengajar apabila sudah melaksanakan ceramah, dan tidak mengajar apabila tidak melaksanakan ceramah. Sedangkan, sebagai evaluator guru juga berperan dalam memilih alat penilaian keberhasilan pengajaran. Biasanya kriteria keberhasilan proses pengajaran diukur dari sejauhmana siswa sanggup menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru.

b. Siswa sebagai Objek Belajar


Konsep mengajar sebagai proses memberikan materi pelajaran, menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi pelajaran. Mereka dianggap sebagai organisme yang pasif, yang belum memahami apa yang harus dipahami, sehingga melalui proses pengajaran mereka dituntut memahami segala sesuatu yang diberikan guru. Peran siswa ialah sebagai peserta informasi yang diberikan guru. Jenis informasi dan pengetahuan yang harus dipelajari kadangkadang tidak berpijak dari kebutuhan siswa, baik dari segi pengembangan talenta maupun dari minat siswa akan tetapi berangkat dari pandangan apa yang berdasarkan guru dianggap baik dan bermanfaat.

Sebagai objek belajar, kesempatan siswa untuk membuatkan kemampuan sesuai dengan minat dan bakatnya, bahkan untuk mencar ilmu sesuai dengan gayanya sangat terbatas. Sebab, dalam proses pembelajaran segalanya diatur dan ditentukan oleh guru.

c. Kegiatan Pembelajaran Terjadi pada Tempat dan Waktu Tertentu


Proses pengajaran berlangsung pada daerah tertentu contohnya terjadi di dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehingga siswa hanya mencar ilmu manakala ada kelas yang telah didesain sedemikian rupa sebagai daerah belajar. Adanya daerah yang telah ditentukan, sering proses pengajaran terjadi sangat formal. Siswa duduk dibangku berjejer, dan guru di depan kelas. Demikian juga halnya dengan waktu yang diatur sangat ketat. Misalnya manakala waktu mencar ilmu suatu materi pelajaran tertentu telah habis, maka segera siswa akan mencar ilmu materi lain sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan. Cara mempelajarinyapun ibarat bagianbagian yang terpisah, seakanakan tidak ada kaitannya antara materi pelajaran yang satu dengan yang lain.

d. Tujuan Utama Pembelajaran ialah Penguasaan Materi Pelajaran


Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauhmana siswa sanggup menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Materi pelajaran itu sendiri ialah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Sedangkan, mata pelajaran itu sendiri ialah pengalamanpengalaman insan masa kemudian yang disusun secara sistematis dan logis kemudian diuraikan dalam bukubuku pelajaran dan selanjutnya isi buku itu yang harus dikuasai siswa. Kadangkadang siswa tidak perlu memahami apa gunanya mempelajari materi tersebut. Karena kriteria keberhasilan ditentukan oleh penguasaan materi pelajaran, maka alat penilaian yang dipakai biasanya ialah tes hasil mencar ilmu tertulis (paper and pencil test) yang dilaksanakan secara periodik.

2. Mengajar sebagai Proses Mengatur Lingkungan


Pandangan lain mengajar dianggap sebagai proses mengatur lingkungan
dengan impian semoga siswa belajar. Dalam konsep ini yang penting ialah belajarnya siswa. Untuk apa memberikan materi pelajaran kalau siswa tidak berubah tingkah lakunya? Untuk apa siswa menguasai materi pelajaran sebanyakbanyaknya kalau ternyata materi yang dikuasainya itu tidak berdampak terhadap perubahan sikap dan kemampuan siswa. Dengan demikian yang penting dalam mengajar ialah proses merubah perilaku.

Dalam kontek ini mengajar tidak ditentukan oleh lamanya serta banyaknya materi yang disampaikan, akan tetapi dari imbas proses pembelajaran itu sendiri. Bisa terjadi guru hanya beberapa menit saja di muka kelas, namun dari waktu yang sangat singkat itu menciptakan siswa sibuk melaksanakan proses belajar, itu sudah dikatakan mengajar.

Kalau kita menganggap mengajar sebagai proses mengatur lingkungan, maka dalam aktivitas mencar ilmu mengajar atau dalam proses pembelajaran akan mempunyai karakteristik sebagai berikut.

a. Proses Pembelajaran Berpusat pada Siswa (Student Centered)


Mengajar tidak ditentukan oleh selera guru, akan tetapi sangat ditentukan oleh siswa itu sendiri. Hendak mencar ilmu apa siswa dari topik yang harus dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya guru yang memilih akan tetapi juga siswa. Siswa memliki kesempatan untuk mencar ilmu sesuai dengan gayanya sendiri. Dengan demikian tugas guru berubah dari tugas sebagai sumber mencar ilmu menjadi tugas sebagai fasilitator, artinya guru lebih banyak sebagai orang yang membantu siswa untuk belajar. Tujuan utama mengajar ialah membelajarkan siswa.

Oleh lantaran itu krtieria keberhasilan proses mengajar tidak diukur dari sejauhmana siswa telah menguasai materi pelajaran akan tetapi diukur dari sejauhmana siswa telah melaksanakan proses belajar. Dengan demikian guru tidak lagi berperan hanya sebagai sumber belajar, akan tetapi berperan sebagai orang yang membimbing dan memfasilitasi semoga siswa mau dan bisa belajar. Inilah makna proses pembelajaran berpusat kepada siswa (student oriented).

Siswa tidak dianggap sebagai objek mencar ilmu yang sanggup diatur dan dibatasi oleh kemauan guru, melainkan siswa ditempatkan sebagai subjek yang mencar ilmu sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan yang dimilikinya. Oleh lantaran itu, materi apa yang seharusnya dipelajari dan bagaimana cara mempelajrinya tidak sematamata ditentukan oleh keinginan guru, akan tetapi memperhatikan setiap perbedaan siswa.

b. Siswa sebagai Subjek Belajar


Dalam konsep mengajar sebagai proses mengatur lingkungan, siswa tidak dianggap sebagai organisme yang pasif yang hanya sebagai peserta informasi, akan tetapi dipandang sebagai organisme yang aktif, yang mempunyai potensi untuk berkembang. Mereka ialah individu yang mempunyai kemampuan dan potensi.

c. Proses Pembelajaran Berlangsung di Mana Saja


Sesuai dengan karakteristik pembelajaran yang berorientasi kepada siswa, maka proses pembelajaran bisa terjadi dimana saja. Kelas bukanlah satusatunya daerah mencar ilmu siswa. Siswa sanggup memanfaatkan banyak sekali daerah mencar ilmu sesuai dengan kebutuhan dan sifat materi pelajaran. Ketika siswa akan mencar ilmu wacana fungsi pasar misalnya, maka pasar itu sendiri merupakan daerah mencar ilmu siswa.

d. Pembelajaran Berorientasi pada Pencapaian Tujuan


Tujuan pembelajaran bukanlah penguasan materi pelajaran, akan tetapi proses untuk merubah tingkah laris siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Oleh lantaran itulah penguasaan materi pelajaran bukanlah simpulan dari proses pengajaran, akan tetapi hanya sebagai tujuan antara untuk pembentukan tingkah laris yang lebih luas. Artinya, sejauh mana materi pelajaran yang dikuasai siswa sanggup membentuk contoh sikap siswa itu sendiri. Untuk itulah metode dan stretegi yang dipakai guru tidak hanya sekedar metode ceramah, akan tetapi memakai banyak sekali metode, ibarat diskusi, penugasan, kunjungan ke objekobjek tertentu dan lain sebagainya.