Showing posts sorted by relevance for query jika-kedua-orang-tua-bekerja-mendidik. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query jika-kedua-orang-tua-bekerja-mendidik. Sort by date Show all posts

Thursday, 12 September 2019

Jadi Terpelajar Pendidikan Tidak Cukup Hanya Di Sekolah Saja


Biasanya orang renta senang dengan keberhasilan anaknya. Apalagi jikalau anaknya sudah sanggup bekerja di forum atau perusahaan populer dengan honor besar melebihi penghasilan orang tuanya dan sanggup menyebarkan akomodasi menyerupai kendaraan, rumah, dan lain sebagainya. Namun, tidak cukup hanya itu saja alasannya ialah pada hakikatnya masih ada yang lebih membahagiakan orang tua. Yaitu: senang alasannya ialah anaknya taat beribadah, dan taat terhadap orang tua.

Kebahagiaan yang sifatnya bahan hanya sebatas kebahagiaan fisik saja, sehingga sebagian orang renta hal itu diletakkan pada posisi terakhir. Alasannya sederhana sekali;

  1. Untuk apa punya banyak harta kendaraan beroda empat mewah, rumah mewah, apartement, dan lainnya, jikalau anak selalu menyakiti orang tua?
  2. Untuk apa gembira punya anak kaya raya, jikalau setiap hari pulang malam dalam keadaan mabuk?
  3. Untuk apa punya penghasilan besar, jikalau anak kita selalu "bermasalah" dengan istri orang?

Kebahagiaan terhadap kesuksesan bahan itu bersifat relatif, sedangkan kebahagiaan terhadap kesuksesan moralitas itu merupakan kebahagian yang sejati.

"Apakah ada orang renta yang benar-benar sanggup berbahagia mempunyai anak yang sukses secara materi, namun tidak berbakti kepada Tuhan dan orang tuanya?"
Seorang anak yang berbakti kepada Tuhan dan kepada orang tuanya, berarti beliau membuka jalan ke arah kesuksesan yang sejati. Untuk itu, sering-seringlah orang renta menasehati anaknya semoga tidak hanya terpaku untuk mencapai kesuksesan duniawi semata tanpa memperhatikan ketaatan kepada Tuhan dan orang tuannya.

Boleh lah anak anda yang masih ada di dingklik sekolah berilmu di kelas dan meraih rangking pertama di sekolah. Namun, hal itu tidak ada artinya jikalau tidak didasari taat kepada taat kepada Tuhan dan orang tuanya.

Orang renta mempunyai perang yang sangat besar sekali dalam membentuk anak yang taat kepada Tuhan dan orang tua. Kedua ketaatan itu, harus ditanamkan sejak usia dini oleh kedua orang tuanya. Untuk membentuk anak yang taat, tidak cukup hanya dengan mengandalkan sekolah. Sangat diperlukan tugas aktif dari orang tuanya untuk mendidik anaknya.

Selain membekali anak dengan pendidikan formal di sekolah, mereka juga perlu dibekali dengan pendidikan agama secara non formal dan informal baik melalui sekolah diniyah, maupun dengan memperlihatkan pendidikan agama komplemen dengan mendatangkan guru agama ke rumah.

Bisa juga dengan mengirim anak untuk berguru secara khusus kepada seorang ustadz untuk berguru secara sorogan (langsung berhadapan dengan soerang guru) menyerupai halnya di pesantren.

Selain memperlihatkan pendidikan agama secara khusus, orang renta dituntut untuk terlibat secara intensif dalam memperkenalkan aliran agama, melatih menjalankannya dan membimbing hingga anak sanggup bangun diatas kaki sendiri dalam melaksanakan aliran agama. Terutama terhadap pelaksanaan aliran agama sehari-hari menyerupai shalat lima waktu.

Sejak usia tiga tahun, anak sudah diajak untuk melaksanakan shalat berjamaah. Meski shalat subuh hanya satu rakaat, shalat maghrib dua rakat itu tidak mengapa. Yang ditekankan itu supaya anak tahu akan waktu shalat. Namun, seiring dengan semakin bertambah usianya, didiklah untuk melaksanakan shalat sebagaimana mestiya.

Mendidik anak yang taat, suami istri sanggup menyebarkan tugas ketika salah satunya beraktifitas keluar rumah, untuk meluangkan waktu mencurahkan perhatian terhadap mendidik anak. Untuk membentuk huruf anak yang taat, orang renta memegang tugas yang sangat penting.

Jika orang renta tidak sanggup mengajar menyerupai di sekolah, maka harus menjadi pendidik dengan memperlihatkan pola yang baik kepada anaknya. Meski di sekolah sudah diajarkan wacana shalat atau tata cara shalat berjamaah, tapi di rumah tidak pernah ada yang berjamaah atau bahkan tidak ada yang shalat, apakah anak akan melaksanakan shalat? Menyuruh anak untuk shalat tapi orang renta sendiri tidak shalat. Bagaimana berdasarkan anda?

Karena itulah, orang renta harus lebih menjaga anaknya untuk tidak meninggalkan kewajiban kewajiban kepada Allah dan RasulNya, juga kepada orang tua. Sebagaimana Firman Allah SWT:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kau dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan tanggapan (yang baik) itu ialah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaahaa, 132)

Monday, 25 February 2019

Jadi Berilmu Pendidikan Keluarga Lebih Berharga Dari Harta Dan Tahta


Hidup itu pilihan dan setiap pilihan mempunyai konsekuensi tersendiri. Hal inilah yang disadari oleh Amina (28 tahun) dikala dihadapkan pada pilihan antara menjadi perempuan karir atau menjadi ibu yang harus memperlihatkan perhatian 24 jam penuh pada anaknya. Akhirnya, semenjak dikaruniai seorang putra yang diberi nama Zahra (5 bulan) dari pernikahannya dengan Abdullah (38 tahun), ia menentukan memberi perhatian penuh anak daripada karirnya.

"Sejak Zahra lahir, saya tetapkan berhenti bekerja di perusahaan pelayaran. Saya menentukan mendidik anak saya daripada menjadi seorang perempuan karir. Sebab, pendidikan anak itu lebih berharga daripada materi." ungkap Amina.

Lulusan S1 administrasi perbankan di Surabaya ini menentukan berhenti bekerja sesudah menimbang dengan seksama. Jika tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai perempuan karir, ia harus mengorbankan anaknya. Pastilah ia tidak akan sanggup memperlihatkan perhatian, pendidikan dan kasih sayang yang penuh kepada anaknya. Sebab, bila masih tetap bekerja di kantor, ia harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang dikala matahari sudah tenggelam. Tentu saja, dalam keadaan yang demikian, ia harus membuatkan waktu antara kerja di kantor dan waktu untuk anaknya.

Selain itu, bila ia tetap bekerja, maka pada dikala bekerja ia mustahil membawa anaknya ke kantor. Maka ia harus menitipkan anaknya pada orang renta atau pengasuh bayi alasannya ialah suaminya juga sama-sama bekerja. Bila ia tetap bekerja, otomatis ia akan kehilangan waktu yang sangat berharga bersama dengan anaknya sehingga ia tidak sanggup memperlihatkan asupan ekslusif air susu ibu (ASI) secara maksimal. Selain itu, ia akan kehilangan kesempatan untuk mendidik anaknya dalam sekolah ibu (madrasatul ummiyah) sebagai pendidikan pertama bagi seorang anak.

Padahal, dalam sekolah ibu itulah dasar-dasar kepribadian seorang anak akan dibentuk. Apabila pendidikannya diserahkan kepada orang lain, contohnya kepada pengasuh bayi, pembantu ataupun neneknya, maka dasar-dasar kepribadian mereka itulah yang akan tercetak. Lebih ironi lagi bila waktu sang anak lebih banyak dengan pembantu atau pengasuh bayi, maka huruf pembantu dan pengasuh bayi itulah yang akan menempel pada si bayi. Maka tidak mengherankan apabila kepribadian si anak kelak akan sangat jauh dari yang dibutuhkan oleh orang tuanya.

Amina tentu saja tidak ingin cetakan kepribadin orang lain melakat pada huruf anaknya. Dia ingin terjun eksklusif sebagai pendidik bagi anaknya. Dia merasa mempunyai tanggung jawab penuh untuk membentuk dasar-dasar kepribadian anaknya itu. Apalagi, ia punya keinginan besar bahwa anaknya kelak akan menjadi seorang penghafal Al-Quran (hafidz). Untuk mewujudkan keinginan besarnya itu, mustahil bila ia bekerja di luar rumah.

"Saya ingin Zahra menjadi anak yang sehat fisik dan psikologisnya alasannya ialah itu saya akan memberinya ASI selama dua tahun penuh. Selain itu, saya ingin Zahra menjadi seorang hafidz alasannya ialah itu semenjak masih dalam kandungan hingga kini senantiasa saya dengarkan ayat-ayat suci Al-Quran. Untuk kedua hal itu, mustahil sanggup dilakukan apabila saya kerja di luar rumah." kata Amina

Tentu saja, ada konsekuensi yang harus ia tangung dari keputusannya itu. Dia harus rela kehilangan honor bulanan yang selama ini rutin ia dapatkan. Namun, ia tidak merasa rugi dengan kehilangan materi, alasannya ialah merasa ada hal yang jauh lebih berharga dari materi. "Menjadi seorang ibu dan pendidik bagi anak saya di usia emas serta memperlihatkan asupan ekslusif ASI bagi Zahra itu lebih berharga daripada materi." tuturnya.

Keputusannya berhenti bekerja dan secara khusus mencurahkan waktunya untuk mendidik dan memperlihatkan nutrisi khusus berupa ASI bagi Zahra menerima pemberian dari suaminya, Abdullah . Semenjak berhenti bekerja, maka suaminya itulah yang menjadi tulang punggung rumah tangga.

Berikut kutipan perbincangan dengan Amina.

Mengapa lebih menentukan menjadi pendidik bagi anak daripada menjadi perempuan karir?


Banyak alasannya.Pertama, di Al-Quran itu terang diperintahkan bagi perempuan untuk tinggal di rumah semoga tidak bercampur-baur dengan pria yang bukan mahrimnya. Selain itu, perempuan yang tinggal di rumah itu semoga ia sanggup menjega harta suaminya.

Kedua, alasannya ialah saya ingin sanggup menyusui Zahra hingga 2 tahun. Kalau saya bekerja di luar rumah, nyaris mustahil untuk sanggup tepat menyusui anak saya selama 2 tahun.

Ketiga, saya yakin rezeki istri itu ada di suami. Ilustrasinya, jikalau istri bekerja gajinya Rp 5 juta, honor suaminya Rp 5 juta, maka total honor Rp 10 juta. Padahal, kalau istri tidak bekerja, Allah akan tetap memperlihatkan rezeki Rp 10 juta. Jadi, saya yakin, rezeki istri dan anak itu dititipkan Allah melalui suaminya.

Alasan lainnya?

Saya ingin selalu jadi orang pertama yang tahu perkembangan anak, bukan pengasuh atau neneknya. Karena ibu merupakan sekolah pertama untuk anaknya. Makara saya ingin fokus untuk jadi sekolah pertama yang terbaik untuk anak saya.

Apa tidak ada godaan untuk bekerja di luar rumah lagi?


Ada yang pernah menasihati saya untuk kerja lagi. Katanya mumpung masih muda, tapi dengan tegas saya menolak. Saya tidak mau kerja di luar rumah lagi. Karena, ketika bekerja saya paling cuma digaji Rp 5 juta. Tapi, anak saya tidak ternilai harganya.

Apa yg sudah dilakukan untuk mendidik anak semenjak dini?

Saya ingin sekali anak saya menjadi seorang hafidz atau penghafal Al-Quran. Karena itu, mulai dari dalam perut hingga kini sering saya dengarkan Al-Quran. Saya bacakan surat-surat pendek Al-Quran agara terbiasa dengan Al-Quran.

Saya juga mulau mengajarkan sopan santun semenjak dini pada Zahra. Misalnya, kalau mau ke mana-mana saya permisi terlebih dahulu pada anak saya. Bahkan, ke kamar mandi sekali pun, saya permisi pada anak saya. Begitu juga kalau makan, saya nawarin anak saya.

Apa arti penting pendidikan keluarga?


Itu penting sekali dan lebih utama daripada pendidikan formal. Kalau pendidikan formal, untuk sanggup baca tulis, misalnya, bawah umur sanggup berguru sehari selama 2 jam. Begitupula untuk sanggup bahasa Inggris, tinggal kursus 3 bulan lamanya. Tapi untuk urusan pembentukan huruf dan tabiat anak itu dari rumah dasarnya.

Banyak perempuan lebih menentukan karir daripada mendidik anaknya. Tanggapannya?


Setiap pilihan niscaya ada resiko dan konsekuensinya. Banyak saya lihat dari teman-teman kerja dan orang-orang sekitar yang menentukan kerja daripada anaknya. Anaknya diberi susu formula alasannya ialah tidak mau puting susunya sakit. Bayi yang dikasih susu formula cenderung lebih usang kenyangnya. Makara mereka bakal tidur lebih nyenyak. Berbeda kalau bayi yang diberi ASI. Karena ASI lebih gampang dicerna, jadi bayi lebih cepat lapar. Ada yang malas dan tidak mau repot, buat saya itu mereka rugi banget, rugi dunia akhirat.

Mengapa lebih menentukan menyusui sendiri?


Saya menyusui anak saya lillahi ta'ala alasannya ialah ingin menaati perintah Allah untuk menyusui anak hingga 2 tahun. Ibu yang menyusui anaknya itu akan mempunyai ikatan batin yang lebih berpengaruh terhadap anaknya daripada yang tidak menyusui. Orang renta yang tidak mau terjun eksklusif untuk urus anaknya alasannya ialah malas, tidak mau repot, tidak sabaran dan lain-lain. Kemudian mereka mempercayakan anaknya pada pembantu atau neneknya. Coba dikembalikan lagi kepada orang renta ibarat itu, suatu dikala mereka juga bakal tua. Mereka mau berlindung dan akrab ke mana kalau bukan ke anak? Bagaimana perasaan mereka kalau bawah umur gantian tidak mau urusin mereka nanti, terus dititipin ke perawat, panti jompo dan lain-lain.

Apa kelebihan menyusui sendiri?


Saya bersyukur sekali sanggup menyusui dengan lancar, berkah, melimpah, ekonomis secara biaya, sehat, dan banyak kelebihannya. Saya juga gres sanggup informasi kalau bayi yang diberi ASI cenderung akan jadi orang yang berpengaruh dan sehat dikala besarnya nanti. Daya tahan badan mereka lebih berpengaruh dan jarang sakit. Kandungan ASI itu berubah setiap harinya menyesuaikan usia dan perkembangan bayi. Makara kalau ada yang bilang takut anaknya tidak kenyang, takut nutrisinya kurang, itu salah besar.